Lamaran?

1706 Kata

Saat ini, kami sedang berada dalam private room sebuah café langganan. Aku mendiamkannya sejak tadi. Kalau ada yang harus dibicarakan, biarlah om Bram yang memulainya. Toh, bukankah semua ini berawal dari ulahnya sendiri? Kalau dia menganggap aku semudah itu untuk dipermainkan, Om Bram tentu salah besar. Aku mungkin masih nihil pengalaman, namun aku yakin kalau aku punya prinsip. Aku tahu, dia sering melirikku yang memilih menghadap jendela ketimbang melihat padanya. Beberapa kali juga, aku mendengarnya menghela napas dan membuangnya dengan berat. Mungkin, ia ingin memulai pembicaraan, namun sedikit segan dengan sikap tak acuhku. Aku sendiri tak akan mau berkompromi lagi seandainya saja aku tak membutuhkannya. Alih-alih mau dibawa seperti ini, melihatnya saja pun akan enggan. Pantang bag

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN