Saat Bram dan Erlangga bertemu

1905 Kata
Sungguh suatu malam minggu yang membingungkan, sekaligus mendebarkan. Bagaimana mungkin dua orang pria, yang kutahu persis menjadikanku sebagai sasaran tembaknya, harus bertemu berbarengan seperti ini. Di atas itu semua, hatiku juga bertanya-tanya, apakah tadi Erlangga sempat melihat sikap mesra om Bram padaku? Meski kecupan di pipi berakhir gagal, namun posisi duduk kami yang nyaris tanpa jarak, kuyakin akan membuat Erlangga berprasangka akan sesuatu. Meski pria itu tampak bersikap wajar dan ceria—seperti biasa, aku tetap tak berani menjamin dengan apa yang ada dalam hatinya. Terbukti, Erlangga seringkali kupergoki melihat ke arah om Bram dengan sorot tertentu, meski secara tak langsung, mama memberitahunya kalau om Bram adalah kekasihnya. Om Bram sendiri tampak tak nyaman dengan sikap intim mama yang tak henti menempel dan menghujaninya dengan perhatian khusus. Ia sering mengerlingku, seolah protes dengan sikap diamku yang tentu akan membuat mama lebih salah paham lagi. “Jadi, Erlangga ini calon tunangannya Adrianna, Bang. Gimana menurut Abang, cocok kan, mereka?” Om Bram yang tengah meneguk hot green tea-nya, tersedak mendengar penuturan mama. Aku pun tak jauh beda. Kukirimkan sorot protes pada mama, namun reaksi mantan isteri papa itu hanya berpura-pura tak acuh. Sigap, mama menyodorkan tissue pada pria yang masih terbatuk-batuk itu. Ia bahkan tanpa sungkan berusaha membantu melap seputaran bibir om Bram yang basah. Pria itu menolak secara halus, seraya menatapku dengan gelisah. Erlangga sendiri mengerling padaku dengan senyum simpulnya. Sementara, dapat kurasakan tatapan tajam om Bram, seolah menuntut penjelasan atas ucapan mama barusan. Tapii … menurutku, membuat Erlangga tak curiga pada kami, adalah prioritas untuk sementara. Kalau aku menyangkal secara terang-terangan, aku khawatir kalau Erlangga yang tadinya hanya berprasangka, akan berubah seketika menjadi yakin. Dan itu, tak terlalu menguntungkan untukku. Saat ini. “Erlangga ini anak sahabat baik aku, Bang. Waktu acaranya Rossa, dia juga datang. Abang kenal jeng Sherly, kan, isterinya pemilik hotel Century palace sekaligus pengusaha tambang besar di Kalimantan?” Om Bram mengangguk. Ekspresi wajahnya benar-benar terlihat kaku hingga aku merasa betul-betul ingin menghambur memeluk dan menenangkannya. Maksudku, aku ingin sekali menjelaskan bahwa itu semua tak benar. Aku tak ingin ia terpengaruh dengan ucapan ngawur mama, dan bertindak bodoh dengan mengatakan yang sebenarnya tentang kami. “Menurut Abang gimana? Mereka cocok, kan? Serasi, kan?” tampaknya, mama memang tak sepeka itu untuk dapat menebak gestur tak nyaman dari seseorang. “Masih lebih serasi Tante sama Om, kok.” Erlangga menyahut, mengedipkan sebelah matanya padaku. Dan itu, terlihat jelas oleh om Bram. “Kamu bisa aja, deh, Er. Tapi … memang banyak juga sih yang bilang begitu juga.” Mama tersenyum sumringah, melirik pada Om Bram yang tampak sekaku zombie. “Pasti itu, Tan. Tante ini masih cantik banget, lho. Aku dulu malah mengira kalau Adrianna itu adiknya Tante.” Erlangga makin brutal dalam memuji. Tampaknya, ia paham betul bagaimana caranya mendapatkan simpati dan dukungan mama. Receh! Aku meliriknya dengan tatapan sebal. Kulihat mama yang tanpa sungkan berusaha mengaitkan tangannya pada lengan om Bram. Ia tampak kesulitan menolak agresi mesra itu, dan menatapku dengan sorot menyalahkan. “Kita mulai aja makan malamnya, Ma?” aku berusaha mengalihkan situasi, ikut merasa risih dengan cara mama memperlakukan om Bram. Bukan cemburu, sih. Hanya lebih ke perasaan … mual. Bagaimana mungkin seorang wanita bisa semurah itu mengumbar kemesraan pada pria yang statusnya bahkan belum jelas? “Adrianna benar. Karena sepertinya, aku juga tidak bisa terlalu lama. Oma-nya anak-anak mengirim pesan tadi kalau ia akan datang ke rumah.” Om Bram menimpali. “Bagaimana kabar bunda, Bang? Kapan Abang bisa membawaku bertemu dengan beliau? Bunda sehat-sehat saja, kan?” Sumpah, rasanya aku harus lebih menebalkan muka melihat gaya mama yang seperti itu. Apa mama merasa yakin sepenting itu bagi om Bram hingga merasa berhak dipertemukan dengan ‘bunda’? “Bunda sehat-sehat saja, Alhamdulillah. Kapan-kapan, aku pasti akan mempertemukan bunda dengan … kalian.” Jawaban yang sepintas untuk mama, namun matanya terarah padaku. Mama membawa om Bram masuk ke ruang makan, masih dengan memeluk lengan pria itu tanpa risih. Kurasakan sebuah genggaman pada jemari. Aku menatap tajam Erlangga, tak suka dengan perlakuannya. “Bunganya.” Erlangga menyodorkan buket bunga yang dibawanya tadi.    “Ini terlalu berlebihan,” cetusku, datar. “Ini hanya bunga, Dri. Bukan bunga bank,” guraunya, garing. Aku terpaksa menerima seraya menghela nafas. Om Bram sempat menoleh saat aku menerima bunga itu. “Calon papa tiri kamu ganteng juga.” “Selera mama memang setinggi itu,” jawabku, tak acuh. Kami berjalan bersama perlahan, menyusul mama dan om Bram yang beberapa langkah di depan mendahului. “Seperti seleramu?” Aku berhenti melangkah dan mendelik ke arah Erlangga dengan tatapan terganggu. Apakah ini sebuah pertanyaan sindiran? “Tentu saja!” aku memutuskan untuk tak mudah terintimidasi, apapun maksud perkataan Erlangga. Termasuk bila ia … curiga. “Kalau gitu, seharusnya aku adalah pilihan yang paling tepat.” Pria yang bagiku mulai menyebalkan itu tersenyum aneh. Aku memilih untuk tak menanggapinya. Di meja makan, aku menduduki kursi yang tersisa. Mama tentu saja berada di sebelah om Bram yang tampak tak nyaman dengan situasi ini. Berkali ia melirik ke arahku, namun tak begitu kuhiraukan karena sepertinya Erlangga juga terkesan ‘mengamati’ kami. Aku duduk bersisian dengan Erlangga, tepat di hadapan mama. Selama makan, mama tampak begitu total melayani segala kebutuhan om Bram. Dari menyendok nasi, mengambilkan lauk, menuangkan air minum. Dan di setiap aktivitas itu, om Bram pasti melihat padaku. Antara canggung, dan juga kesal karena aku tampak biasa saja melihat kelakuan mama yang seharusnya menjadi bagianku. Terlebih, saat Erlangga juga seolah ikut-ikutan meniru mama. Berkali ia menawariku mengambilkan sesuatu, entah lauk ataukah air minum. Puncaknya, saat ia mengambilkan tissue dan berusaha me-lap sendiri sesuatu yang m*****i pinggir bibirku. “Biar aku saja.” Aku berusaha mengelak, namun terlambat. Pria itu telah sukses melakukan aksinya. Membuatku seketika melirik om Bram yang tampak memerah menahan kesal. Sepertinya, ini lumayan berbahaya. Aku tak yakin bisa membuat om Bram mengendalikan diri bila Erlangga terus memprovokasinya seperti ini. “Aih … sweet banget, sih, Nak Er.” Mama tersenyum simpul melihat sikap tanpa canggung Erlangga itu. Bersamaan dengan itu, aku merasakan sebuah sentuhan di kaki. Seseorang dengan sengaja menyentuh betisku dengan kakinya. Aku reflek menatap kepada om Bram. Tentu saja aku menyangka itu adalah perbuatannya. Mungkin ia merasa perlu menegurku dengan memberi kode semacam itu. “It’s me, Honey.” Erlangga mendekatkan diri ke telingaku dan membisikan kalimat itu. Aku dapat merasakan nada mengejek di dalamnya. s**t! “Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada kamu, Nav. Juga pada kalian semua.” Tiba-tiba saja om Bram bersuara. Ia bahkan telah meletakkan sendok dan garpu dalam posisi menelungkup, pertanda telah selesai makan. Padahal, masih cukup banyak makanan yang tersisa di piringnya. Aku yang terkejut dan sadar dengan apa yang mungkin akan ia sampaikan, seketika mengirimkan tatapan tajam padanya. Berusaha melarang pria itu mengucap apapun untuk saat ini. Pandangan kami bertemu dan aku berusaha meyakinkannya kalau aku serius. Om Bram tampak menghembuskan nafas berat melihatku yang intens mencegah lewat tatapan. “Apa itu, Bang?” mama menatap om Bram dengan penuh antusias. Mungkin, ia mengira kalau pria itu akan mengumumkan semacam lamaran romantis padanya. Kalau saja tak ada Erlangga, aku tentu akan merasa puas sekali. Sayangnya, kehadiran pria itu benar-benar menjadi gangguan yang menjengkelkan. Lihatlah, bukannya aku tak tahu kalau Erlangga sengaja mengamati apapun yang menjadi gerak-gerikku, juga om Bram. Om Bram masih menatapku, seolah tengah melakukan penawaran lewat tatapan matanya. Namun, aku juga tak mau mengalah. Berkali aku menggeleng perlahan, tak peduli meski Erlangga memperhatikan gesturku itu. “Aku … harus pulang. Maaf, tak bisa berlama-lama bersama kalian.” Akhirnya, om Bram mengalah. Dapat kulihat ekspresi wajahnya yang begitu gelap karena kecewa, membuatku sedikit merasa tak tega. “Sebentar lagi, Bang. Makanan Abang bahkan belum dihabiskan.” Mama tampak kecewa. “Aku memang tak terbiasa makan malam terlalu banyak, Nav. Terima kasih. Maaf, boleh aku ke toilet dulu?” “Biar aku tunjukkan, Om.” Aku memutuskan berdiri, karena kebetulan juga sudah selesai makan. Namun sebelum itu, aku melirik pada Erlangga yang menatapku dengan kesal. Alih-alih mengindahkan, aku malah menyendokkan secentong nasi lagi ke atas piringnya. “Tambah, Mas. Jangan sungkan-sungkan. Anggap saja rumah sendiri.” Kuberikan seulas senyum manis dan meminta mama untuk mengambilkan lauk untuknya. Tentu saja aku harus melakukan itu untuk jaga-jaga. Aku hanya khawatir, Erlangga akan berpura-pura juga pergi ke toilet hanya untuk memata-matai kami. Seperti dugaanku, Om Bram memang hanya beralibi saja pergi ke toilet. Tadi itu adalah semacam kode untukku agar mengikutinya, dan aku memahaminya dengan baik. Pria itu menarikku ke samping rumah, beberapa meter dari kamar mandi. Ia mendesakku ke tembok hingga posisi kami berhadapan, nyaris tanpa jarak. “Siapa dia? bukankah pria itu orang yang pernah bersamamu di mobil saat aku akan menjemputmu dulu?” “Ya, memang dia.” “Seingatku, kamu bilang dia hanya teman biasa saja. Lalu, apa maksud semua ini? Kenapa dia datang di malam minggu dan membawakanmu bunga segala?” “Mama memang bermaksud menjodohkan kami. tapi aku menolak.” Aku berusaha tetap tenang di antara tatapan tajamnya yang mengintimidasi. “Sepertinya, dia tak merasa kalau kamu menolaknya.” Alih-alih tersinggung dengan sindiran itu, aku malah menikmati sensasi aneh menghadapi kecemburuannya. Jemariku tertantang untuk bergerilya di sekitar permukaan wajahnya. Merasakan permukaan kasar berbulu yang jujur--- ikut menggelitik hatiku. Pria itu tak merespon sentuhanku, meski tak menolak juga. Sepertinya, om Bram benar-benar tengah merajuk marah, hingga sentuhan tadi tak serta-merta melumerkan hatinya. “Aku kan sudah pernah bilang, apapun yang dia rasakan, itu adalah urusannya sendiri. Kenyataannya, aku memilih Om, kan?” “Kau memilihku, tapi tak mau juga mengakui,” ucapnya pelan, dan dingin. “Ini hanya masalah waktu saja, Om. Please.” “Sampai kapan? Dan kenapa harus seperti itu? Kamu sadar sikap kamu justru makin mempersulit segalanya?” “Sampai aku siap untuk terbuka, Om. Tak hanya pada mama, tapi juga pada semua.” “Kamu malu berhubungan dengan duda berumur sepertiku?” “No, bukan begitu. Ini adalah pertama kalinya aku berhubungan serius dengan seorang pria. Nggak ada hubungannya dengan status Om sama sekali. Lagi pula, Om masih kelihatan sangat keren dan ganteng, kok.” Aku memujinya dan semakin gencar mengelus wajah berjambang itu. “Lalu, kapan itu? Kapan kamu mau jujur pada Navia tentang kita? Kamu lebih suka melihatnya semakin salah paham seperti tadi? Aku bahkan hampir sesak nafas menghadapinya!” “Please, kita bahas ini lain kali. Kita nggak punya banyak waktu. Mereka bakal curiga kalau aku terlalu lama mengantar Om.” Entah kenapa, aku sendiri juga ikutan merajuk. Bukan hanya karena memang waktu yang sempit, tapi aku merasa sedikit kecewa akan sikap dingin om Bram yang mengabaikan sentuhanku tadi. Aku hendak berbalik meninggalkannya saat kurasakan pergelanganku ditarik. Tubuhku seketika berbalik, menghantam d**a om Bram yang langsung menyambut dengan pelukan . Ragaku seolah membeku. Ini pertama kalinya aku berada sedekat ini dengannya, tanpa jarak seinci pun. Ditambah lagi, dapat kurasakan pelukannya yang begitu erat dan posesif. Aku bahkan dapat merasakan panasnya nafas pria itu menerpa pipi. Semua terjadi begitu cepat, tanpa dapat kuhindari. Tidak. Sepertinya, aku memang kesulitan untuk menghindar. Ada sebagian dari hati ini yang tak ingin menolak dan tertantang untuk menikmatinya. Aku hanya mampu terpejam saat kurasakan pria itu menelusuri wajahku dengan ujung hidungnya, hingga berhenti di bibir. Selayaknya pengalaman pertama, aku hanya dapat terkesima kala om Bram melumat bibirku dengan penuh hasrat. Sebelah tangannya memeluk tengkuk, tak membiarkanku menjauh seinci pun. Kubiarkan ia mengeksplorasi kecupannya hingga menjadi lebih dalam dan menuntut. Cukup lama, hingga aku tergerak untuk memberinya respon balasan yang seimbang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN