Sejenak, aku seolah terkunci, tak tahu harus berbuat apa. Beberapa lama tak bertemu lagi dengan Erlangga, aku merasakan perasaan tak biasa ketika kini harus melihatnya lagi. seketika, aku juga jadi teringat akan kata-kata serupa ancaman yang pernah diucapkannya dulu. Kalimat yang kuharap, hanyalah sekedar ungkapan kekesalan, bukan untuk dijadikan nyata. “Cepet samperin, Dri, sebelum mereka bikin geger kampus hanya gara-gara memperebutkan kamu,” suruh Chyntia, masih sempat-sempatnya sarkas. Memang dasar Chyntia! “Mereka itu dua orang yang terpelajar, nggak akan mungkin berbuat sesuatu hal konyol yang bisa menjatuhkan wibawa diri sendiri.” Aku masih berusaha untuk tenang meski mulai deg-degan kala melihat Erlangga yang berani menunjuk-nunjuk Om Bram saat ia bicara. “Kamu mau nunggu sesuat

