“Apa maksudmu?” Om Bram menatapku dengan kening berkerut. Nada suaranya pun terkesan tak suka dengan kalimat yang kuucap barusan. Aku berusaha melepas cekalannya dengan perlahan. “Hanya kalimat biasa saja. dan memang kenyataannya seperti itu, kan? Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi sebelum segala sesuatunya resmi. Just it.” “Kenapa aku merasa kamu seolah ingin mengatakan sesuatu yang lain? Di setiap kali kamu bertemu lagi dengan lelaki itu, pasti ada sesuatu yang lain dari sikapmu. Bagaimana aku nggak curiga?” Om Bram melayangkan uneg-unegnya. “Tidak ada pengaruhnya sama sekali, Bang. Itu hanya perasaan Abang saja. kalau memang aku ada hati sama dia, kita tak akan pernah bersama seperti ini. Begitu saja logikanya.” Aku mendengus sebal. Kenapa larinya jadi ke Erlangga? “Siapa ta

