Dadaku berdebar kencang melihatnya. Ya, itu memang om Bram, tak salah lagi. Entah apa yang ada dalam pikiran duda keren itu sebenarnya. beberapa hari dia mendiamkanku, bersikap seolah aku bukan apa-apa. Tapi sekarang, secara tiba-tiba dia datang dan parahnya, harus melihat aku bersama Erlangga lagi. Hadeeuh! Kalau mengikuti kata hati, jujur, aku mau turun saat ini juga. Lebih baik aku mengecewakan Erlangga ketimbang membuat salah paham om Bram semakin lebih dalam. Tapii … sisi logisku menghasut agar aku memberi sedikit pelajaran untuk pria itu. Kalau om Bram saja bisa membuatku tak enak pikiran karena sikapnya, bukankah aku juga lebih bisa? Karena seharusnya, yang punya posisi tawar dalam hubungan kami ini adalah aku, kan? Yang harus takut kehilangan itu seharusnya om Bram, bukan aku.

