Ayo kita Menikah

1838 Kata

Akhirnya, kami memutuskan untuk pergi ke penthouse milik om Bram. Kurasa, pilihan ini masih sedikit lebih aman ketimbang kencan di tempat umum yang siapa saja kemungkinan besar bisa melihat kami. Setelah penolakanku untuk bertemu dengan bundanya, om Bram tak lagi memaksa . Ia juga tak mengajukan alternatif lain sebagai pengganti. Mungkin dalam diamnya, om Bram sadar kalau aku masih enggan untuk terlihat berdua di depan umum. Sebelumnya, kami mampir ke supermarket di daerah senayan, tak jauh dari lokasi penthouse milik om Bram. Aku mengusulkan untuk memasak sendiri makan siang kami nanti dan om Bram menyetujuinya. Sepanjang menyusuri rak supermarket mencari kebutuhan yang diperlukan, aku tanpa sungkan merangkul lengannya. Hitung-hitung sebagai pengobat kekecewaannya tadi. “Kamu nggak mal

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN