"Ahh, Nata ... yeah, oh s**t. Ahh, lebih cepat," rancu Gina.
Nata tersenyum, ia mempercepat gerakan jarinya. Tak lama kemudian, ia merasakan cairan hangat membasahi tangannya. Ya, Gina mendapatkan pelepasan pertamanya.
"Mau langsung apa foreplay lagi, Na?" tanya Nata.
"Nata, buruan! Masukin aja ... ehm, enak, Nata."
"Hehehe, oke deh."
Nata melepaskan seluruh pakaiannya, ia kini menindih tubuh Gina, dan mengarahkan tangan cewek itu keatas. Nata mengikat tangan Gina dengan ikat pinggangnya.
"Ehm, Nata jangan main kasar ya!" ujar Gina dengan nada manja.
"Gak sayang, gue main aman kok. Gina udah minum obat kan?" tanya Nata memastikan.
"Udah, kan sehari sekali meskipun gak dipake hubungan tapi Gina selalu minum," jawab Gina.
"Bagus."
"Kenapa? Nata males keluar diluar ya?"
"Hehehe, tau aja."
Nata melumat bibir Gina, ia mengulum bibir bagian bawah wanita itu. Sedangkan tangannya sudah meremas p******a yang mulai mengeras milik Gina. Beberapa kali Gina mendesah, sayang bibirnya tertahan oleh ciuman Nata.
Tangan Nata beranjak dari p******a menuju area sensitif cewek itu. Ia menekan k******s Gina, hingga membuat tubuhnya menggeliang. Perlahan satu jari Nata kembali masuk kedalam pusat gairah Gina.
Nata melepaskan ciumannya agar dapat mendengarkan desahan Gina. Benar saja, mulut Gina langsung mengeluarkan suara desahan yang membuat gairah Nata semakin naik.
Tak menyiakan dua gundukan yang menggoda itu. Nata mengulumnya seperti bayi yang sedang menyusu. Sesekali ia menggigit kecil dan membuat Gina terpekik.
"Akh, Nata ... yeah, terus ... ahhh," desah Gina.
"Ehm, ehm," suara kuluman Nata pada p******a cewek itu.
Cukup lama Nata mempermainkan area intim Gina. Membuat Gina frustasi, dan sesekali protes pada cowok didepannya.
"Ahh, Nata ... buruan masukin!"
"Bentar, sayang. Masih belum puas nih," ucap Nata yang melanjutkan kulumannya.
"Ahhh, enak ... lebih dalam, Nata! Ahhh," ujar Gina.
Cewek itu semakin tenggelam dalam kenikmatan persetubuhan panas itu. Matanya terpejam merasakan sentuhan yang Nata buat. Bahkan tangannya mencengkeram seprai diatasnya menahan gejolak yang akan datang.
Tiba-tiba Nata berhenti dari kegiatannya. Hal itu membuat mata Gina terbuka lebar. Ia berdecak kesal dan meminta Nata untuk segera menyelesaikannya.
"Bentar napa, Na! Lu enak udah dapet berkali-kali, nah gue sekali aja belom," protes Nata.
Nata mengambil posisi wajahnya menghadap pada bagian intim kewanitaan Gina. Lidahnya menelusup masuk melalui pintu kewanitaan itu.
"Ahh, enak banget, Nata. Ahhh, iya ... ahh, lebih dalam, Nata!"
Nata tidak menghiraukan ucapan Gina. Ia melanjutkan kegiatan mengaduk liang senggamanya dengan lidah. Menjilat, bergerak keluar masuk, dan sesekali ia menghisapnya. Sensasi-sensasi yang berbeda Gina rasakan dibgian bawahnya.
"Ahh, gue mau keluar. Nata, aaahhhhh," desah Gina saat mendapat pelepasannya lagi.
Nata menghisap hingga habis cairan bening itu. Lalu tubuhnya kini kembali bersiap untuk menindih Gina. Nata bersiap memasukkan kejantanannya kedalam liang senggama Gina. Dengan sekali hentakan, kejantanan itu masuk sepenuhnya.
"Ahh," desah keduanya.
"Oh, s**t! Enak banget, Na. Ahhh, sempit," ujar Nata sembari menutup mata merasakan kejantanannya yang terjepit didalam sana.
"Ahh, Nata. Punya lu gede ya, ahhh enak banget," balas Gina.
Nata menggerakkan pinggulnya, memompa tubuh Gina dengan gerakan yang tak teratur. Mulutnya kembali mengulum p****g p******a cewek itu. Kali ini ia sedikit kasar, membuat Gina sedikit kesakitan. Nata juga meninggalkan bekas kissmark pada bagian d**a Gina.
"Ahh, Na. Enak ... ahhh, sempit."
"Ehm, ahhh, Nata. Ahhh, aahhh," desah Gina.
Keduanya mendesah saling bersahutan. Dengan pinggul Nata yang terus memompa, dan kaki Gina melingkar pada pinggulnya. Beberapa kali Nata menghentakkan miliknya lebih dalam. Hingga menyentuh dinding rahim Gina, membuat cewek itu mendapatkan pelepasannya lagi.
Setelah sepuluh menit berlalu, Nata mencabut miliknya dari dalam sana. Ia membuat Gina menungging, sebelumnya ia melepaskan ikatan pada tangan Gina. Agar cewek itu bisa berpegang pada badan ranjang.
"Pelan-pelan, Nata. Jangan salah masuk ya!" ujar Gina.
"Iya, sayang."
Nata mulai memasukkan kejantanannya, setelah masuk sepenuhnya ia mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur. Tangan Nata memegang pinggang Gina sembari menghentakkan miliknya lebih dalam.
"Ah, ah, ah."
"Oh, s**t! Ahhh, nikmat ... gue ga bisa berhenti, Na."
"Terus, Nata! Enak banget itu," ujar Gina.
Tak menyiakan kesempatan, Nata terus menyerang Gina. Hentakan yang Nata lakukan membuat Gina meringis geli dan nikmat. Meski terasa sedikit perih karena Nata bermain sedikit kasar. Namun, rasa perih itu tertutup dengan rasa nikmat dari kegiatan yang mereka lakukan.
"Nata, ahh ... ahhh, lebih dalam Nata!"
"Oke, sayang."
Cowok iti mempercepat gerakannya, membuatnya semakin cepat mencapai klimaks. Setelah lima belas menit Nata menghujani kewanitaan Gina dengan kejantanannya, kini akhirnya Nata mendapatkan puncaknya.
"Ahh, sayang. Gue mau keluar," ujar Nata mempercepat gerakannya.
"Yeah, Nata. Ahhh, gue juga," jawab Gina.
"Ah, ah, ahhhh."
Sperma Nata memenuhi liang senggama Gina. Tubuh Gina tersungkur karena Nata menindihnya. Puas dengan persetubuhannya, Nata mengeluarkan kejantanannya dari dalam liang itu.
"Aahhh," desah Gina saat Nata mengeluarkan miliknya.
"Enak, Na?" tanya Nata.
"Iya, Nata. Enak banget, kapan-kapan lagi ya?" pinta Gina.
"Oke, sip! Hehehe."
"Capek nih, Gina mau langsung tidur aja!"
"Ya udah, gue pinjem kamar mandi lo ya? Mau mandi terus bantuin Bian dibawah," ujar Nata.
"Iya, pake aja. Gina tidur, bye Nata."
Nata terkekeh melihat temannya itu seperti anak kecil. Meski begitu, Gina sangat memuaskan saat diatas ranjang.
Setelah selesai membersihkan diri, Nata kembali turun menghampiri Bian. Cowok itu datang dengan menyungging senyuman. Hal itu membuat Bian berdecak kesal, pasalnya ia harus bekerja sendiri saat itu.
"Keliatan puas banget lo ma Gina!" celetuk Bian.
Nata terkekeh dan berkata, "Gina mantep cuy, sempit, enak banget pokoknya."
"Dasar otak m***m, siapa yang belum lo naikin! Keknya udha semua ya?"
"Hahaha, Debby yang belom. Susah kalo ama Debby, maunya cuma sama Mika doang."
"Hahaha, dasar!"
"Sini gue bantu, kurang apaan?"
"Lu bales chat di sosmed aja deh, tuh udah numpuk."
"Oke."
Akhirnya mereka mengerjakan tugas masing-masing. Hingga malam tiba, terlihat Bebi yang pulang terlebih dahulu pada pukul dua belas tepat.
"Malem semua," sapa Bebi yang sudah terlihat lelah.
"Malem, Beb! Capek ya? Tidur sana," ujar Bian.
"Iya, Bi. Capek. Bebi bobok dulu ya? Bye ..." sembari melambaikan tangan.
Kedua temannya membalas lambaian itu lalu kembali fokus pada laptop di hadapan mereka.
"Eh, Bi. Ada tante-tante nih, minta ama lu."
"Hah? Mana?"
Nata menunjukkan foto seorang wanita berusia 35 tahun. Ia ingin Bian menemaninya dalam acara pesta di kapal pesiar sebagai kekasihnya. Tak membutuhkan waktu lama untuk meng-iyakan. Bian langsung menghubungi wanita itu dari ponsel pribadinya secara langsung.
"Cie dapet klien nih, cie ... Bian," goda Nata.
"Apaan sih!"
"Hahahaha," tawa Nata lepas karena melihat Bian tengah malu.
Malam itu mereka bekerja hingga menunggu yang lain kembali, sayangnya tak ada yang kembali malam itu. Mika, Eza, dan Debby melayani klien hingga keesokan harinya.