Bian - 7

1036 Kata
Bian tengah berada didalam kapal pesiar, dia sedang disewa oleh seorang janda kaya raya. Meski janda, wanita ini memiliki usia dibawah Bian. Wanita itu berbohong mengenai usianya saat di sosial media. Dia terlalu malu jika ada yang tahu bahwa usianya masih 27 tahun dan dia seorang janda. Wanita itu bernama Merisa Natsution. Mantan istri ke tiga seorang pengusaha kaya yang meninggal karena dibunuh rekan bisnisnya sendiri. Merisa memiliki tinggi 170cm dengan rambut penjang bergelombang, warna matanya cokelat dan dia memiliki darah keturunan Belanda. "Lu ngapain disini, Bi? Ayok masuk!" panggil Merisa. Bian tersenyum dan memilih mengikuti kemauan wanita dihadapannya itu. Didalam sebuah ruangan besar, pesta pernikahan teman Merisa diadakan. Bian memegang segelas wine di tangannya, sedangkan Merisa dengan manja memegang lengan Bian. "Bi, disini kebanyakan temen SMA gue, mereka kagak tau kalo gue udah jadi janda. Taunya gue masih bersuami. Lu bantuin gue ya buat yakinin mereka kalo kita ini pasangan suami istri," pinta Merisa. "Oke, gak masalah kok, Mer." Merisa tersenyum mendengar jawaban Bian. Wanita itu tsesekali mencuri pandang pada lelaki disampingnya. Ya, Bian memang tampan dan mempesona malam ini. Tak hanya Merisa, beberapa pasang mata juga tak mengalihkan pandangannya dari Bian. Meski begitu, Bian hanya bersikap biasa dan santai. Sementara itu, seseorang tengah melihat kearah Merisa dengan tatapan kebencian. Bian selalu mengikuti Merisa kemanapun wanita itu pergi, hingga Merisa merasa sedikit terganggu oleh tingkah Bian. "Lu ngapain sih kok ngikutin gue mulu!" bisik Merisa. "Ada yang mau ngerjain lo, asal lo tau aja." "Ha? Siapa?" "Kalo mau tau, gue pergi sekarang, entar pasti orang itu deketin lo!" "Eh, jangan dong! Gue kagak mau malu didepan banyak orang." "Ya udah, kalo udah kelar mending balik kamar aja." "Belom kelar ihh, gue mau nikmatin minuman disini dulu! Temenin gue ke bar sekarang." "Repot dah sama jendes atu ini!" "Apa lo bilang?" "Ampun nyai ..." Merisa memalingkan wajahnya dan berjalan menuju bar. Sementara Bian mengikutinya dari belakang. Sampai dimeja bar, Merisa memesan beberapa botol minuman. Tentu hal itu membuat Bian membelalakan matanya. Dia sedikit bingung dengan tingkah janda dihadapannya itu. "Kamu gila?" tanya Bian. "Ha? Gak kok! Gue waras tau!" "Terus kenapa pesen minuman sebanyak itu?" "Ya, mau gue minum lah! Emang lo pikir mau gue buat mandi." "Buset dah!" "Temenin gue minum!" "Ogah, gue kagak mau minum malem ini." "Yakin? Yang gue pesen enak semua loh ini." Bian kesulitan menelan salivanya. Lelaki itu terlihat tergoda oleh minuman yang disajikan bartender. Sementara Merisa meminumnya dihadapan Bian. "Kalo mabok terus terjadi sesuatu jangan salahin gue." "Tenang aja! Gue disini bosnya, lu kan gue bayar buat nemenin. Ya udah sih, nurut aja! Lo takut gue perkosa? Yang ada seharusnya gue yang takut lo apa-apain." "Gue merkosa lo kalo lo bayar, kalo kagak? Ya gue ogah merkosa lo!" "Emang bener-bener mata duitan ya lo itu." "Gue lagi mode kerja, Neng Merisa. Kalo mode temen mah, gue kagak kek gini." "Owh, gitu ... ya udah, kalo sampek kita hubungan badan, entar gue bayar kok." "Bagus!" Setelah jawaban singkatnya, Bian tak menyiakan waktu. Dia langsung saja menenggak minuman yang ada diatas meja hingga habis tiga botol. Sedangkan Merisa hanya terkekeh melihat Bian dengan semangat menghabiskan minuman beralkohol itu. "Hik, ya ... gue udah pusing nih, mabok deh!" gumam Merisa. Bian juga tengah tersungkur dimeja bar. Lelaki itu terlihat mabuk berat hingga tak bisa menahan berat tubuhnya. "Bi, ayo balik kamar!" pinta Merisa dengan manja. "Hmm, iya iya, bawel!" Bian mencoba menegakkan tubuhnya. Lalu menggandeng Merisa untuk kembali ke kamar yang sudah disewa oleh Merisa. Sampai dikamar, Bian merebahkan Merisa diatas ranjang. Lalu Bian sendiri akhirnya ikut berbaring disisi lainnya. Mereka tertidur setelah menghabiskan berbotol-botol minuman. *** Paginya, keduanya terbangun secara bersamaan dengan posisi Bian yang memeluk Merisa. "Ehm, pagi," sapa Bian. "Pagi, Bi." Merisa melihat pakaiannya yang sudah terlepas dan entah kemana. Begitupun dengan Bian yang kini sudah bertelanjang sempurna. Keduanya tak mengingat apa yang terjadi semalam dikamar itu. "Kita semalam ... ML, Bi?" tanya Merisa gamblang. "Gue juga kagak inget sih," jawab Bian sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Lah ini, gue telanjang Bian! Lu juga, terus ini bawah gue basah," ujar Merisa memperjelas keadaannya. "Sumpah, gue gak inget, Mer!" bantah Bian. "Hmm, baru kali ini nih ... naena ma laki tapi kagak berasa apa-apa. Gue mau bayar jadi males nih, Bi!" "Ribet amat sih, tinggal naena lagi aja susah amat." "Yeee ... enak di lo dong!" "Sama-sama enak kali, Mer." Bian mendekatkan tubuhnya, lalu melumat bibir Merisa begitu saja. Bagian bawahnya yang menyentuh kulit tubuh Merisa sudah berdiri tegak. Wanita itu hanya bisa pasrah dan menerima service dari Bian. "Ehm," desah Merisa yang tertahan. Bian meremas p******a Merisa yang sedikit mengeras. Dia memainkan p******a itu bagai mainan squish. Hal itu membuat tubuh Merisa menggeliang keenakan. Bian melepaskan ciumannya dan beralih pada puncak d**a milik Merisa. Lelaki itu mengulumnya seperti bayi. Sesekali dia menggigit kecil membuat Merisa terpekik. "Akh, yeah. Bian, ahhh, enakk ... terus, Bi." Tangan Bian kini telah sampai dipintu kewanitaan Merisa. Jarinya menggesek disana, lalu perlahan mulai menelusup masuk. "Ahhhh, lebih dalam, Bian." Bian mengaduk liang senggama Merisa dengan penuh gairah. Bahkan wanita itu telah mencapai pelepasannya yang pertama. Desahan panjang terdengar menggema diruangan itu. Mereka juga tak peduli dengan acara yang tengah berlangsung di kapal pesiar itu. Puas mengaduk liang senggama Merisa. Bian menurunkan posisinya hingga menghadap pintu surga milik wanita itu. Wajah Bian mendekat, dan lidahnya menjulur masuk kedalam sana. "Aahh, enak banget, Bian. Terusss," desah Merisa. Bian tak menyiakan kesempatan itu, dia juga tak ingin jika kliennya mengeluh tentang service yang dilakukannya. Bibir Bian mengulum, bahkan mengoyak bagian intim kewanitaannya. Tak lama kemudian, lagi-lagi Merisa mendapatkan pelepasan. Bian menghisap habis cairan itu. Hingga membuat tubuh Merisa sedikit tersentak. "Kamu siap, Mer?" tanya Bian yang kini sedang melebarkan kaki Merisa. "Masukin, Bian!" Dengan sekali sentakan, kejantanan Bian masuk kedalam liang senggama itu. Pinggulnya mulai bergerak memompa tubuh indah Merisa. "Oh, s**t. Masih sempit banget, Mer." "Ah, ah, ah ... Bian faster, aahhh," desah Merisa. Bian mempercepat tempo gerakannya, membuat p******a Merisa bergerak tak beraturan. Bian menaikkan kaki Merisa dan menjepitnya dengan tangan. Gerakan pinggulnya tak berhenti begitu saja. "Ahhh, yess ... faster, aahhh," desah Merisa yang menggema diruangan itu. Hingga tubuh Bian menegang, lelaki itu akan mendapatkan pelepasannya. Dan desahan panjang pun terdengar dari mulut Bian. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN