Aku melihat mama yang tampak sedikit murung di meja makan. Ia hanya sibuk memotong-motong roti dengan malas, tanpa memasukannya ke mulut sama sekali. Kutarik kursi di hadapannya dan mulai meraih mug sereal yang masih mengepulkan uap.
Untuk sarapan, aku memang tak terbiasa menyantap yang berat-berat. Paling hanya sekedar s**u hangat yang bergantian dengan sereal, sesuai mood.
“Kok murung gitu, Ma? Padahal semalam baru dikunjungi sama om Bram.”
Mama mendongak dan menatapku dengan sayu. “Mama jadi bingung sama om Bram, Dri.”
Tuh kaan, sudah kuduga. Ini tak akan jauh-jauh dari om Bram. Tampaknya, mama memang secinta itu padanya. “Bingung kenapa sih, Ma?”
“Kenapa yaa … kok mama merasa dia aneh gitu. Semalam datang hanya untuk terburu-buru pulang. Makanannya bahkan nggak dihabiskan. Dia tuh kayak terpaksa gitu datang ke sini. Padahal kan, mama tidak meminta. Dia sendiri yang mau datang, iya kan?” keluhnya.
Kukira mama tak akan pernah merasa sepeka itu. Tapi lumayanlah, setidaknya masih ada sisi warasnya dalam menilai sesuatu. Terlalu percaya diri tanpa perhitungan, itu hanya akan menjadi boomerang untuk kita. Iya kan?
“Aneh kenapa sih? Biasa saja padahal. Mungkin, dia canggung saja sama tamu lain yang nggak diharapkan datang,” cetusku, tak acuh.
“SIapa? Erlangga? Lah, dia itu kan tamu kamu, Dri. Masa iya om Bram mengira Erlangga datang untuk mama? Lagipula, kan sudah mama jelaskan.”
“Om Bram tuh mungkin maunya berdua saja sama Mama. Makanya, Mama jangan suka nyuruh Erlangga datang, biar kalian punya quality time yang lebih bermakna tanpa gangguan siapapun.” Aku menyelipkan hasutan tipis-tipis. Itu kalau mama terpengaruh, sih.
Mama tampak terdiam. Dugaanku jadi sedikit menguat, kalau dalang dibalik gencarnya Erlangga mendekatiku dan kerap datang di rumah atau di kampus, tak lepas dari hasutan mama. Selain karena keinginan Erlangga sendiri.
“Om Bram itu kan bukan remaja lagi, Ma. Kayaknya, dia tuh lebih suka menghabiskan waktu special di rumah aja.” Aku menahan tawa saat mengucapkan itu. Teringat akan bisikan pria itu semalam usai menciumku, kalau ia bermaksud mengajakku kencan diluar hari ini.
“Menurut kamu gitu? iya juga sih, kelihatannya dia agak nggak suka gitu melihat Erlangga. Mungkin, om Bram merasa terganggu, ya?”
Aku nyaris terbahak mendengar kesimpulan naifnya. Ya ampun, ma. Teruslah bersikap seolah dirimu adalah pusat segala sesuatu, pemeran utama yang tak pernah terkalahkan. Teruslah sepercaya diri itu, hingga nanti mama akan mengerti apa arti shock yang sebenarnya.
Pengamatannya tentang om Bram yang tak begitu suka pada Erlangga memang benar. Hanya saja, alasannya berbeda. Dan itu, bahkan tak ada hubungannya dengan dirimu sama sekali, ma.
“Nah … itu. Mama nggak mau kan om Bram jadi ilfeel dan akhirnya menjauh?” aku menakutinya.
“Ya nggaklah! Tapi kan, kayaknya berlebihan banget kalau hanya itu alasannya?”
“Coba deh Mama ingat-ingat. Mas Er kan sempat memuji Mama kalau Mama tuh awet muda banget, sampai mengira kalau Mama itu kakakku. Mungkin, om Bram sebal mendengarnya. Siapa sih, lelaki yang suka ada lelaki lain memuji wanitanya di depan matanya sendiri?” aku makin mempengaruhinya dengan teori konyol. Mama terdiam dan tampak merenung. Tak lama, ia menyungging seulas senyum simpul.
“Lagian Erlangga ada-ada saja, jujur kok nggak lihat waktu. Ya sudah, lain kali kalau om Bram mau datang ke rumah, kalian kencan di luar aja. Jangan ganggu kami!”
“Nggak akan ada kencan, Ma. Aku belum mau terikat, dan mas Er harus ikut aturan mainku kalau ia memang serius. Aku nggak mau pacaran dan nggak suka dengan kunjungannya kemarin atau kapanpun itu.”
Mungkin, ini adalah kali pertama aku mengungkapkan sesuatu setegas ini. Biasanya, aku tak pernah mau repot berdebat dan cenderung membiarkan mama melakukan apapun yang ia mau. Tapi kurasa, aku harus mulai perlahan merubah caraku sekarang.
“Berkunjung kan bukan berarti harus pacaran! Jangan sekaku itu dong, Dri. Kalian bisa tetap berteman hingga kamu lulus kuliah nanti. Lagi pula, apa salahnya kalau kamu nikah saat masih kuliah? Yang penting, jangan cepat-cepat punya anak, supaya kamu masih bisa bebas melakukan apapun yang kamu mau tanpa ada beban.”
Jawaban yang cukup membuatku tersulut lagi. Jadi, itu alasannya kenapa mama tak pernah mau bersedia memberiku adik? Padahal, papa begitu sangat mendambakannya. Karena hanya akan menjadi beban? Oh ya tentu saja. Seorang Navia puspita yang selalu menjadi bintang di manapun, tak akan mungkin rela mengorbankan tubuhnya berubah melar hanya demi melahirkan keturunan papaku.
“Menikah, artinya siap dengan konsekwensi memiliki anak, Ma. Kita nggak selamanya muda, kan? Suatu saat kita akan menua dan butuh seseorang untuk menjaga dan merawat kita. Pernikahan bukan tempat untuk memperhitungkan untung-rugi. Tapi adalah ibadah mulia yang harus kita jalani dengan sepenuh hati.” aku mengucapkannya dengan bibir yang hampir bergetar.
“Iyaaa … mama kan tidak bilang nggak usah punya anak, tapi di atur saja. Kamu kan bisa contoh mama,” kilahnya, sedikit terlihat heran dengan sikapku yang agak berbeda dari biasanya. Mama mengucapkan kalimat terakhir tanpa ragu sedikitpun. Mungkin, ia mengira kalau aku tak pernah tahu apapun. Mama salah!
Suasana mendadak berubah canggung. Aku terdiam, berusaha menahan gejolak hati yang seolah berlompatan ingin di keluarkan. Mama sendiri sesekali mengerlingku seraya menikmati roti yang sejak tadi hanya diacaknya.
“Kamu mau kemana?” Tanya mama, mungkin baru menyadari penampilanku yang terlalu rapi untuk sekedar leyeh-leyeh di rumah.
“Aku mau ke rumah Chyntia. Mungkin kami akan jalan-jalan entah kemana.”
“Padahal, kamu bisa telpon Erlangga kalau hanya ingin sekedar jalan-jalan.”
“Ma, please!” aku meletakkan mug dengan kasar.
“Oke, oke. terserah kamu saja. Mama ini hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Mana ada ibu yang suka melihat anaknya sengsara?”
“Mama mau rencana kemana hari ini?” aku mengalihkan pembicaraan.
“Tadinya mama nungguin telpon om Bram, tapi sepertinya ponselnya lagi nggak aktif. Mendingan mama langsung ke rumahnya aja, deh,” ucapnya, seolah tanpa sungkan.
“Ya udah. Good luck, Ma.”
Silahkan saja, Ma. Andai mama tahu kalau pria yang akan ia datangi itu tengah menunggu untuk menjemputku di suatu tempat ….
Aku sudah melihat SUV hitam metallicnya dari kejauhan. Sesuai janji kemarin malam, om Bram akan menjemputku di depan sebuah toko bunga yang terletak di dekat gerbang kompleks perumahan.
Kalau mengikuti maunya, pria itu malah ingin secara terang-terangan menjemput di rumah. Ah, pikiran lelaki memang sesimpel itu. Mereka lebih mengedepankan logika ketimbang perasaan. Bagi om Bram, berkonfrontasi dengan mama sejuta kali lebih baik ketimbang menjalani hubungan backsteet seperti ini. Tapi dalam hal ini, aku adalah pemeran utamanya, kan? Tentu saja semua harus berjalan sesuai dengan keinginanku.
Tampaknya, om Bram pun sudah menyadari kedatanganku. Pria yang berpenampilan casual dan terlihat keren maksimal itu terlihat turun dan berjalan memutar menuju pintu di samping kemudi.
“Hai,” sapanya.
“Om sudah lama nunggu?”
“Lumayan, ada sekitar 20 menitan.”
“Padahal aku datang on time, lho. Om jemputnya terlalu cepat.”
“Karena aku sudah nggak sabar pengen ketemu kamu.”
Alamak … pandainya duda satu ini membuatku meleleh. Aku hanya mengulum senyum dan memasuki mobil. Seumur-umur digombal cowok, rasanya kali ini sensasinya agak berbeda sedikit. Ada rasa puas tersendiri mampu membuat pria berpengalaman macam om Bram terlihat seperti remaja yang baru kali ini jatuh cinta.
Usai menutup pintu setelah ia masuk, om Bram tampak meraih sesuatu di kursi belakang. Aku yang mengikuti gerakannya, seketika terpaku melihat suatu benda yang ia ambil dari sana.
“Untuk kamu.” Ia menyodorkan buket mawar warna-warni yang begitu indah terlihat. Gabungan mawar eden yang tampak eksotis, dan mawar double delight merah-putih yang menjadi favoritku.
“Cantiknya ….” Aku meraih buket tersebut dan menciumnya sekilas. Aku memang pecinta berat bunga mawar. Mungkin, karena filosofinya yang kuanggap sesuai dengan karakterku. Memperlakukan bunga mawar harus penuh dengan kelembutan dan kehati-hatian, kalau kau tak ingin tertusuk dengan durinya.
“Kuharap, kamu lebih menyukainya dibanding yang semalam.” Ada sedikit cemburu yang tersirat dari nada suara om Bram. Ia mengungkit bunga pemberian Erlangga semalam yang berakhir teronggok sia-sia di atas meja ruang tengah.
“Tentu aku lebih suka yang Om berikan. Warnanya lebih beragam, cantik banget.”
“Seperti kamu.” Aih, ada ya gitu pria merayu dengan ekspresi agak kaku semacam Om Bram ini. Nggak ada lentur-lenturnya, padahal jam terbang sudah tinggi.
“Setiap warna, melambangkan perasaan aku ke kamu. Yang putih untuk ketulusan, pink dan red untuk rasa cinta aku ke kamu, Adrianna.” Ia menatap dengan pendar yang sanggup membuatku merasa bergidik mendengarnya. Aku merasakan keseriusan yang mendalam dari nada suara pria itu.
“Aku orang keberapa yang Om gombalin seperti itu?” godaku, merusak suasana. Karena apa, sesungguhnya aku pun mulai takut bila harus terseret dalam pesona pria matang itu. Really, om Bram benar-benar berpotensi untuk itu. Cara dan gayanya begitu cool. Merayu, tapi tak terkesan murahan. Pantas mama begitu tergila-gila padanya.
“Kamu sudah tahu jawabannya. Pastinya bukan yang pertama, tapi akan aku pastikan, kamu adalah yang terakhir.” Ucapan romantis jujurnya sungguh membuatku merasa sedikit salah tingkah. Meski masih ambigu, namun aku merasa seolah ada kupu-kupu yang beterbangan di dalam hati. Aliran darah yang cepat dan hangat, menjalari sekujur tubuh hingga aku yakin, pipiku pasti tengah memerah sekarang.
“Jangan sesumbar, Om. Jangan terjebak dengan suasana hingga mudah mengucap rayuan kosong seperti itu.”
Urusan merusak suasana, aku memang jagonya. Meski berdebar, aku masih sanggup berpikir waras untuk tak mudah seterlena itu. Ini laki-laki, lho. Makhluk primitif yang terkenal tak pernah puas dengan hanya satu wanita. Jadi, ucapan semacam tadi harusnya tak perlu dibawa baper, kan?
“Aku serius,” keluhnya, tampak kecewa dengan reaksiku yang mungkin berbeda dari harapannya.
“Iya deh, aku sih percaya aja. Kita mau ke mana ini, Om?” aku mengalihkan pembicaraan yang tampaknya mulai ‘berat’.
“Kita ke rumah aku, ya? Aku pengen ngenalin kamu sama bunda." Aku menelan ludah. Sepertinya, om Bram memang tidak main-main. Dan aku tak terlalu mengharapkan itu untuk saat ini. Karena aku sadar, apa artinya bertemu dengan wanita yang telah melahirkannya itu.
“Apa itu tidak terlalu cepat? Maksudku … kita bahkan baru saja memulai.” Aku mengemukakan alasan dengan terbata. Om Bram tampak intens menatap, seolah ingin menembus apa isi hatiku tentangnya.
“Aku … belum siap. Om akan menjelaskan apa pada mereka? Mereka tidak akan mungkin senaif itu hanya menganggapku sebagai tamu biasa yang sedang berkunjung, kan?”
“Lagi pula … mama bermaksud akan datang ke rumah om siang ini. Nggak lucu, kan kalau kami harus bertengkar di hadapan keluarga Om?” lanjutku lagi, karena melihat sikap diam om Bram yang entah tengah memikirkan apa.
“Sebenarnya, kamu serius atau tidak sama aku, Dri?” tanyanya kemudian. Nada suaranya terdengar datar dan tak bersemangat. Reflek, aku meraih jemarinya dan menggenggam dengan erat. Om Bram meliriknya untuk kemudian menatapku dengan lekat.
“Tentu saja aku serius. Ini … hanya masalah waktu saja.”
“Kenapa aku nggak merasa seperti itu?” ucapan yang diucap dengan tenang, namun cukup menohok hatiku. Apakah om Bram dapat meraba apa yang kurasakan?