Hari sudah beranjak malam kala om Bram mengantarku pulang. Aku mengizinkannya mengantar sampai rumah karena sebelumnya telah mengetahui kalau mama masih berada di luar. Usai mengunjungi rumah om Bram dan hanya berbincang dengan calon mertua versinya, mama langsung ketemuan dengan tante Sherly. Dan artinya, itu akan memakan waktu yang cukup lama. Aku hafal persis itu. “Om mau mampir?” “Kalau saja bukan karena ingin menghindari Navia, aku pasti bakal mampir tanpa harus kamu tawari,” jawabnya, diplomatis. “Mama lagi nggak ada di rumah. Sesudah dari rumah Om tadi, mama langsung janjian sama tante Sherly.” Aku tertawa mendengar kalimat yang berbau rajukan itu. “Dan pastinya dia bakal pulang. Aku benar-benar nggak sanggup lagi bertemu dengan dia dan terus berpura-pura, Dri.” “Aku cuma mint

