Kella 5

1169 Kata
Semua keceriaan dan kebahagian adalah palsu semata. Banyak menyimpan luka banyak menyimpan kesedihan dan mencoba tegar agar terlihat baik baik saja Itulah aku. -Amiliya cirrilo Kella berjalan mengikuti kepala sekolah bu Yulih. Bu Yulih sampe geleng geleng kepala karna Kella tidak mau bicara. Bu Yulih pun menelepon Marsya dan berakhir Marsya lah yang berbicara dengan bu Yulih di telepon. Bu Yulih pun membawa Kella masuk ke kelas XI IPS 3. Kelas yang diam kini riuh kedatangan murid baru. Wajah datar aja cantik apalagi senyum. Banyak kaum adam terang terangan menggoda Kella. Kella hanya memberikan ekspresi datarnya saja. "Murid baru bu," ucap bu Yulih kepada bu Sasi kirana. Bu Sasi pun mengangguk. Bu Yulih keluar dari kelas. "Silahkan perkenalkan nama kamu," Bu Sasi mempersilahkan Kella memperkenalkan diri. Tampak Kella terdiam di depan dengan memandangi semua murid kelas barunya ini. Murid pun begitu juga memandangi Kella yang kebingungan. Bu Sasi tampak bingung dengan Kella. Kella pun mengambil spidol di meja guru dan menulis namanya SAQEULLA RAWNIE. KELLA. "Dia bisu ya nggak bisa bicara." "Cantik cantik kok bisu si masuk sekolah elit lagi." "Ish ngga banget deh." "Nggak mau ngomong kali dianya." Kella tidak menanggapi omongan mereka. Kella hanya diam saja di depan. "Anak baru yang tadi kan?" Tanya Laily kepada Nisa. Nisa mengangguk dan memandangi Kella. "Wah masuk kelas kita nih." "Yasudah silahkan duduk di sebelah Handefy. Handefy angkat tangan kamu" Handefy pun mengangkat tangan. Tanpa banyak bicara Kella pun berjalan. Maurel pun tak tinggal diam ia memanjangkan kakinya agar Kella terjatuh. Kella tak terjatuh malah menginjak kaki Maurel dengan sekali hentakan. Hentakan kaki Kella membuat seisi kelas memandangi Kella. Kella menetap tajam maurel setelah itu ia duduk di samping Handefy. "Awww gila tuh anak," kesal Maurel sambil menggosok gosokkan kakinya. Handefy tersenyum ke arah Kella. Kella tak membalas senyuman Handefy malah menatap kedepan dan mengeluarkan bukunya. Handefy tak mempersalahkan itu. * * * * Kella keluar dari toilet tadi ia minta izin ke toilet. Izin sepertinya tidak Kella malah nyelonong pergi saja tak memperdulikan teriakan bu sasi membuat seisi kelas terkejut bagaimana tidak. Bu Sasi guru killer dan tidak ada yang berani melawan bu Sasi kecuali Handefy dkk dan Amel dkk serta alby dkk. Kella membenarkan roknya di koridor sekolah. Ia mengibas ngibaskan rok nya. Kella kembali berjalan lurus dan dari arah jauh tampak ada 4 anak laki laki yang berjalan ke arahnya. Kella yang berjalan pun di hadang oleh ke empat laki laki itu. Salah satunya ia kenal laki laki itu. Salah apa gue dari pertama masuk sampai sekarang di hadang mulu dah. Teroris kali gue batin kella. "Lo cewek di bandara itu kan?" Tunjuk salah satu cowok itu. Kella hanya memandanginya saja. "Kenalin gue Alby Cirrilo. Anak mama Auralia cirrilo paling kece se sosmed nya yang hobi banget ngereview makanan. Gue Alby cowok paling ganteng dan paling digemari kaum cewek cantik kayak lo," Alby menyodorkan tangannya ingin bersalaman dengan Kella. Namun, Kella hanya memperhatikan tangan Alby saja. Alby pun menarik tangannya lagi. "Gapapa lo ngga mau jabat tangan gue. Kalo kita ketemu lagi berarti fix lo jodoh gue yang dikirim papa." "Kenalin gue Gilang pratista cowok paling ganteng di sekolahan ini," Kella tak menjabat tangan Gilang. "Jovan nicholas sang pangeran di bima sakti kalo naksir sama gue gapapa kok. Gue udah biasa di taksir cewek cewek," pedenya dengan membenarkan jambul unta nya. "Kenan lucius" Kenan tidak terlalu tertarik dengan cewek manapun kecuali Handefy. Ciee Ciee tipe tipe setia nih. "Lo bisu ya ngga bisa bicara?" Tanya Gilang. Kella pun mendorong Alby dan Gilang yang menghadang jalannya. Alby dan Gilang sedikit terhuyung kebelakang. Kella hanya memutar bola matanya malas. "Gila tenaga tuh cewek" Gilang sampai geleng geleng. "Menarik" Alby menarik kedua sudut bibirnya. * * * * "ASSALAMUALAIKUM PENGHUNI RUMAH. BABANG ALBY PULANG!!!" Bugh Lemparan bantal sofa tepat mengenai wajah tampan Alby. Sang pelaku tampak mengerlingkan matanya. Alby pun berjalan ke arah sang pelaku dan kembali melepar bantal sofa. "Apa lo ngeliatin gue! Mau mati!" Amiliya cirrilo kakak Alby sekaligus teman kampus Marsya. "Yee baperan amat. Gue ngelihatin jerawat lo yang tumbuh subur di pipi lo!" ketus Alby. "Bapak lo jualan belimbing! Gue ngga punya jerawat!" Milya memukul Alby dengan bantal sofa membuat Alby menyiapkan tangannya untuk menghindari serangan dari sang kakak. Milya memiliki wajah yang cantik dan mulus ia sangat merawat dirinya. "Aduh aduh ampun Milya ampun!" Alby mencoba menghindari serangan dari sang kakak. "Lo ngga ada sopan sopannya sama gue hah! Panggil gue kakak!" "Aduh aduh iya kak milya ampunnn!" "KENAPA BERANTEM!" teriak Auralia sang mama. Milya pun berhenti memukul adiknya dan menoleh ke sang mama. Alby dan Milya mengerjapkan matanya berkali kali. Ia sangat aneh melihat mamanya memakai pakaian anak remaja. Kaos yang bertulis supreme warna putih, sepatu sneakers, celana robek di bagian lutut, kacamata hitam bertengger di hidung, dan tas sosialita. "Emak gua apa bukan ya?" Gumam Alby. "Jakarta gelap," kata Milya dengan cepat Alby mengangguk membenarkan perkataan milya. "AURALIA! Anak lo udah besar semua! Ingat umur!" teriak Milya. "Kenapa harus manggil nammppffttt," Mulut Alby di bekap Milya menggunakan tangannya. "Milya anak ku sayang. Ini penampilan Auralia yang baru," Aura merentangkan tangannya menunjukkan gayanya kepada kedua anaknya. "Wah ini baru mama nya Alby. Kerennn," bangga Alby membuat Aura tersenyum. "Mama apaan! Aura mau kemana?" Tanya milya kepada mamanya. Milya memang memanggil mama gaul nya dengan nama. "Gue mau shopping karna ntar malam ada pertemuan rekan TNI papa lo dulu. Jadi kalian berdua harus ikut!" "Nggak! Lo aja sama Alby yang pergi. Ogah gue!" tolak Milya mentah dengan melipat tangannya di depan d**a. "Tenang aja mama. Mama harus dandan cantik cantik. Biar Alby pakai baju papa. Kita gandengan tangan biar kayak orang pacaran iya engga. Kan mama masih muda cantik lagi," Goda Alby membuat Aura tersipu malu. ADA EMAK EMAK GUYS WKWK. "Cih, dasar ngga ingat umur ngga ingat anak," desis Milya dan pergi ke kamarnya. Ia pun masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat poto keluarga terpampang besar di kamarnya. Setiap kamar pasti ada poto mereka maupun di kamar tamu. Milya terduduk di ranjang. Ia memperhatikan poto besar yang menggantung di pintu kamarnya. Ia tersenyum melihat betapa gagahnya Papa dan Alby yang memakai pakaian sama TNI sedangkan dirinya dan Ibunya memakai pakaian warna hijau couple. Milya menghapus air matanya. Bergurau dengan sang Mama adalah cara mereka bertiga menghilangkan kesedihan sang Mama. Mama nya paling depresi ketika kematian sang Papa. Maka dari itu Milya memanggil mamanya dengan nama Aura dan Alby tetap memanggil dengan nama Mama. Ia tau jauh di lubuk hati Mamanya. Mamanya sangat terpukul dan menyimpan banyak kesedihan. Karna Milya pernah melewati kamar Mamanya dan mendengar suara isakan tangis Mama nya. Kematian Papanya sangat tragis sekali. Alby menutup kesedihannya dengan bertingkah konyol dan selalu teriak teriak nggak jelas agar Mama nya bisa terhibur. "Papa, Milya harap Papa baik baik aja disana. Disini Milya dan Alby jagain Mama dengan baik kok. Maaf kalo Milya nggak bisa buat Mama nggak nangisin Papa. mama terlalu banyak berbohong di kesedihannya. Setiap kali Milya nanya Mama baik baik aja. Mama selalu jawab dia sangat baik. Mama tegar agar anak anaknya tidak larut dalam kesedihan. I love you Father"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN