Perlahan Gunfrenta mulai bisa melupakan kesedihannya. Dia juga sudah mulai melatih kekuatannya. Yang semula Gunfrenta tidak ingin makan, nafsu makannya kembali. Wajahnya pun mulai kelihatan ceria. Tienpo merasa itu adalah waktu yang tepat untuk membicarakan surat wasiat ayahnya itu untuknya. Istana tidak boleh kosong pemimpinnya. Harus ada yang segera menggantikan posisi sang Raja. Para rakyat juga turut berbelasungkawa. Mereka merasa sangat kehilangan sosok Dignaka. Sosok raja yang berbudi pekerti luhur, berwibawa, bijaksana, dan tentu saja sosok raja yang bisa menjadi panutan bagi rakyat-rakyatnya. Suatu hari ketika Gunfrenta tengah latihan seorang diri di kamarnya, menggerakkan benda-benda lalu menerbangkannya, Tienpo mengetuk pintu, meminta izin untuk masuk. Setelah dipersilakan, Ti

