Mika melajukan mobilnya hingga sampai disebuah restoran Jepang. Ia keluar dari mobil dan menghampiri seorang wanita dengan dress ketat tanpa lengan berwarna hitam. Dress itu melekat pada tubuhnya, hingga menampakkan lekuk indahnya. Mika kesulitan menelan salivanya, lelaki itu berusaha untuk tenang menghadapi kliennya.
"Malam," sapa Mika.
"Kamu Mika?" tanya wanita itu.
"Yup, bener banget. Kamu siapa?"
"Alina," jawabnya singkat.
Alina tersenyum, dan melingkarkan tangannya pada lengan Mika. Mereka masuk kedalam restoran, lalu duduk disebuah meja yang sudah disiapkan.
"Bisa cerita kenapa mau putus hubungan sama tunangan?" tanya Mika.
"Pacarku menghamili sahabatku, tapi dia gak mengakuinya, justru menyalahkan sahabatku. Cowok itu tetep kekeh mau nikahin aku, gak mungkin kan aku mau," jelas Alina.
"Udah yakin? Kalo anak yang dikandung sahabat kamu itu anak pacar kamu?"
"Udah, ada beberapa bukti yang memang sangat akurat."
"Oke, disini pasti nanti pacar kamu bakal ngamuk ke kamu dan aku. Dan kamu tahu kan perjanjian di pacar kontrak?"
"Iya aku tahu, udah aku siapin kok. Malam ini aku mau putusin dia, tapi sebelumnya kamu sembunyi aja dulu di mobil. Kamu keluar pas aku chat."
"Oke, aku ke mobil dulu."
Mika beranjak dari sana, cowok itu masuk kedalam mobilnya. Dia melihat seorang cowok dengan setelan kemeja masuk kedalam restoran dan menghampiri Alina. Bisa dipastikan itu adalah tunangannya.
KLING
"Kamu bisa masuk sekarang! Dia lagi marah, aku takut."
Setelah membaca chat dari Alina, Mika buru-buru keluar dari mobilnya. Dan disaat yang tepat, cowok itu hampir saja menampar Alina, jika Mika tak datang tepat pada waktunya.
"Berani ama cewek gue, gue lempar kekandang singa lu!" ancam Mika.
"Oh ini, cowok yang ngerebut cewek gue!" ujarnya.
"Weits, sans bang! Gue kagak ngerebut, tapi ngambil apa yang gue punya. Hati-hati kalo ngomong, typo dikit bisa salah arti tuh."
"Bacot lu!"
Belum sempat cowok itu mendaratkan tinjunya, seorang keamanan mendekati mereka dan menarik cowok itu keluar dari restoran.
Alina cuma bisa nangis melihat kejadian itu. Dia duduk dan menenggelamkan wajahnya diantara tangannya. Mika mendekati Alina dan mengajaknya pergi dari sana. Merek masuk kedalam mobil Mika dan berdiam diri untuk beberapa saat.
"Kamu gak papa?" tanya Mika.
"Gak, aku gapapa kok."
"Udah cukup nangisnya, mending kamu ga usah mikirin cowok b*****t itu lagi!"
"Iya, aku coba buat lupain."
"Udah berapa lama pacaran?"
"Setahun," jawab Alina singkat.
"Mau kemana sekarang?"
"Anterin aku ke Hard Rock," ujar Alina.
"Oke."
Mika melajukan mobilnya menuju Hard Rock Club. Letaknya tak terlalu jauh dari restoran. Mereka turun bersama lalu masuk kedalam sana.
Alina berjalan didepan Mika, dia menuju meja bar dan menyapa temannya disana. Mika hanya mengikuti saja, tanpa banyak bertanya.
"Kamu minum apa?" tanya Alina.
"Hmm, Bombay SR."
Setelah memesan, tak lama kemudin bartender disana menyediakan minuman itu. Mika meminumnya perlahan, seraya menikmati suasana di Club malam itu. Saat itu Mika tak begitu memperdulikan Alina, dia hanya memperhatikan keadaan sekitar dan juga ponselnya yang terus bergetar karen pesan dari Bian.
"Lu dimana, Mik?"
"Hard Rock, nape?"
"Pulang apa kagak?"
"Kagak tau, kliennya mabok keknya."
"Oke."
Setelah selesai membalas pesan Bian, Mika menengok kesampingnya dan melihat Alina yang sudah tersungkur dimeja bar.
"Mati, mabok ni cewek," celetuk Mika.
Mika menggoyangkan tubuh Alina, tetapi tak ada respon. Cewek itu benar-benar mabuk hingga tak sadarkan diri. Akhirnya Mika menggendongnya pergi dari sana.
"Alina, bangun!" seru Mika.
"Ehm," rintih Alina.
"Rumah lo dimana? Gue anterin nih!"
"Gak mau pulang," jawab Alina asal.
Mika menjadi geram, ia melajukan mobilnya dan membawa Alina kesebuah homestay. Dia menggendong Alina hingga sampai dikamar, lalu membaringkan cewek itu diatas ranjang.
"Tahan, Mik. Tahan ... astopilloh, godaan banget ini," gumam Mika yang melihat lekuk tubuh Alina.
Akhirnya Mika memutuskan untuk tidur di sofa yang ada di kamar itu. Sembari memainkan ponselnya, cowok satu itu sesekali mencuri pandang pada Alina yang berada diatas ranjang.
"Cewek emang kalo mabok diem gitu ya? Perasaan Debby kalo mabok suka sange, astaga mulut gue."
Mika menggelengkan kepalanya dengan keras dan memukul dahinya. Ia berusaha menenangkan dirinya agar tidak salah dalam mengambil langkah.
"Tarik napas, buang ... sabar, sabar," gumamnya.
Beberapa menit kemudian, Mika terkejut karena Alina terbangun hendak menuju kamar mandi. Mika menghampiri Alina dan membantunya menuju kamar mandi. Sialnya, belum sampai didalam, Alina sudah memuntahkan makanan yang berada didalam perutnya.
"Yah, muntah. Al, bangun! Aduh, kena baju gue lagi!" gerutu Mika.
Ia kembali merebahkan Alina diatas tempat tidur. Lalu Mika membersihkan kotoran yang baru saja Alina keluarkan dari mulutnya.
"Bangke, awas aja gue kagak dikasih tip. Argh, bauk!"
Mika terlihat kesal malam itu, malam yang membuatnya sangat sial. Selesai membersihkan bagian yang kotor, Mika kembali berbaring disofa. Belum sempat tubuhnya menempel pada badan sofa, Alina terbangun dan mengerang.
"Ehm, ehm," desah Alina.
Mika yang menyadari bahwa Alina sedang b*******h akhirnya mendekati cewek itu. Tangan Mika menyentuh wajah Alina, dan membuat cewek itu membuka mata.
"Eh, sorry. Lu tadi ngigau," ujar Mika beralasan.
"Ehm, Mik. Badan aku panas banget," ucap Alina.
"Ehm, gimana ya? Kalo gue bantuin, entar lu kena biaya tambahan dari Pacar Kontrak," jelas Mika.
"Ahh, gapapa, Mik. Aku bayar kok," ujar Alina.
Mika yang mendengar ucapan Alina tak menyiakan kesempatan itu. Perlahan cowok itu membantu Alina melepaskan pakaiannya, hingga terlihat dua gundukan besar yang begitu menggoda. Mika membelai wajah Alina, hingga turun sampai payudaranya. Diremasnya dengan lembut, Mika memijatnya perlahan dan membuat gairah Alina semakin memuncak.
"Ahhh, iya enak ... terus, ahhh," desah Alina.
Mika membungkam bibir Alina dan melumatnya. Cowok itu sangat menikmati tubuh cewek di hadapannya. Saat lidahnya sedang menyusuri rongga mulut dan bertukar saliva, kedua tangannya meremas dua gundukan kenyal milik Alina.
"Ehm," desah Alina tertahan.
Cewek itu memejamkan matanya merasakan sentuhan-sentuhan yang dilkukan oleh Mika. Tangannya melingkar pada leher Mika, dan sesekali menekan tengkuknya agar ciumannya semakin dalam.
Mika melepaskan pakaian yang dikenakan hingga bertelanjang bulat. Kejantanannya terlihat berdiri tegak siap untuk memanjakan pusat gairah Alina. Tanpa perlu diarahkan, kaki Alina kini melingkar pada pinggang Mika. Memudahkan cowok itu memasukkan kejantanannya.
"Aahhh," desah keduanya.
"Ahhh, Mika ... teruuss, lebih dalam, aaahhh," desah Alina.
Mika memperdalam miliknya hingga membentur dinding rahim Alina. Desahan yang keluar dari bibir Alina, menggema dikamar itu.
"Oh, Al ... sempit, enak banget, aahhh," desah Mika.
Cowok itu mempercepat gerakannya, hingga Alina mendesah panjang tanda pelepasannya yang pertama. Tahu jika Alina sudah mendapatkan orgasmenya, Mika mengeluarkan kejantanannya dari dalam liang itu.
Kini jarinya masuk kedalam dna mengaduk dengan cepat.
"Aahh , ah, ah, Mika ... yeah, aahh enak," desah Alina berkali-kali.
Mika merasa puas dapat membuat kliennya mencapai klimaks berkali-kali, dengan servis yang ia lakukan. Sembari mengaduk liang kewanitaan Alina, mulutnya mengulum puncak d**a cewek itu. Mika menyusu seperti bayi, sesekali ia menggigit karena gemas.
"Akh, Mika ... jangan terlalu keras disana. Aahhh," rancau Alina.
Mika melepaskan kulumannya, ia mengambil posisi setengah berdiri. Kaki Alina dinaikkan keatas bahunya, lalu dengan sekali hentakan, kejantanan Mika kembali memenuhi liang senggama Alina.
"Ahhh, enak banget sih, Al."
Pinggulnya kembali bergerak memompa tubuh Alina. Tangan Mika menarik tangan Alina, hingga penyatuan mereka semakin erat.
"Aahhh, gue mau keluar, Al!" desah Mika yang mencapai klimaks.
"Aku juga, Mika. Aahh, ahhh, ahhhh."
Buru-buru Mika mencabut kejantanannya dan mengeluarkan cairan putih kentalnya diatas perut Alina.
"Aahhhhhh, ahhh," desah Mika.