EMILY mengerjapkan matanya beberapa kali. Matanya masih berusaha untuk memandang dengan jelas. Lalu setelah semuanya kembali seperti biasa, ia mengedarkan pandangannya dan menemukan Jesse di ambang pintu. "Udah bangun?" Jesse berjalan mendekat dan memegang dahi Emily. Tangannya sangat dingin. Emily mendongak dan menatapi mata Jesse lekat. "Ini jam berapa?" "Jam 8 malem." jawab Jesse sambil menghela napas, “Lo udah tidur daritadi. Badan lo panas, kaki lo memar, pipi lo juga bengkak." Tangan Jesse beralih ke rambut Emily. Lalu, laki-laki itu mengelus rambutnya lembut, seakan Emily adalah hal yang sangat ia sayangi. "Em." Emily yang baru saja menutup matanya kembali menatap Jesse dengan bingung, “Kenapa?" "Gue mau minta sesuatu, boleh?" tanya Jesse. Emily mengernyit bingung. Jelas, i

