Brumm brumm
Deru motor sport merah melaju kencang di jalanan yang sepi. Dibalik helm merah itu adalah gadis siapa lagi kalo bukan Kella.
Pakaian serba hitam. Kella membawa motor sport dengan kecepatan di atas rata rata. Ia seperti mengejar ketertinggalan berita.
Sedangkan di gudang bawah tanah sudah ada Adinda, Alya, Aulia, Syahira, Qailla, Zidan dan Bimo.
Tak lupa dengan Tubir si badan kecil. Ukuran badan Tubir seperti anak kecil yang berusia 6 tahun tetapi umur Tubir sudah menginjak 47 tahun. Tubir memang sedikit i***t tapi dalam hal kejahatan Tubir jangan di remehkan.
Kella pun sampai di depan markas kedua nya setelah markas mafia DEATH nya. Kella membuka helm dengan slow motion. Rambut panjangnya tergerai dengan indah.
Kella menatap tajam pintu markasnya. Pintu markas pun terbuka seletah Kella menatapnya. Kella pun turun dari motornya dan masuk ke dalam markas.
Langkah suara sepatu Kella terdengar mengerikan di telinga mereka. Mereka semua meneguk saliva nya susah payah.
Bergidik ngeri yang mereka rasakan tapi tidak dengan Qailla yang tampak memasang wajahnya normal normal saja.
Tubir pun menaiki punggung Bimo dengan bibir pucat dan tubuh yang gemetar.
"Malaikat maut," cicit Tubir.
Syahira gemetaran melihat Kella, "Kella marah habislah kita."
Langkah kaki Kella sangat tenang. Saking tenangnya membuat mereka ketakutan. Langkah kaki ini adalah langkah kemarahan.
Kella membanting pintu ruangan bawah tanah dengan keras membuat mereka terlonjak kaget. Mereka mengerjapkan matanya berkali kali.
"Tamat riwayat kita," bisik Tubir di telinga Bimo.
Kella berdiri di depan meja sedangkan mereka berdiri di sebrang meja juga. Kella menatap tajam satu persatu anggota nya.
"Turun!" ucap Kella tajam kepada Tubir.
Tubir pun turun dengan tangan gemetar. Ia berdiri di depan tetapi wajahnya terhalang meja. Zidan mengangkat Tubir dan mendudukkan Tubir di atas meja.
"Jelaskan," titah Kella.
Kella membalikkan badannya dan duduk di meja dengan tangan ia lipat di depan d**a.
"King Shedrik tertangkap polisi. Karna taktik yang dipakai Shedrik salah. Saya bisa lepas dari kejaran polisi karna saya bisa bersembunyi dimana saja. Tubuh saya kecil. Saya sangat suka bermain sama polisi jika s......"
"STOP! Saya tidak minta penjelasan tentang diri kamu Tubir!"
Kella menatap tajam Tubir membuar nyali Tubir menciut. Kella memikirkan cara agar bisa membebaskan Shedrik.
BRAKK
"Eh mak gue jualan BH. Eh salah bapak gue. Eh emmppfthh," latah Tubir langsung si bekap oleh Zidan dengan tangannya.
"Lo latah lo mati," Bisik zidan. Tubir langsung mengangguk dengan cepat.
Zidan pun melepas bekapan tangannya. Qailla pun melangkah maju ke hadapan Kella.
"Perjanjian dengan polisi sudah terjadi. Sekarang kita akan melakukan pergerakan perampokan bank megado setelah membebaskan shedrik dari penjara. Perjanjian kita dengan polisi hanya sebatas mafia saja. Polisi bekerja sama dengan mafia kita. Dia tidak tahu di balik mafia kita ada rencana kejahatan yang besar," jelas Qailla.
Kella mengangguk ngerti. Kella berbalik dan menghadap mereka kembali.
"Aulia, lacak pergerakan polisi. Alya dan Syahira cari informasi di kantor polisi. Qailla dan Adinda cari denah lokasi bank megado jangan lupakan jalan keluarnya dan jalan tikus. Bimo dan Zidan intai di sekitar bank megado."
Kella berbalik dan pergi mereka bernapas lega. Kella memberhentikan langkahnya ketika di depan pintu dan berbalik badan lagi.
"Tubir, siapkan senapan. Sabtu atau minggu Shedrik akan bebas."
"Siap king," Tubir berdiri tegap dan hormat kepada Kella.
Kella pun pergi dari markas. Mereka semua bernapas lega. Seperkian waktu mereka menjadi sangat tegang. Setiap ucapan Kella bagaikan api yang menghantam mereka.
Setiap nama mereka di sebut mereka kaget dan panas dingin. Hanya perkataan saja bisa membuat mereka seperti robot.
"Gila jantung gue hampir copot," Zidan memegangi dadanya yang detak tak karuan.
"Mau mati kali tapi nggak jadi," sahut Adinda.
"Mana ada g****k!" bantah Zidan.
"Hah gue serasa jadi robot," Alya merebahkan dirinya di sofa.
"Apalagi gue. Setiap perkataan kella adalah omongan malaikat maut coba," sahut Aulia.
"Sumpah tatapan Kella kayak mau makan orang arrghh," Syahira berucap sambil mengaum seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
"Lebay lo," kata Qailla yang santai dengan ponselnya. Hanya Qailla yang tidak takut sama Kella. Mungkin karna namanya hampir sama kali.
"Gue pergi cari senapan dulu," pamit Tubir.
Tubir pun meloncat menuruni meja. Ia pergi keluar di temani beberapa bodyguard. Mereka semua pun hanya bisa diam.
Setelah lama berdiam mereka pergi kembali ke markas DEATH. Setiap kali bertemu Kella adalah pertemuan mereka dengan sang malaikat mautnya.
* * * *
Kella masuk ke dalam rumahnya. Typo maksudnya masuk ke dalam rumah lewat jendela kamarnya.
Kalo masuk lewat pintu depan yang ada mati di tempat dia. Bagaimana tidak mati di tempat sang Ayah sudah menunggu dirinya dengan senapan andalan di tangan Ayahnya.
Kella benar benar di ambang kematian kalo lewat depan. Mati hidup sudah di tangan Ayahnya.
Kella pun bisa masuk ke dalam kamarnya. Ia tidak tahu kalo di kamarnya ini ada orang lain juga selain dirinya.
"Mati kamu di bunuh Ayah," ucap Marsya membuat Kella kaget setengah mati.
Diluar nyeremin tapi di rumah takut sama ayahnya. Inilah Kella yang sesungguhnya. Kella memang nyeremin di luar.
Kella mengelus dadanya. Ia menatap tajam Marsya. Marsya takut tentu tidak. Marsya malah menantang Kella.
"Natap gue kayak gitu. Gue aduin ke paman kalo lo keluar buat ketemu teman penjahat lo," nyolot Marsya.
What the f**k! Marsya tau itu semua. Kella saja sampai menganga lebar mendengar ucapan marsya.
"Kok lo bisa tau?" tanya Kella.
"Iyalah apa yang nggak gue tau tentang lo. Semua tentang lo gue tau. Wajar gue tau."
"Elo kok ngomong nya nggak pakai aku kamu lagi."
"Sekarang gue mau ngerubah diri gue. Rumah ini nggak ada suasana sama sekali. Anggap aja kita kayak pertama ketemu. Ubah cara bicara lo gue aja. Biar damai. Kalo lagi lembut gue pakai aku kamu ke elo. Tergantung apa yang gue mau."
Kella tak mendengar ocehan Marsya. Ia mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur dan menyimpan pakaian yang ia pakai tadi di koper.
Kella pun duduk di sebelah Marsya yang berbaring di kasurnya.
"Gitu dong panggilan kita sekarang resmi lo gue ya."
Kella menyodorkan tangannya untuk berjabat dengan Marsya. Marsya pun menjabat tangan Kella.
"Deal," Mereka pun tertawa.
"Gitu dong ketawa. Jangan dingin kayak kemarin kemarin. Jangan kaku juga. Kayak gini kan lebih akrab aja gitu."
"Iya iya."
Kella mengangguk pasrah dengan senyuman merekah di bibirnya. Marsya saja sampai terpanah dengan Kella tapi marsya masih normal suka sama yang berbatang. Jangan ambigu.
"Udah sana keluar. Gue mau tidur."
Kella menarik paksa Marsya agar keluar dari kamarnya. Marsya dengan malas pun keluar dari kamar Kella dengan bantuan seretan dari Kella.
Kella menutup dan mengunci kamarnya setelah itu ia merebahkan dirinya di kasur dan terlelap tidur.