PASIEN GENDUT

1135 Kata
Karina melepas stetoskopnya dan menepuk kepala Vemo dengan lembut. "Anjingnya sehat, terlampau sehat malah." "Dokter, Tapi Vemo tidak apa-apa?" tanya Nina dengan cemas. Anjing itu membuat dirinya dan sang suami menjadi panik. Bagaimana tidak, dia rela tidak mau makan makanan enak. "Tidak apa." Senyum Karina. "Saya tidak akan menyuntik atau memberikan resep karena anjingnya baik-baik saja, hanya perhatikan pola makannya saja." "Kalau tidak ada masalah kok seperti terengah-engah begitu dok?" isak Nina yang semakin cemas melihat Vemo susah bernapas. "Saya takut ada apa-apa sama Vemo." Karina menghela napas. "Ini karena kegendutan. Biasanya Vemo makan apa?" "Makan makanan anjing seperti biasa dok," jawab Nina sambil menghapus air mata dengan hati-hati, supaya tidak menghapus riasannya. Si satpam yang duduk di samping Nina mengangkat tangannya. "Anu Nyonya, si Vemo biasanya dikasih makan makanan manusia." Nina menjadi bingung. "Siapa?" Seisi rumah sudah diberikan jadwal makan untuk Vemo, Nina sendiri juga tidak menyadari kondisi tubuh Vemo yang mulai menggemuk karena setiap hari selalu bertemu, hanya saja jika diingat kembali, Vemo memang sedikit kesulitan berjalan akhir-akhir ini. Pak satpam menjadi canggung untuk menjawab. "Jika saya beritahu, Nyonya jangan marah ya. Biasanya Tuan tidak tega melihat mata Vemo saat minta makan, jadi kadang kala dia dikasih makanan yang sama supaya adil." "AARKAAAAA!!!!" Seru Nina gemas sambil meninggalkan kamarnya. Si satpam menggelengkan kepalanya. "Tuan ini lho sukanya iseng sama Nyonya, padahal mereka berdua sudah menikah. Masih saja suka iseng." "Bertengkar tandanya sayang," kata Len sambil mengusap perut Vemo yang tubuhnya kesulitan gerak dan hanya bisa tiduran. "Iya 'kan, Vemo." Karina memasukan stetoskopnya ke dalam tas, setelah menulis resep dan memberikan suntikan untuk Vemo. "Kira-kira kemana tadi pemilik Vemo?" tanyanya pada satpam. "Saya harus memberikan catatan dan juga resep." "Nyonya sepertinya menjewer telinga Tuan kesini. Tuh," tunjuk satpam ke pintu yang terbuka sekaligus terlihat dua orang berjalan masuk ke dalam kamar. "Kamu itu ya, masa Vemo dikasih makan makanan manusia sih! Kan kamu tahu kalau dia tidak bisa dikasih makan gituan! bisa pun sesekali." Nina menjewer telinga suaminya. "Adududuh Yang, tega amat sama suaminya." Arka pasrah telinganya dijewer sang istri, meskipun menurunkan harga dirinya sebagai seorang pria. "Gimana tidak tega! Justru kamu lebih tega sama Vemo!" bentak Nina lalu menarik tangannya dari telinga Arka. "Ya kan kasihan sama Vemo, kamu tidak kasihan apa pas kita makan terus dia hanya melihat kita dengan mata sedih begitu?" Arka menggosok telinganya yang merah. "Vemo juga pasti ingin ikut menikmati makan enak, kenapa istri cantikku ini tidak peka sama anjing kesayangannya sih? "Nyonya tadi menemukan Tuan di mana? Tadi saya cari tidak ketemu," tanya pak satpam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Soalnya tadi ada tamu yang mencari Tuan, akhirnya saya suruh masuk ke dalam pesta dulu." "Sembunyi di kamar mama Ayu." Karina menyebut nama mertuanya,."Ngomong-ngomong siapa yang mencari? Wanita? Cantik tidak?" "Bukan, cowok. Namanya dokter... dokter..." pak satpam berusaha mengingat. "Dokter Rangga!" "Yang dokter bedah playboy itu?" tanya Nina. "Iya, mbak," jawab pak satpam sambil menganggukan kepala dengan antusias. Para pembantu di rumah bahkan di sekitaran kompleks selalu membahas dokter playboy itu dan membayangkan menjadi Cinderella untuk memperbaiki hidup serta keturunan. Nina melipat kedua tangan di depan d**a. "Jauhi si Rangga itu, Nina tidak suka sama dia, bisa-bisa kamu juga ketularan playboy. Cari teman yang biasa saja bisa tidak sih?" "Makanya 'kan aku sembunyi," Jawab Arka dengan raut wajah sedih. "Dia datang ke aku itu selalu punya tujuan." "Kenapa tidak suka dengan dokter Rangga? Bukannya dia terkenal?" tanya Len yang tidak paham. "Justru saya tidak suka dia karena dia terkenal, banyak teman seleb. Kalau temen-temennya benar, saya tidak masalah. Tapi kamu tahu kan, kalau temennya banyak yang tidak bener," ujar Nina dengan nada menggebu-gebu. Karina mengangguk setuju. "Saya tidak tahu sedetail itu sih, yang saya tahu dia dokter terkenal," kata Len dengan polos. Dia bukan tipe orang yang membenci orang lain dengan mudah, apalagi jika orang tersebut tidak pernah mengganggu kehidupannya yang damai. "Iya, terkenal tidak benar! Rusak!" Sahut Nina. "Pokoknya jangan terlalu dekat sama itu dokter! Terus jangan suka kasih Vemo makan makanan manusia, gizi manusia itu beda sama gizi anjing. Ada juga bahan makanan yang tidak bisa dimakan dan bisa menimbulkan racun, untung saja kita cepat panggil dokter. Kalau tidak, seisi rumah tidak akan pernah sadar kalau Vemo sudah berubah menjadi gentong!" Arka memeluk Nina. "Iya ya, istriku sayang, jangan galak gitu dong sama suaminya." Nina memutar bola matanya. Arka melihat Vemo berbaring di lantai yang sudah dialasi dengan karpet bulu dan empuk. "Kalau dilihat kembali, sepertinya memang dia bertambah gemuk. Astaga." Karina berdehem. "Periksanya sudah selesai, ada lagi yang harus saya periksa?" Nina yang baru sadar masih ada dokter di kamarnya melepas pelukan Arka. "Ah iya dok, sudah selesai kok. Kucing-kucing tidak ada masalah dan keluhan, yang bermasalah hanya Vemo, saya sempat ketakutan karena dia tidak aktif, ternyata tambah endut." "Emang kamu tidak nyadar, kalau Vemo tambah ndut?" tanya Arka. "Gimana aku nyadar, akhir-akhir inikan Vemo sama aku terus," jawab Nina dengan kesal. "kamu sendiri juga tidak menyadarinya kalau aku tidak bicara kan?" "Kalau begitu kami kembali ya, masalah pembayaran seperti biasa saja." Karina dan Len berdiri, lalu Karina menyerahkan resep dan catatan untuk Vemo. Nina mengangguk antusias. "Terima kasih, dok." "Iya." Karina menyalami Raka dan mengikuti satpam menuruni tangga dan keluar lewat dapur seperti tadi. Ketika mereka sudah keluar dari dapur, tiba-tiba ada yang memanggilnya,."Nak Karina!" Karina dan Len menoleh. "Pak Andre." Karina tersenyum ketika pria tua itu berjalan mendekatinya. "Kamu kenapa disini?" Andre menghampiri Karina dan Len. "Saya dipanggil untuk periksa pasien," jawab Karina. "Vemo atau Mei?" tanya Andre dengan tatapan menyelidik. "Vemo!" kali ini Len yang menjawab. "Bapak diundang kesini?" tanya Karina yang melihat penampilan formal Andre. "Iya, kebetulan saya kenal dengan pemilik rumah ini." Tawa Andre. Karina mengangguk, "Ouw, bapak kesini naik apa?" "Taksi," jawab Andre dengan raut wajah masam. Karina merasa kasihan dengan pak Andre, dia melihat jam tangan. Sudah jam 11 malam. "Len, kamu menginap di tempat aku saja, ya." Len tahu, Karina takut menyetir di malam hari karena adanya begal. "Iya dok, tidak masalah. Kebetulan besok saya masuk siang." "Aku antar kamu pagi, supaya tidak terlambat." Karina tersenyum ke Andre. "Mau saya antarkan pulang pak?" tanyanya dengan sopan. Andre berpikir sebentar. "Tapi saya nanti merepotkan kamu." "Tidak merepotkan, asisten saya juga menginap di tempat saya." Andre menatap Len yang bertubuh mungil dan juga kurus. "Kamu kurus sekali, kurang makan?" Andre memijat tangan Len yang kurus. "Saya-" Len jadi bingung dengan tindakan tiba-tiba Andre. "Ayo masuk ke dalam! Kita makan-makan di dalam!" Andre menarik lengan Len. "Ayo nak Karina juga ikut masuk ke dalam." Karina terpaksa harus menemani Len yang sudah ditarik oleh Andre setelah bicara ke satpam. "Maaf, saya sepertinya tidak jadi pulang lebih awal." "Kalau begitu bu dokter taruh dulu tas nya ke mobil setelah itu masuk lagi lewat pintu depan," saran pak satpam. "Iya pak." "Mari, saya antar bu." "Terima kasih!" Karina mengikuti pak satpam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN