Kella 6

1025 Kata
Tampak Kella mendengus sebal. Bagaimana tidak ia sudah menolak mentah mentah agar tidak ikut ke acara sang Ayahnya. Tetapi Ayahnya sangat memaksa sekali. Terpaksa Kella ikut. Sekarang dirinya sedang bercermin. Kella memakai baju panjang selutut dan celana yang senada dengan bajunya tak lupa selendang yang ia kenakan di lehernya. Seperti pakaian india. Kella memakai baju warna merah muda. Kella pun turun dan melihat sang Ayah yang gagah dengan pakaian TNI nya. Ia tak sama sekali tersenyum karna Marsya di bawah melihatnya dan tersenyum ke arahnya. "Sudah siap sayang?" tanya Sergio sambil mengelus kepala anaknya. Kella hanya diam saja. Marsya pun ikut berdiri di samping Sergio. "Jika aku bersanding dengan Ayahmu maka aku cocok menjadi Ibumu bukan?" Goda marsya. "Tidak! Kamu hanya boleh jadi kakakku!" jawab Kella dengan cepat. "Akhirnya kamu mau juga berbicara dengan kakakmu ini," lega Marsya. "Jangan membekap mulutmu. Keluarkan apa yang ingin kamu katakan. Anggap apa yang di masa lalu sebagai cobaan terberat yang kamu rasakan. Disini kakak akan selalu ada di samping kamu kapanpun itu. Jadi kakak mohon jangan bersedih lagi," "Maaf karna tidak mau bicara sama kakak," Kella memeluk Marsya. Awalnya Marsya terkejut akhirnya Marsya membalas pelukan Kella. Sergio tersenyum ia mengelus kepala kedua putrinya. Biarpun Marsya anak Kakaknya ia menganggap Marsya seperti anaknya. Marsya sudah tidak punya orangtua lagi semenjak ia menginjak smp pertamanya. Ia tinggal bersama bi Sumi dan mengharapkan kiriman uang dari Sergio. Memang sangat kelam cerita mereka satu persatu. Jika di buka kedoknya maka sangat menyedihkan. "Ayo anak anak ayah kita pergi," Ajak sergio. "Ayo ayah." "Ayo paman." Mereka pun tertawa. Kella tertawa membuat Marsya pangling. Di balik wajah datarnya dan sangarnya Kella memiliki senyuman manis membuat siapa saja diabetes melihat dirinya. Sergio duduk di depan bersama sang sopir sedangkan Marsya dan Kella bergurau di belakang. "Pakaian kita seperti orang india," ujar Marsya. "Iya kak. Cocok kita jadi orang india. Pasti banyak yang suka." * * * * Alby dan Aura sudah sampai di pesta pengangkatan jabatan teman Papa nya. Pestanya sangat menyenangkan. Pesta berada di pantai. Banyak sekali yang memakai pakaian TNI dari angkatan laut, darat, hingga udara pun ada. Tampak Alby dan Mama nya berbicara dengan rekan Papa nya dulu. Alby pun pamit kepada mamanya. Ia menyendiri menjauhi pesta. Ia sangat merindukan Papa nya. Ia sudah menyuruh Mama nya menikah saja agar bahagia. Tetapi Mama nya tidak mau. Alby sangat merindukan sang Papa. Alby berdiri di pantai menjauhi pesta. Ia menarik napasnya panjang. Sergio dan kedua putrinya sudah datang. Tampak Sergio bergurau dengan rekan kerja nya. Hingga ia melihat wanita paruh baya yang tak asing baginya. "Auralia kan?" tanya Sergio membuat Aura menoleh dan menjabat tangan Sergio. "Iya. Apa kabar. Udah lama nggak ketemu." "Hahaha dulu kamu dan istri saya sahabatan dan saya sahabatan dengan suami kamu. Tapi allah lebih sayang sama mereka berdua." "Haha iya. Benar kata kamu. Gimana anak kamu trauma nya?" "Dia ada disini kok." "Kella. Marsya," panggil Sergio. Kella dan Marsya yang sedang mencari makan pun berhenti dan menghampiri ayahnya. "Kenalin tante aura," Kella tidak tersenyum ke arah Aura hanya Marsya saja. "Marsya," Marsya menjabat tangan Aura. Kella hanya memandangi Aura. "Dulu waktu main ke rumah kamu. Kella, ceria banget ya. Sekarang lebih pendiam," Kata Aura. "Memang begini bentuknya hahaha," Sergio tertawa. "Kella tante," Kella pun tersenyum dan menjabat tangan Aura membuat Aura pun tersenyum senang. "Anak kamu mana?" Tanya sergio. "Dia pergi tadi nggak tau kemana," jawab Aura. Mereka pun berbicara banyak dan tertawa. Aura dan Mutia adalah sahabat dari sma. Sama dengan Sergio dan papa nya Alby sahabat dari sma juga. Kella pun pamit pergi. Ia melihat acara akan dimulai. Yaitu acara pengucapan selamat atas jabatan. Angin berhembus kencang di pantai membuat rambut Kella bertebrangan. Suasana semakin syahdu dan sejuk tampak sangat meriah di pesta. Selendang Kella yang berada di leher terbang mengikuti angin. Kella tampak mengejar selendang merah muda nya yang terbang. Ia tertawa sambil mengejar selendangnya. Entah mengapa suasana hatinya sangat menyenangkan hingga selendangnya mengenai wajah seseorang. Kella pun berhenti tepat di depan seseorang yang mengenai selendangnya. Selendang miliknya menutupi wajah orang itu. Kella pun mengambil selendangnya. Matanya sangat sembab sekali. Kella semakin menarik selendangnya ternyata ia adalah Alby. Kella heran melihat Alby. Ia tahu di sekolah Alby sangat ceria tetapi disini wajah Alby sangat murung matanya sembab. Air mata Alby mengalir kembali. Alby menghapus air matanya. Ia memandangi Kella lekat. Kella tampak terpanah dengan wajah tampan Alby. Bagaimana tidak tampan Alby mengenai pakaian TNI angkatan darat yang membuat Alby sangat gagah. "Hahaha gue nggak nangis kok. Cuman kelilipan pasir doang ini. Gue nggak bohong," ucap Alby dengan mengangkat jarinya membentuk V. "Nggak nanya," ketus Kella. "Gue nya baperan banget. Pengen di tanya sama lo. Ternyata salah," tampak Alby menghela napasnya panjang. Drrtt drrtt drrtt Kella merasa ponselnya berbunyi. Ia membenarkan selendangnya dan merogoh ponselnya. Ia menjauh dari Alby. "King! Shedrik tertangkap oleh polisi karna melakukan perampokan besar di bank jakarta. Sekarang Shedrik di proses hukum dan di penjara seumur hidup" "Bodoh!" "Maaf king yang bodoh Shedrik kan bukan saya. Saya menyampaikan pesan Shedrik agar membebaskan dirinya lagi." "Sabtu minggu." "hah. Ma..." Tut tut tut Kella pun pergi namun tangannya di tahan oleh Alby. "Mau kemana sayang. Disini saja bersama ku temani aku," goda Alby. "Lepas!" "Kalo tidak? Bagaimana?" Kella pun menghempaskan tangan Alby kasar dan pergi dari pesta itu setelah mengirim pesan ke marsya. * * * * Tring! Kella Kak. Gue pulang duluan. Ada urusan mendadak bentar. Marsya membaca pesan yang dikirimkan kella. Ia mendengus sebal. "Kak marsya" Panggil Alby. Marsya pun menoleh. "Wah alby. Ganteng banget lo pakai baju TNI," puji Marsya. "Udah lama nggak kerumah semenjak pindah." "Iya nih. Gue ketemu milya cuman di kampus aja. Jadwal lagi padat banget biasa lah orang penting." "Sok sok an lo jadi orang penting. Emang lo presiden." "Mau nya gitu. Tunggu gue di periode berikutnya jadi pemimpin negara." "Cih, ngga bakalan ada yang mau milih lo." Marsya mendengus sebal. Ia memukuli Alby. Alby mencoba menghindari pukulan Marsya. Ia dan Marsya sama seperti ia dan kakaknya Milya. Marsya sudah lama tidak main ke rumah Milya semenjak kejadian Papa dan Mama nya meninggal karna sebuah kecelakaan juga. Maka dari itu Marsya dan Milya jarang ketemu. Mereka juga baru baru ini ketemu karna Marsya pindah kuliah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN