Kunjungan Pertama

1356 Kata
Sepulangnya Erlangga dari rumah, pembahasan tentangnya kerap menjadi trending topik di setiap pembicaraanku dengan mama. Tidak, tepatnya mama yang sengaja membahas pria itu disetiap kesempatan. Sejak pertemuan kami di pesta ulang tahun tante Rossa, kupikir, Erlangga mungkin memilih mundur karena merasakan sikapku yang tak terlalu antusias. Come on, gadis cantik dengan latar belakang sempurna, tentu bisa dengan mudah ia dapatkan tanpa perlu harus dijodohkan, atau berusaha sekeras itu mengemis perhatian. Nyatanya, aku salah. Kemunculan Erlangga di kampus, sedikit memberi bukti dan membuatku waspada akan nyali besar pria itu dalam mengejar keinginannya. Dan, wacana tentang perjodohan itu, kini kembali muncul dan bergaung, sedikit memekakkan telinga. “Kenapa sih, mama lihat kamu tidak terlalu semangat gitu menghadapi Erlangga? Dia itu suka sama kamu, Dri. Tante Rossa bilang, belum pernah dia melihat anaknya seserius itu mendekati perempuan, kecuali sama kamu!” mama bersungut-sungut kesal. “Lagian, apa kurangnya dia? sudah ganteng, tajir, berpendidikan. Kayak yang sok banget, lho kamu itu kalau sampai menolak dia.” “Hari begini, cowok macam Erlangga itu mutlak kita butuhkan. Kita ini perempuan, Dri. Gunakan waktu emas dan berharga untuk mendapatkan pasangan yang bisa memberikan segalanya untuk kita. Ya materi, ya rupa ….” “Dan nggak usah ngomong tentang cinta. Kenyataannya, rumah-tangga tuh nggak cukup hanya bermodalkan cinta. Beli skinker itu yang dibutuhkan uang, bukan cinta. Nggak usah jauh-jauh skinker, deh. Beli garam saja, nyatanya butuh uang!” Mama membombardirku dengan sejumlah pernyataan yang menurutnya dapat mematahkan alasan yang kupunya. “Sekali kamu bilang iya, Erlangga nggak akan buang waktu lagi untuk melamar kamu. Yang kayak gitu tuh cowok yang serius. Yang ngajaknya ke penghulu, bukan cuma buat main-main.” “Please, deh Ma. Aku cuma mau fokus kuliah dulu. Aku bahkan masih semester enam!” protesku, lelah mendengarkan ocehannya yang selalu saja sama. “Memang kenapa? Mama juga nikah sama papa dulu saat masih kuliah. Nyatanya, mama tetap bisa tamat juga. Bisa pakai toga juga. Kelamaan menunggu, bisa kabur Erlangga mencari yang lain, Dri!” “Ya biarin saja, kenapa sih? Kalau dia udah kebelet nikah, tentu aku bukan pilihan yang tepat. Kecuali dia mau menunggu sampai aku lulus. Itu pun tanpa ada embel-embel pacaran. Aku nggak mau terikat dulu, Ma!” “Kamu itu susah banget sih dibilanginnya! Nggak ada patuh-patuhnya sama orang-tua! Kamu tahu, nggak sih kalau keadaan ekonomi kita tuh sudah nggak kayak dulu lagi? Sebisa mungkin, kamu tuh harusnya berpikir cerdas. Mikir, bagaimana caranya supaya kita bisa tetap hidup enak tanpa kekurangan satu apapun! Ini sudah ada kesempatan di depan mata, kamu sia-siakan begitu saja!” Di antara sesaknya gemuruh hati, aku masih mencoba menampilkan sikap santai. Seperti itulah mama. Tolak ukurnya dalam menilai dan memutuskan sesuatu, tidak akan jauh-jauh dari materi. Tidak cukup memonopoli semua peninggalan papa untukku, ia masih juga berupaya bagaimana caranya agar aku bisa memberi keuntungan bagi dirinya. “Sudah, deh Ma. Itu kita bahas lain kali aja. Aku lupa memberitahu Mama tentang sesuatu.” aku meraih ponsel dan mencari chat yang akan aku tunjukkan pada wanita yang tengah ngedumel itu. Dijamin, moodnya akan berubah seketika. “Apa?” mama masih jutek. “Ini … om Bram tadi chat aku gitu. dia bilang, katanya nanti malam mau kesini.” Aku menyodorkan ponsel pada mama. Tentu saja aku sudah menghapus hampir seluruh chat mesra yang kerap dikirimkan om Bram. Aku hanya meninggalkan chat itu saja, yang kuanggap masih ‘normal’ dan aman untuk ditunjukkan. Om Bram berniat datang nanti malam. Aku mengizinkan asal ia bersedia untuk tetap menjaga rahasia hubungan kami. meski berat, duda keren itu memilih menyetujuinya. Aku hanya ingin membuat harapan mama tentangnya semakin melambung … hingga ketika jatuh nanti, sakitnya juga akan lebih terasa. Jahat? Terserah! “Mana?” mama merebut ponselku dan membaca chat tersebut. [Nanti malam aku ke rumah.] [kasih tahu mama, ya] Seperti dugaanku, wajah mama seketika langsung berseri. Ia mungkin akan curiga sedikit tentang beberapa hal ganjil. Seperti misalnya kenapa aku yang dihubungi, atau kenapa om Bram yang mengistilahkan dirinya ‘aku’ dalam chat tersebut. “Tapi kok om Bram malah nge-chat kamu? Kan bisa dia hubungi mama secara langsung?” Nah kan! “Entahlah, Ma. Tapi tadi waktu om Bram habis chat, aku langsung telpon mama lho. Tapi ponselnya nggak aktif. Mungkin itu juga yang terjadi, sampai om Bram malah ngehubungi aku,” jawabku, apa adanya. Mama tampak berpikir dan kembali sumringah beberapa detik kemudian. “Oh iya! Tadi mama ada meeting sama pihak supplier kain, makanya ponsel di mode pesawat dulu. Tapi kenapa kamu baru ngasih tahunya sekarang, sih? Ini udah jam berapa, coba? Mana cukup waktu mama untuk siap-siap menyediakan suguhan?” wanita itu dalam sekejap berubah panik dan langsung berteriak memanggil bik Yuyun, ART kami. “Pesan makanan online  aja kenapa, sih Ma. Kok repot banget?” Mama mendelik menatapku. “Om Bram itu pernah bilang kalau dia lebih suka masakan rumahan. Pasti dia bisa membandingkanlah, mana masakan jadi dan mana masakan bikinan sendiri.” “Wah … Mama bakal masak, nih?” “Ya enggaklah. Bik Yuyun yang masak. Mama tinggal ngakuin aja kalau itu adalah masakan mama,” jawabnya, nyengir. Ketebak, ma! Akhirnya, masakan rumahan untuk menyambut ‘tamu istimewa’ mama sudah terhidang. Untungnya, bahan mentah yang dibutuhkan, masih tersedia stoknya di kulkas. Untuk camilan dan dessert, mama memilih memesan karena waktu yang terbatas. Saat ini, mama tengah sibuk di kamar. Aku nyaris tertawa membayangkan betapa excitednya mama merias diri secantik mungkin. Mungkin, ia akan pingsan saat itu juga kalau tahu pria yang ia nanti ternyata adalah kekasih anaknya. Tapi tidak, ma. Jangan pingsan dulu. Ini masih terlalu cepat …. Aku sendiri berusaha tampil senatural mungkin. Berbekal foundation, bedak tipis-tipis dan lip tint warna cerah, sudah cukup untukku. Sebuah terusan warna peach dengan bagian pinggang kebawah yang berplisket, menjadi pilihan. Di tambah aksen tali yang diikat dibagian depan perut, kurasa penampilanku nanti akan cukup memikat. Om Bram memang sempat memuji penampilanku saat kami makan malam bersama keluarga dulu. Menurutnya, aku cukup modis dan fashionable. Ia bahkan terus-terang mengatakan lebih suka melihatku dalam balutan dress ketimbang celana jeans. Jadi, tak ada salahnya kalau aku sedikit memanjakan matanya, kan? Bel pintu depan berbunyi. Dari dalam kamarnya, mama berteriak agar siapapun segera membukakan pintu. Karena tampaknya, mama masih belum selesai dengan riasannya. Sekali lagi, aku menatap cermin. Memastikan tak ada yang kurang dengan penampilanku, sebelum keluar kamar menuju pintu depan. Bik Yuyun yang tergopoh menuju pintu, kutahan dan menyuruhnya untuk tetap melanjutkan pekerjaan di dalam. Wanita setengah baya itu menurut tanpa banyak komentar. Tatapan terpana om Bram langsung tertangkap netraku saat pintu kubuka. Pria menawan itu menyunggingkan senyum simpul yang membuatku … sedikit berdebar. “Hallo, cantik.” “Hallo juga, Om ganteng.” “Kok masih pake ‘om’?” protesnya, meski senyum dibibirnya malah makin mengembang mendengarku yang frontal membalas pujian sapanya. “Kan biasanya gitu?” Pria itu bertingkah seolah merajuk, namun dengan tatapan yang tak putus mengunci retinaku. Di mana, coba, kalian temukan duda menggemaskan seperti ini? Aku meraih pergelangan om Bram, membawanya masuk. Kami duduk bersisian di sofa, dan aku membiarkan kala ia merespon dengan menggenggam erat jemariku. “I miss you,” ucapnya, lirih. “Nanti didengar mama.” “Bagus, dong? Please, Dri. Ayo kita terbuka saja. Aku nggak mau mamamu semakin lebih salah paham lagi,” keluhnya. “Not now. Kita udah sepakat, kan?” “Itu keinginan kamu, bukan kesepakatan kita.” Aku tersenyum mendengar rajukannya yang terdengar begitu menggemaskan. Kuberanikan diri menyentuh pipi kanannya dengan punggung jemari. “Kalau Om beneran sayang, bukan hal yang sulit, kan untuk memenuhi permintaan aku?” Lalu, suasana mendadak berubah menjadi romantis. Pria itu balas menyentuh wajahku, dan memberi sedikit elusan di sana. Well … sepertinya aku harus ekstra waspada kalau tak ingin jatuh konyol dalam permainanku sendiri. Aku masih membiarkan kala wajah duda keren itu semakin mendekat. Oke, mungkin aku akan memberi sedikit kelonggaran. Cukup untuk pipi saja, tidak yang lainnya. Dan ketika hembusan nafasnya kurasakan menerpa wajah …. “Assalamualaikum.” Sebuah suara salam yang rasanya kukenal, menghentikan semua. Pintu depan memang tak kututup tadi. Mungkin itu sebabnya sang tamu memilih langsung masuk. Mataku membola melihat kedatangan Erlangga. Di tangannya, tergenggam sebuket bunga mawar merah. Bunga kesukaanku. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN