Kella 8

1118 Kata
Kella sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia tampak cantik dengan pemanampilannya. Rambut yang digerai dengan sedikit roll di ujung rambut. Kella pun menuruni anak tangga. Ia melihat Ayahnya yang menatap tajam dirinya. Kella mengatur dirinya agar terlihat biasa saja di depan Ayahnya. "Pagi marsya," sapa Kella dan menciumi pipi Marsya. "Pagi ayah sayang," sapa Kella menciumi kedua pipi Ayahnya dan memeluk leher Ayahnya dari belakang. "Kella ceria kan hari ini?" Tanya nya. "Iya, kenapa bisa seceria ini? Dan kenapa manggil Marsya nggak pakai kakak lagi? Dan tadi malam ke..." "Sssttt Ayah bawel banget. Nih makan nggak usah bawel Ayah. Kella ada kok di pesta cuman balik duluan." Kella mengedipkan sebelah matanya ke Marsya. Marsya memandangi kella malas dan kembali mengunyah rotinya. * * * * Nisa sudah datang ke sekolah pagi pagi sekali. Ia tahu bahwa Khayyara alima adiknya Gilang akan datang pagi. Nisa menunggu di depan kelas Khayyara. Nisa sesekali melihat jam tangannya yang melingkar manis di tangan kirinya. Khayyara pun baru datang. Khayyara masuk ke sekolah dan melihat Nisa menunggu dirinya. "Hay kak Nisa. Bang Gilang masih tidur di rumah," sapa nya kepada Nisa dari belakang membuat Nisa kaget dan memukul bahu Khayyara. "Bisa assalamualaikum dulu nggak sih," kesal Nisa. "Yee biasanya kalo ketemua Khayyara kak Nisa langsung nyapa gini eh babi gimana Gilang. Gitu. Kesambet setan baik ya kak." Khayyara pun menempelkan tangannya di dahi Nisa setelah itu ia kembali menempelkan tangannya di pantatnya. "Suhu nya sama. Kak Nisa lagi sakit," ucapnya mendapat jitakan dari Nisa. "Enak aja suhu jidat gue di samain dengan suhu p****t lo," kesal Nisa. "Gimana Gilang?" tanya Nisa sambil menaik turunkan alisnya. "Bang Gilang cuman baca doang suratnya setelah itu di buang ke tong sampah." Kasihan banget sih lo Nisa. Gini nih kalo nyimpan perasaan secara diam diam kan perih kalo tau. "Kayaknya gue berhenti aja deh ngejar Gilang," Khayyara langsung menggeleng cepat. "Nggak usah kak Nisa!" tolak Khayyara. Nisa tampak lesuh. Surat yang ia berikan kepada Gilang setelah dibaca dibuang begitu aja. Khayyara pun menuntun Nisa duduk di bangku koridor sekolah. Sekolah yang sepi kini sudah ada beberapa yang datang. "Gini aja menurut Khayyara sendiri. Kak Nisa berhenti ngasi surat ke bang Gilang dan ngeganggu bang Gilang. Kan kak Nisa sering gangguin bang Gilang selama setahun ini. Pasti bang Gilang kesepian ngga ada surat surat dari kak Nisa. Nanti bang Gilang nyariin kak Nisa kenapa nggak ngirimin surat lagi. Nanti Khayyara bilang tanyain ke kak Nisa aja gimana?" Pendapat Khayyara pun membuat Nisa tersenyum senang. Nisa mengangguk dengan cepat. "Oke. Lo emang pinter banget top markotop. Gue balik dulu." "KAK NISA GILAA!!" Nisa pergi setelah menempeleng kepala Khayyara membuat Khayyara murka. Nisa tertawa mengejek ke arah Khayyara dan kembali berlari. * * * * Kella turun dari mobil sport biru nya. Semua mata tertuju kepada sang pemilik mobil yang baru keluar dari mobil itu. Amel cs pun melihat ke mobil Kella. Ia memicingkan matanya. Bu Sasi dan pak Chandra yang baru datang pun melihat mobil Kella juga. Kini mobil Kella menjadi pusat perhatian. Bukan apa gimana itu adalah mobil sport keluaran terbaru. Tetapi, Kella sudah memiliki nya. "Siapa sih?" Amel tampak penasaran dengan pemilik mobil sport biru itu. Alby yang baru datang pun heran karna kini koridor ramai melihat mobil sport biru. Alby pun berhenti mendadak. "Eee ooo eee ooo," latah Gilang ketika menabrak badan Alby. "Apaan, by?" tanya Jovan. Alby hanya menunjuk ke arah mobil Kella. Kella pun keluar dari mobilnya membuat murid di koridor sekolah tercengang. Kella tak menghiraukan tatapan murid koridor sekolah. Tampangnya yang datar membuat siapa saja penasaran. "Calon bini gue," kata Alby. "Cuman dia toh," kesal Devi. "Wah, Kella hebat bisa punya mobil keluaran terbaru. Ara, harus potoin nih mobil Kella dan kasi tau ke Laily kalo temannya punya mobil bagus." Ara pun memgeluarkan ponselnya di saku roknya. Ia berjalan menghampiri mobil Kella namun tangannya langsung di tarik oleh Putri. Putri menatap tajam Ara. "Lo bisa ngga sih diam. Nggak usah norak," tukas Putri. "Tau. Punya teman satu gini amat. Nggak waras sama sekali," sungut Devi. "Ara, cuman mau lihat mobilnya Kella doang. Lagian mobilnya bagus. Ara bisa aja Laily poto bareng mobil kella biar bisa post di ig," Ara sangat antusias. Amel mendelik Ara. "Cabut guys," ucap Amel. Mereka pun pergi dari tempat tersebut. Ara tampak mendengus sebal. Karna tangannya di tarik tarik oleh Putri. Sedangkan di koridor lain tampak pak Chandra berdehem di depan bu Sasi. Bu Sasi pun menoleh kebelakang dan melihat pak Chandra yang mengedipkan sebelah matanya. "Bu sasi," Panggil pak Chandra dengan genitnya. Alby cs yang melihat itu bergidik ngeri. Gini amat punya guru ngga ada yang bagus bagusnya. "Apa pak Chandra?" Tanya bu Sasi dengan malu malu kucingnya. "Mau di beliin mobil kayak gitu ngga?" "Jangan deh. Kemahalan. Beliin mahar buat pernikahan kita aja nanti." Ucapan bu Sasi bikin pak Chandra klepek klepek. Bu Sasi pun pergi. Pak Chandra memukul mukul tiang dengan perasaan senangnya. "Gila. Guru kita lagi kasmaran cuy," Alby menggelengkan kepalanya. "Nggak usah ngurusin guru. Cabut." Mereka pun pergi megikuti langkah kenan. Kenan memang terlihat cukup cuek. Cocoklah dengan Handefy yang suka bersikap dewasa. * * * * Kini kantin tampak ramai karna jam istirahat sedang berlangsung. Kella dan teman barunya Handefy, Nisa, dan Laily gesrek sedang makan di kantin dengan suara cempreng Laily yang dari tadi tak henti hentinya mengoceh. Laily selalu saja adu debat sama Nisa cuman gara gara coklat doang. Nisa tak membiarkan Laily memenangkan debatnya kali ini. "Ih, Nisaaaaa. Laily, itu tau mana coklat dari indonesia mana dari luar negeri." "Heh kecebong. Mau coklat luar negeri kek mau indonesia kek sama aja. Sama sama dimakan." "Tapi, rasanya beda, Nisa. Kalo coklat luar negeri itu rasa manisnya beda dengan coklat indonesia." Laily selalu saja menjelaskan kepada Nisa bahwa coklat luar negeri dan indonesia itu berbeda. Sedangkan Nisa tau nya semua coklat itu sama. Sama sama dimakan dan dikunyah. Perdebatan mereka berhenti ketika Alby cs memasuki kantin. Sikap bar bar Alby membuat kaum hawa menyukainya. Karna Alby terang terangan menyapa siapa saja yang memanggil namanya sambil mengedipkan sebelah matanya genit. Nisa menopang dagunya dengan kedua tangannya. Ia memperhatikan wajah cool Gilang yang selalu saja menghantui pikirannya. Tidak masalah surat suratnya dan chat darinya tidak pernah dibalas. Melihat Gilang secara live saja membuat hatinya senang dan melupakan masa lalunya. Mata Handefy bertubrukan dengan mata elang Kenan. Kenan tersenyum ke arah Handefy namun Handefy menatap garang Kenan seperti ingin menerkam. Kella sama sekali tak peduli dengan apa yang diributkan di kantin ia sibuk dengan makanannya dan ponsel yang berada di tangan kirinya. Kella benar benar jengah melihat para gadis menggilai Alby dengan terang terangan bahkan terang terangan berdandan di depan Alby. Menurut Kella apa bagusnya Alby si cowok perusuh dan gila. Alby terkenal karna suka menggoda para gadis dan pembuat rusuh. Bukan karna terkenal pintar dan cekatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN