Shifa memasuki unit apartemen itu setelah Karim. Pria itu tampak tenang melihat ke arah Shifa, meskipun netranya mengisyaratkan haus akan tubuh gadis kesayangannya itu. Shifa mengunci pintu unit apartemen itu. Karim tidak membuang waktu dan langsung menyudutkan Shifa dengan pintu unit apartemen menahan punggung Shifa. Tanpa ragu, pria itu langsung membuang cadar penutup yang Shifa kenakan dan mencium bibir ranum gadis itu. Ciuman itu penuh dengan nafsu. Shifa bisa merasakan bagaimana Karim haus akan dirinya. Shifa bisa menyadari bahwa Karim sangat menginginkannya. Shifa tidak tahu bagaimana supaya Karim tidak menggila karenanya. “Ciumanmu selalu menyenangkan, Shifa-ku sayang,” lirih Karim setelah melepaskan ciuman mereka. Shifa hanya menatap ke netra Karim, tidak memberikan jawaban untu

