JESSE berjalan mantap di koridor rumah sakit dengan perasaan kalut. Mata cokelatnya itu menatap lurus ke depan, seolah tidak ada satu pun hal yang ia takuti di dunia ini. Wajahnya datar, sedangkan bibirnya terkatup sempurna. Mungkin dari luar, ia terlihat sangat seram sekaligus jutek. Tapi sebenarnya, semua ini ia lakukan semata-mata untuk menutupi rasa gugup di dalam hatinya. Jesse ingin mencoba menemui Emily untuk terakhir kali dan membujuknya. Dan kalaupun Emily kembali menolaknya ... maka Jesse tidak memiliki pilihan lain selain pergi menjauh. Ia paham, Emily sedang sakit. Tapi, harus sampai kapan ia bersabar diri? Harus sampai kapan, ia membiarkan dirinya sendiri mati? Harus sampai kapan ia ... hancur bersama perasaan ini? Ia pernah membaca sebuah quotes yang sukses menohok

