Aku masih menunggu di luar dengan perasaan gelisah. Seumur-umur, aku paling takut dengan yang namanya darah. Jangankan melihat langsung adegannya, hanya mendengar kata darah disebut saja, aku bisa merinding karenanya. Saat pernah terjatuh saat main sepeda dan lututku berdarah, aku nyaris saja pingsan karena mengira akan segera mati. Entahlah, bagiku, melihat darah, seperti identik dengan melihat kematian. Padahal hanya luka kecil saja. Dan mama tahu paranoidku itu dengan persis. Aku tak tahu apakah ia melakukan itu mengintimidasiku atau bagaimana, tapi yang jelas, mama bukanlah type-type wanita yang akan melakukan upaya bunuh diri sebagai sebuah solusi. Ia terlalu mencintai kehidupan dengan sangat mendalam, hingga mungkin melupakan satu hal, kalau semua hanya berujung pada kematian. Kami

