Desember, 2014. Siang itu terasa sangat terik dan membakar, membuat semua orang mengipasi dirinya sendiri, berharap bahwa rasa panas yang menyiksa itu bisa berkurang setidaknya sedikit. Di sebuah bangku rumah sakit yang dikelilingi ilalang, ada seorang lelaki yang tengah duduk di sana sambil memandang langit dengan pandangan kosong. Raganya memang berada di sini, tapi pikirannya sudah melayang ke mana-mana. Lelaki yang bernama Tyler itu menghela napas pelan dan menghembuskannya perlahan. Kegiatan itu dilakukannya berulang-ulang, berharap bahwa rasa sesak di dalam hatinya bisa menghilang, meskipun perlahan-lahan. Sayangnya, realita memang tidak pernah seindah ekspetasi. Buktinya, Tyler masih merasa kesepian setiap harinya. Ia masih merasa sesak setiap detiknya. Memikirkan keadaan papany

