Agus duduk di dalam mobil yang parkir tepat di seberang rumah megah kenalan ayahnya. Diam-diam ia mengikuti taksi sang ayah karena khawatir. Saat dia melihat ke arah rumah dari dalam mobil, dia melihat Karina diikuti satpam menuju mobil yang diparkir di luar pagar.
Agus menunduk supaya tidak ketahuan. Ngapain dokter itu kesana?
Agus melihat Karina memasukan tas ke dalam bagasi mobil dan kembali masuk ke dalam rumah bersama pak satpam. Jadi mobil Mazda merah itu milik si dokter hewan? Apa dia tamu penting di dalam rumah itu? Kenapa bisa kebetulan seperti ini?
Tiga puluh menit kemudian dia melihat Karina keluar bersama pegawai pet shop yang sempat ia temui dan ayah kandung Agus. Tunggu! Ayah?
Agus menggosok kedua matanya supaya yakin kalau pria yang bersama dokter hewan murahan itu adalah Andre, ayahnya. Bukankah Ayah bilang mau pulang naik taksi? Kenapa malah satu mobil dengan wanita lain?. Teriaknya di dalam hati.
Agus menguhubungi Andre dengan handphone, namun saat deringan kedua, sambungan dimatikan. "Dimatikan! Ayah! Jadi mereka masih berhubungan setelah kenalan di rumah sakit?!"
Agus mengeluarkan handphone untuk foto bukti kasus perselingkuhan ayahnya. Setelah itu Karina, Andre dan Len masuk ke dalam mobil. Agus cepat-cepat menurunkan tubuh supaya tidak ketahuan lalu setelah mobil Karina sudah jalan, Agus mengikuti dari jarak aman sambil mengomel dan bersumpah di dalam hati, akan menghukum pasangan selingkuh itu.
Setelah Karina menurunkan Andre, begitu sampai ke rumah. Agus memutar mobil dan masuk ke dalam rumah setelah dibukakan satpam. Dia melihat Andre melepas sepatu di ruang tamu.
"Ayah." Agus memanggil Andre dengan nada kesal.
"Hmm?"
"Pulang diantar siapa?"
"Kamu ngikutin Ayah?"
Agus terdiam, dia berusaha mencari alasan,. "Tadi lagi cari makan di luar, terus tidak sengaja melihat Ayah turun dari mobil dan ada perempuan di dalamnya."
"Oh."
"Siapa itu?" tanya Agus dengan kesal begitu ayahnya tidak langsung menjawab pertanyaan. "Tadi katanya pulang naik taksi, kenapa malah pulang sama wanita lain?"
"Ayah pulang sama teman. Apa?" Andre menatap galak Agus, "Penasaran?!"
Agus tidak menjawab, dia menggeleng pelan lalu naik ke lantai atas. Percuma memang bicara sama Andre, bukannya mendapat jawaban, malah mendapat gertakan. Padahal anaknya khawatir dengan kedamaian rumah tangga orang tuanya, seusia Andre memang rentan dengan yang namanya puber kedua.
Bagas yang baru dari dapur mendekati Andre ketika melihat sang Ayah masuk ke dalam rumah dengan memakai pakaian rapi. "Sudah pulang? Habis dari mana?"
"Bapak diundang ke rumah teman Ayah." Andre berdiri dan berjalan menuju kamarnya. "Kamu kenapa belum tidur?"
"Buatin s**u Ica malah Bagas laper, baru selesai masak mie instan." Bagas menepuk perutnya yang mulai buncit. "Ayah diantar Agus? Tadi lihat tuh anak naik ke lantai dua."
"Adik kamu mana punya waktu buat Ayah?" sindir Andre dengan tatapan sinis. "Dia itu terkenal dan pujaan banyak wanita, tidak mungkin peduli pada Ayahnya yang sudah tua ini, paling ya hanya kirim uang untuk kebutuhan hidup. Tidak apa, tidak kirim juga Ayah masih bisa makan."
"Yah namanya dokter. Pasti sibuk, kliennya aja seleb," jawab Bagas sambil menggaruk kepalanya dengan canggung.
"Huh! Baru punya langganan seleb sok sibuk. Coba liat ayah kamu ini, klien bapak itu malah presiden, menteri, anggota DPR sampai duta besar! Tiap Idul Qurban malah selalu minta saran bapak dan nemuin bapak buat beli hewan Qurban!" Andre menunjuk lantai atas dengan gemas.
Bagas menepuk punggun Andre untuk menenangkan, "Namanya saja baru meniti karier, dia harus bisa stand by."
"Ayah meniti karier di dunia perkambingan dan persapian masih sempat ngurus kalian, lha ini malah tidak punya waktu buat Ayah, antar check up saja lupa." Hati Andre mendadak sedih, ketika mengingat kelakuan anak keduanya. "Gimana nanti kalau dia sudah benar-benar sukses nantinya? Bisa-bisa sudah lupa punya orang tua."
"Sudahlah pak, kita lihat aja nanti, kalau sudah keterlaluan biar Bagas tegur." Bagas berusaha menenangkan Andre untuk tidak terlalu marah tapi hampir tertawa ketika mendengar 'dunia perkambingan' dan 'dunia persapian'. "Dia juga sudah dewasa, pasti bisa berpikir dengan bijak. Ayah."
"Tidak perlu kamu tegur, biar dia sadar sendiri. Ayah masih punya kamu sama Andreas!" tegas Andre.
"Ayah, jangan begitu." Hibur Bagas. "Nanti kalau ada apa-apa bisa bilang Bagas."
"Kamu punya anak bertubuh lemah, kamu harus cari uang banyak buat anak kamu, Ayah paham mengenai kondisi kamu. Kalau si Agus, Ayah Cuma bisa ngelus d**a!"
Bagas menghela napas. "Ya sudah, besok Bagas bicara sama Agus. Ayah sekarang istirahat ya, besok kan harus ke peternakan ngawasin."
Andre menepuk punggung Bagas dengan sisa tenaga. "Ayah istirahat dulu, ya. Capek mikirin otak adik kamu yang tidak beres itu."
"Iya." Angguk Bagas.
Andre masuk ke kamarnya yang dekat dengan ruang keluarga. Dulu, Bagas yang menempati kamar itu bersama Ica. Tapi semakin tua, Andre sudah tidak kuat naik tangga, sehingga mereka bertukar kamar.
Bagas naik ke atas lalu melihat pintu kamar Agus yang terbuka lebar. Agus sedang santai duduk di atas tempat tidur. "Agus!" panggilnya.
Agus bangun. "Mas, belum tidur?"
Bagas menghampiri Agus. "Ayah cerita kalau kamu lupa antar check up. Kenapa bisa begitu? Bukankah kamu sendiri yang mengajukan untuk selalu mengantar Ayah saat check up? Jika kamu sudah tidak mau, kakak bisa mengantar Ayah."
"Aku lupa dan sudah menyesalinya. Tapi beneran mas, bukannya Agus tidak peduli dengan Ayah. Dia selalu mendramatisir keadaaan."
"Gus, mas kamu ini bukannya sok tahu, tapi coba lihat sifat Ayah. Beliau mengenal kita seumur hidup kita tapi apa kita kenal Ayah seumur hidupnya?" Bagas duduk di samping Agus. "Mas baru menyadarinya saat mas sudah punya Ica, berat rasanya menjadi orang tua, tapi kita juga tidak bisa mengeluh. Lain kali kalau kamu punya janji sama Ayah jangan lupa lagi, kalau perlu kamu catat di ponsel, masa isinya Cuma catatan jadwal kencan?"
Agus menoleh. "Mas lihat?"
Bagas terkekeh,."Ica yang nunjukin."
Agus cemberut dan tidak bisa menyalahkan Ica. "Ayah sekarang dimana?"
"Istirahat. Jangan dibahas dalam waktu dekat, nanti saja kalau emosinya sudah reda." Bagas beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju pintu kamar keluar. "Sudah ya, mas mau ke kamar. Kasihan Ica sendirian."
"Iya mas."
Keisengan Bagas mendadak muncul, dia tiba-tiba lari menuju tempat tidur, menarik guling yang menyangga kaki adiknya lalu dilemparkan tepat di wajah. Dia sendiri pun kadang kala gemas kalau mendengar atau melihat secara langsung ulah adiknya yang sok keren. Setelah puas membuat ulah, dia melarikan diri tanpa menutup pintu sambil tertawa kecil.
"Maaaassss!!!" Teriak Agus tidak terima, padahal kakinya benar-benar capek gara-gara menguntit ayah mereka. Seharusnya Bagas bisa bersyukur karena dirinya bisa menemukan fakta yang mencengangkan, awas saja kalau nanti bukti sudah ditunjukkan, dia bisa melihat wajah pucat kakaknya. Lalu tidak lama dia menggelengkan kepala. Tidak, tidak kenapa dirinya malah puas dengan bukti di handphone, harusnya dia merasa sedih sekaligus marah karena ayahnya sudah berselingkuh dengan seorang wanita muda.