Aku menelan ludah. Meski ini bukan lamaran pertama yang disampaikannya, aku merasa kalau kali ini berbeda. Ada keseriusan dengan tingkat maksimum yang terkandung di dalamnya. Aku tahu ini adalah hal yang tak bisa kuhindari. Tapi kalau mau jujur, aku belum ingin sampai ke tahap itu dulu. Tapi mau tak mau, aku harus siap untuk itu. Resiko pekerjaaan, istilah kerennya. Dan lagi, aku juga tak yakin kalau aku masih bisa mengulur waktu lagi. “Kita sudah bahas ini sebelumnya, Om.” Aku menyahut lirih. “Tapi keadaannya sudah berkembang sejauh ini. Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku bukan pria naïf yang bisa terus berpura-pura bodoh untuk tak mengerti maksud dari sikap mamamu. Kau tahu, tidak, kalau itu serasa mencekik leherku?” Om Bram menatapku lekat, menimbulkan sedikit debar aneh di

