Aku menatap cowok yang nyaris seperti duplikat Abraham Hafizh itu dengan hati bertanya-tanya. Secara tak terduga semalam, ia mengirimiku pesan dan meminta waktu untuk bertemu. Karena masih dalam suasana ujian, aku menyanggupi asal kami bertemu di siang hari. Batin dan benakku sudah membuat daftar dugaan akan maksudnya ingin bertemu. Aku tahu, ini pasti tak akan jauh bergeser dari persoalan aku dan papanya. kemungkinan besarnya, Zain akan memintaku untuk berhenti dan mundur dari hidup sang papa. Aku tentu saja bisa merasakan perbedaan sikapnya tempo hari itu. Cowok yang hanya berbeda 2 tahun denganku itu dengan jelas mengisyaratkan penolakan meski masih terbungkus etika dengan baik. Dan aku memakluminya. Kalau itu terjadi padaku pun, tentu aku tak akan mudah percaya begitu saja bila ada

