RUMAH DOKTER RANGGA

1073 Kata
Karina yang masih ingat jalan rumah Andre, mengantarnya terlebih dahulu. Andre dan Ica duduk di belakang sambil berceloteh riang, sementara Ririn sibuk nonton drama korea di handphone, Karina yang fokus menyetir, sesekali mengintip belakang kursi lewat kaca tengah mobil. Jika Karina dan kakaknya berkumpul bersama orang tua, selalu tertawa lebar dan cerita hal yang tidak penting, namun setelah dirinya ingin menjadi dokter untuk manusia, entah kenapa sifat ayah kandungnya berubah drastis, lebih cepat marah sekaligus tertekan. Karina mengeratkan pegangan di setir mobil. Rasanya menyakitkan sekali jika mengingat masa lalu yang buruk. Sesampainya di depan pintu pagar rumah, seorang satpam keluar dari posnya dan melihat siapa yang datang. Dia langsung membuka pagar ketika melihat Andre dan Ica turun dari mobil. "Kenapa bapak tidak naik taksi?" tanya satpam itu sambil mengambil bingkisan yang diserahkan Andre. Andre menggeleng tidak berdaya. "Tidak apa." Karina menurunkan kaca mobil di samping Ririn. "Saya kembali dulu, Pak." "Tidak masuk ke dalam rumah dulu? Buat makan malam." Karina menjawab sambil menggelengkan kepala. "Tidak, saya harus mengantar Ririn pulang sebelum kemalaman." Ririn hanya memandang takjub rumah besar dan halaman luas di belakang Andre. Karina menjalankan mobil untuk menjauh dari rumah itu, lalu menaikan kaca mobil. "Takjub?" tanyanya. "Saya tidak percaya dia orang kaya, saya kira hanya orang biasa. Penampilannya sederhana sekali. Tunggu! Tadi itu rumah dokter Rangga 'kan? Astaga!" jerit Ririn dengan antusias. "Astaga dokter, saya berkunjung ke depan rumah dokter Rangga, mewah sekali rumahnya." Karina tertawa. ________________ Keesokan harinya di malam hari, Andre memiliki jadwal yang padat dan sudah duduk di sofa ruang keluarga dengan pakaian rapi, moodnya yang kemarin sempat jelek karena ulah anak keduanya, langsung membaik begitu bertemu dengan dokter hewan yang pembawaannya adem. Jika dokter itu menikah dengan anak sulungnya, mungkin Ica tidak akan kesepian dan Andre tidak perlu mencemaskan kondisi Rambo dan Bunga. "Ayah mau kemana?" tanya Agus, saat pulang ke rumah, dia melihat ayahnya sudah berpakaian rapi memakai jas hitam dan dasi di sofa ruang keluarga. "Tumben rapi," tambahnya tidak percaya sekaligus curiga. "Memang aneh, kalau ayah serapi ini?" Andre memperbaiki dasi kupu-kupunya di depan cermin kecil yang dipegang Ica. Agus duduk di samping Andre dan memaksa untuk menawarkan diri, ayahnya tipe pria introvert, tidak mungkin tiba-tiba keluar tanpa alasan begitu saja. "Agus antar, ya." "Enggak! Nanti kamu malu sama Ayah!" ketus Andre. "Ica sayang benar tidak ikut kakek?" Ica menggeleng pelan. "Ica ngantuk kek, katanya kakek pulang malam. Lagian di sana juga tidak ada hiburan." Agus semakin cemberut ketika mendengar percakapan kakek dan cucu, bahkan Ica diajak, sementara dirinya? Kenapa tidak diajak? Siapa tahu di sana bisa menjalin relasi dengan baik untuk kepentingan keluarga, jika ditemani dirinya. Bapak tipe pria yang juga tidak mau menjalin hubungan pertemanan dengan sembarang orang. Dia semakin curiga. Andre mengambil cermin di tangan Ica. "Ica bobo dulu ya, kakek mau bicara sama om." Ica mengangguk kecil sambil menguap. "Iya kek," lalu mencium pipi om dan kakeknya. "Selamat malam." "Malam," jawab Agus dan Andre bersamaan. "Agus temani ya," Agus mendesak ayahnya supaya luluh. "Enggak! Ayah mau naik taksi!" Agus menghela napas. "Bahaya keluar malam-malam, Agus anterin deh." "Memangnya Ayah kamu ini anak kecil? Sudah ah,tidak usah ganggu bapak! Kamu tidur saja sana!" Andre berdiri dan menelepon panggilan taksi. "Bagaimana kalau Agus jemput pas pulang? Menunggu lama juga tidak masalah." Agus menawarkan diri serendah-rendahnya, khawatir dengan sikap keras kepala ayahnya. "Memang kamu mau jemput? Tidak lupa?" sindir Andre dengan sinis. "Kok gitu sama anaknya, Agus khawatir sama bapak," jawab Agus dengan raut wajah sedih. "Kalau kamu khawatir, pasti tidak akan pernah lupa jadwal check up Ayah." "Itu lagi yang dibahas, kan Agus sudah minta maaf pak." "Gus, manusia itu sekali melakukan kesalahan pasti akan melakukan kesalahan terus terutama manusia tipe kamu yang tidak pernah belajar dari kesalahan, kalau sudah kejadian baru kamu minta maaf! Mbok kalau salah itu langsung diperbaiki." Omel Andre dengan nada keras. "Ayah mau pergi kemana, terserah. Kamu pergi pacaran saja, Ayah tidak pernah ikut campur!" "Yah, masa hal seperti itu saja diperpanjang? Agus kan benar-benar lupa, tidak bermaksud sengaja." "Menurut kamu ini sepele, tapi menurut Ayah tidak! Kamu kira Ayah tidak tahu kalau kamu selalu mengulang kesalahan yang sama? Kamu kira Ayah tidak tahu, setiap kamu lupa selalu kamu limpahkan sama adik kamu! Kamu itu selalu sembunyi di kata 'LUPA'!" ujar Andre dengan nada kesal, "Kamu kira Ayah tidak kenal watak kamu?!" Agus menghela napas. Memang benar sewaktu ada Andreas, dirinya selalu melimpahkan tugas ke dia tapi baru kemarin dia benar-benar lupa. "Begini saja, Agus minta maaf soal kejadian sebelumnya, satu kali ini dimaafkan karena Agus memang benar-benar lupa.." "Tidak! Sampai kapanpun Ayah tidak akan memaafkannya!" tegas Andre. "Ayaaaahhh, Sampai kapan keras kepala seperti ini?" Agus jadi merengek di samping ayahnya. "Sampai kamu belajar dari kesalahan kamu!" tunjuk Andre dengan kasar. "Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah berubah, mungkin jika Ayah mati, kamu baru bisa berubah." Agus jadi sedih mendengar perkataan ayahnya. "Jangan bicara seperti itu, Agus tidak pernah mengharapkan Ayah mati." Andre bangkit dari sofa setelah salah satu mbak di rumah, tergopoh-gopoh masuk dan melapor kalau taksi pesanannya sudah tiba. "Jangan jadi anak pengacau dan manja! Ayah tidak suka melihatnya, renungi saja semua kesalahan kamu sendiri!" Agus tidak bisa berkata-kata, ketika melihat punggung Andre sudah berjalan menjauh. Di saat Agus galau karena ayahnya mendadak keluar tanpa jelas kemana, malam ini Karina bersama Len mengunjungi rumah salah satu pasien, seekor anjing German Sheperd. Awalnya Len menolak karena kasihan melihat Karina yang tidak pernah libur dan sekalinya libur malah menjadi sopir banyak orang. Setelah kena bujuk rayu Karina akhirnya dia setuju ikut. Karina dan Len saling melirik saat melihat suasana rumah yang ramai pengunjung. "Bu dokter Karina!" sapa satpam rumah mewah itu. "Ayo dok ikut saya, anjingnya di kamar anak majikan saya." Karina dan Len mengikuti satpam lewat jalan memutar. "Ada acara apa pak?" tanya Len dengan penasaran. "Ulang tahun majikan saya, banyak teman-temannya yang datang makanya kita putar jalan," jawab si satpam. Dilihat dari rumah sepertinya yang datang banyak orang kaya. Batin Karina. Tidak heran sih, rata-rata pemilik anjing besar adalah orang kaya. "Anjing kesayangan di rumah itu sakit, tidak ada orang rumah yang paham kecuali majikan dan istrinya. Mereka langsung paham ketika ada yang aneh karena tidak mau makan. Kami kira anjingnya mogok makan, beberapa hari belakangan harus masuk kandang karena rumah akan mengadakan pesta." Satpam cerita mengenai kondisi pasien Karina, dilihat dari kaca mata orang awam. Anjing yang selalu dilepas di dalam rumah, memang tidak akan terbiasa dengan masuk kandang kecuali sudah dibiasakan sejak kecil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN