Eza - 6

1106 Kata
Eza tengah menunggu didepan rumah mewah milik seorang anak pengusaha kaya di Jakarta. Dia akan pergi ke acara prom di salah satu universitas terkemuka dikota itu. Dengan setelan jas berwarna hitam, Eza terlihat mempesona. Apalagi mobil yang ia pakai adalah salah satu mobil dengan merek terkenal didunia. Beberapa menit berlalu, seorang gadis dengan mini dress berwarna putih tanpa lengan keluar dari dalam rumah. Surai panjangnya tertata rapi, dengan warna surai hitam pekat membuatnya terlihat cantik. Tinggi gadis itu kisaran 165cm, dengan heels setinggi tujuh centi membuatnya sejajar dengan Eza. Dia melihat Eza yang sedang memainkan ponselnya dan tak menghiraukan kedatangannya. Perasaan kesal karena di acuhkan membuat gadis itu berdecak. "Cih!" "Owh, kamu sudah siap Nona?" tanya Eza dengan santainya. "Bisa kita pergi sekarang?" tanya gadis itu. "Tentu saja, silakan masuk!" ujar Eza sembari membuka pintu mobil. 'Mobil mahal, pasti sewa nih. Ga mungkin kan menjadi pacar kontrak bisa membuatnya membeli mobil termahal didunia,' batin gadis itu. "Siapa namamu, Nona?" tanya Eza. "Aku Kayla," jawabnya. "Baiklah Nona Kayla, setelah sampai disana dan berbaur dengan teman-teman mu, jangan terkejut dengan sikapku nanti. Dan aku hanya bersikap formal seperti ini disaat sedang berdua saja dengan klien, itu hanya untuk formalitas saja, agar aku terkesan menghargai klienku," jelas Eza. " Baiklah. " "Apakah kamu ingin memamerkanku pada seorang cowok disana?" "Bagaimana kamu tahu?" "Terlihat jelas di wajahmu," ucap Eza. Kayla tertunduk malu, dia tak menyangka bahwa cowok disampingnya akan mengetahui rencananya untuk pamer kepada teman-teman di kampusnya. Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, mereka sampai di aula tempat prom itu diadakan. Eza keluar terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk Kayla. "Jangan canggung padaku, Kay." Seketika jantung Kayla seperti berhenti berdetak untuk sesaat. Dia bahkan tak menyangka jika pacar kontrak yang ia sewa memang sangat sempurna. "Ehm, aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?" tanya Kayla. "Hmm, terserah kamu. Sayang, cinta, baby, babe, hany, sweety ... aku hanya akan mengikuti alur saja," terang Eza. "Baiklah, babe." "Good girl!" Eza menggandeng tangan Kayla untuk masuk kedalam aula. Belum sampai mereka masuk, seorang cewek menyapa Kayla. "Hai kay!" sapa cewek itu. "Hai,Monik!" balas Kayla. Mereka saling berpelukan dan berbincang untuk sesaat. Setelah itu Kayla kembali menggandeng tangan Eza untuk masuk kedalam. Dentuman musik DJ terdengar sangat keras di telinga. Eza yang terbiasa dengan keadaan seperti itu hanya diam tanpa berucap. Hingga ia menyadari seseorang tengah menatap tajam kearahnya. Ya, cowok itu tengah diawasi oleh sekelompok mahasiswa cowok yang berada di sudut aula. "Kay, cowok lu ganteng ... dapet dari mana?" tanya teman Kayla dengan suara sedikit keras karna terganggu oleh musik. "Babe, temen aku mau kenal kamu nih, dia nanyain aku dapet kamu dari mana?" ujar Kayla pada Eza. "Sayang, apa perlu mengumbar semua itu? Cukup kita yang tahu, oke!" jawab Eza. Kayla hanya mengangguk, mereka menikmati lantunan musik itu. Tubuh yang bergoyang seiring irama musik, membuat mereka tak mengetahui seseorang ingin menjebak mereka. "Sayang, kamu lihat cowok disana? Sepertinya dia akan mencari masalah disini, apa kamu yakin untuk tetap berada disini?" tanya Eza. "Jika terjadi keributan, aku yang akan bertanggung jawab. Bisa kau cium aku sekarang?" Tanpa pikir panjang, Eza mencium bibir Kayla. Dia melumat bibir gadis itu dalam waktu beberapa menit. Lalu Eza melepaskan tautan bibirnya. "Terima kasih," ucap Kayla. Gadis itu terlihat tertunduk malu, wajahnya merona terlihat seperti tomat. Eza yang menyadari hal itu tiba-tiba saja berbisik ditelinga Kayla. "Kamu memberikan ciuman pertamamu padaku, apa kamu tak salah?" ujar Eza. Kayla membulatkan kedua matanya, ia bahkan tak pernah mengatakan jika sendirinya baru saja melakukan ciuman pertama. "Jangan terkejut, sayang. Kamu terlalu mudah untuk ditebak," ujar Eza dengan seringaiannya. Kayla tertunduk malu, hampir saja jantungnya berhenti berdetak karena Eza. Cowok itu membuatnya salah tingkah untuk beberapa kali. Namun, Kayla tetap bersikap sebagaimana mestinya. Malam semakin larut, prom sudah berada dipuncak acara. Kali ini musik yang disajikan adalah musik jazz, semua orang disana berdansa dengan pasangan masing-masing. Begitupun Kayla dan Eza yang kini tengah berpelukan menikmati irama musik. Disaat mereka tenfah menikmati kebersamaan yang kurang beberapa jam lagi. Tiba-tiba tubuh Eza ditarik kebelakang, begitupun dengan Kayla. Seorang cowok melayangkan tinju tepat di wajah Eza. BUGH BUGH BUGH "b*****t!" umpat Eza. Pukulan itu memang tak seberapa, karena Eza memiliki ilmu beladiri. "Cih, mainnya keroyokan nih," gumam Eza. "Siapa suruh lo cari gara-gara disini! Kayla itu cuma punya gua! Lu tu jangan sok kegantengan ya!" maki cowok itu. "STOP!" teriak Kayla. Suasana prom berubah menjadi sedikit mencekam. Semua mata menyaksikan pergulatan penuh drama itu. Kayla meneteskan air matanya. Cewek itu membantu Eza untuk berdiri, sayang seseornag menariknya hingga dia terjatuh. Eza yang melihat kejadian itu semakin geram. "Jangan cari gara-gara sama gue, atau kalian bakal dapet akibatnya," ancam Eza. Eza meraih tubuh Kayla yang terjatuh. Dia menggendong Kayla dan berjalan keluar dari aula kampus. Seluruh mahasiswa yang melihat kejadian itu sangat geram, seorang cowok pembuat onar menjadi sasaran amukan para mahasiswa disana. Kayla kini tengah duduk didalam mobil milik Eza. Air matanya terus mengalir tanpa permisi. Eza hanya bisa mendengus kesal melihat cewek disampingnya begitu cengeng. "Udahlah, cowok kek gitu ga perlu lo tangisi!" ujar Eza kesal. "Kok lo ngomongnya jadi kasar sih," protes Kayla. "Hmm, habisnya gue kesel. Bukannya menikmati pesta, malah jafi bonyok muka gue." "Maaf ya, Za." "Ngapain lo yang minta maaf?" "Kan yang mukul lo tadi temen gue. Entar gue bayar biaya perawatan muka lo deh." "Lah kalo itu emang harus bayar lah! S3cara gue disini kan buat kerja dan emang harus dibayar," jelas Eza. "Kok lo lama-lama ngeselin sih, Za! Lo beda banget ama yang tadi awal ketemu!" protes Kayla lagi. "Lah kalo aja tu temen lo kagak bikin gue kesel, ya gue kagak bakalan kek gini lah!" ujar Eza. "Ya kan gue udah minta maaf!" "Yang gue mau, temen lo yang minta maaf! Bukan lo!" Kayla mendengus kesal melihat Eza yang terlihat berbeda secara 360° dari awal mereka bertemu. Satu hal tentang Eza. Cowok satu ini memang sangat baik dan kalem kesemua orang. Hanya saja dia memiliki tabiat buruk jika sudah dibuat kesal atau marah. Seperti sekarang ini. Eza akan berkata kasar pada orang yang melibatkan dirinya dalam masalah. Dan cowok ini akan terus bersikap kasar hingga dia mengahbiskan satu batang rokok. Jadi selama amarah itu belum terslurkan, jangan harap cowok satu ini bersikap lembut lagi. Pada akhirnya Eza mengantarkan Kayla hingga sampai rumah. Dan sebelum Kayla masuk kedalam rumah mewahnya, Eza mengingatkan Kayla untuk membayar sisanya dan juga luka di wajahnya. "Udah aku transfer, lo bisa cek di rekening yang dikasih ke gue." Kayla masuk kedalam rumah setelah mengatakan hal itu. Sedangkan Eza melajukan mobilnya menuju club malam untuk mendinginkan pikirannya. Ia tak mau terlihat kacau didepan Bebi. Karena Eza menaruh hati pada cewek satu itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN