Len menepuk perutnya sambil duduk bersandar di sofa ruang keluarga, bi Murni duduk di samping Len dan melihat perutnya sementara Karina yang duduk di sofa santai, sibuk skype dengan papanya.
"Tumben papa minta skype." Karina terkejut saat ada panggilan skype di tablet, biasanya papa dan mama sering mengirim pesan atau kabar lewat email anak-anaknya karena keterbatasan jaringan di hutan.
"Papa kangen sama kamu, masa tidak boleh telepon anaknya sendiri?" papa tertawa keras mendengar ucapan anak perempuan kesayangannya.
"Karina Cuma heran pa." Cemberut Karina.
"Yah, untungnya ada jaringan WIFI di kantor Amerika, papa manfaatin deh!"
"Jadi benar papa sekarang di Amerika?" tanya Karina dengan nada bingung. "Papa sama Mama tyidak ada informasi sama sekali."
"Iya. Begitu mas kamu pulang, papa ke Jerman," jawab papa Karina dengan nada tegas di monitor skype.
"Lho? Berarti tidak jadi meneliti di Amerika?" tanya Karina dengan nada heran.
"Tidak, sudah terlalu banyak peneliti disini jadi papa sama mama ambil keputusan ke Jerman," Sela mamanya di belakang papa. "Len mana? Katanya nginep di rumah."
Karina mengarahkan tablet ke Len yang duduk tidak jauh darinya, "Len, mama nih."
Len hendak berdiri tapi tidak bisa. "Haduh tante. Maaf, saya tidak bisa bangun," sapanya dengan raut wajah canggung.
"Kamu kenapa Len?" tanya mama Karina dengan bingung.
"Kebanyakan makan ma, tadi dipaksa sama salah satu tamu klien Karina," jawab Karina sambil menertawakan kekonyolan Len.
"Oalah. Tapi enakkan makanannya? Mama jadi kangen sama masakan Indonesia," ujar mama dengan nada sedih. "Kirimin mama makanan Indonesia dong."
"Yang ada malah bau ma, kalau kirim bumbu sih bisa." Karina mletakkan tabletnya kembali ke pangkuan.
Mama Karina berdecak sambil menepuk pundak suami, "Mama tidak bisa masak. Sibuk terus nemenin papamu ini, makan roti dan lain rasanya tidak enak, mama ingin makan nasi dan lauk pauk, minimal tempelah."
"Mamamu ini sibuk mulu sama pasiennya, Karina." Lapor papa Karina sambil tertawa.
"Sibuk sama kerjaan atau honeymoon?" cibir Karina.
Mama dan papa Karina berdehem bersamaan.
"Tsk. Awas ya kalau papa sama mama bawa adik." Karina tidak ingin ada saingan di rumahnya.
"Memang kenapa kalau Karina punya adik?" tawa mama Karina, "Kalau kamu larang gitu, mama sama papa jadi pengen punya adik."
"Iiihhh ogah! Diantara kita yang doa dan sholatnya kencengkan mas Ditya, terus kalau doa mas Ditya dikabulkan gimana?" tanya Karina dengan nada kesal.
"Lho? Ya baguskan kalau doanya dikabulkan, lagian kamu sendiri gak sholat?" tanya papa pura-pura galak.
"Bukan gitu! Mas Ditya itu... pengen punya adik laki-laki, bayangin kalau ada mas Ditya kedua disini! Gak mau ah!" rengek Karina manja.
Len dan bi Murni saling melirik.
"Kamu ini ada-ada aja... kalau dikasih Alhamdulillah, kalau enggak ya sudah, namanya saja rezeki, mana bisa ditolak, jangan bilang gitu ah." Tegur mama Karina, "Mana bi Murni? Mama mau bicara."
Karina memberikan tabletnya ke bi Murni. "Mama."
Bi Murni mengambil IPAD Karina dan bicara di skype, Len yang duduk di sampingnya ikut melihat, "Assalamualaikum bu."
"Waalaikum salam, sehat bi?" mama Karina mengambil alih tempat duduk suaminya sementara sang suami pergi entah kemana, "Gimana check upnya kemarin?"
"Alhamdulillah bagus, terima kasih Ibu." Angguk bi Murni dengan semangat.
"Len jadi pindah ke rumah?" tanya mama Karina pada Len.
"Jadi tante, makasih ya," jawab Len.
"Iya tidak usah sungkan, tante sama om suka orang yang mau belajar seperti kamu," mama Karina mengibaskan tangannya dengan santai. "Oh ya bi, sudah dengar kabar kalau Ditya mau pulang?"
"Sudah bu, mbak Karina udah kasih tau bibi. Kamar mas Ditya juga sudah bibi bersihkan," jawab bi Murni.
"Alhamdulillah. Pastikan ya bi, Ditya makan masakan favoritnya sebelum menyusul saya. Kasihan di Kalimantan tidak bisa makan jengkol."
"Iya bu. Beres, semua anak-anak beres di tangan bibi." Bi Murni mengangkat jempolnya.
"Syukurlah, kami punya bibi." Mama Karina menghela napas lega, "Terus, pastikan kalau Ditya kerjanya jangan terlalu banyak, kasihan bi. Biar dia istirahat dulu di rumah, bibikan tahu sifat anak itukan."
"Iya bu, saya tahu." Jawab bi Murni.
"Ya udah, saya tutup ya. Len, jaga kesehatan kamu ya," nasehat mama Karina, "Bilang sama Karina perhatikan kulitnya, masa anak perempuan kulitnya buluk gitu."
"Tuh mbak, dengerin!" tegur bi Murni.
Karina memutar kedua bola matanya sambil mengganti channel TV.
"Ya sudah kami tutup ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab bi Murni dan Len bersamaan sambil melambaikan tangan.
Setelah layar mati, bi Murni mengembalikan tablet Karina, "Tuh Non, dengerin apa kata Ibu."
Karina berdiri dan mengambil tablet dari tangan bi Murni, "Mama saja yang tidak tahu gimana sibuknya Karina," jawabnya sambil pergi ke kamar.
"Ya gitulah mas, tidak usah heran kalau bosnya kayak gitu," Bi Murni menggelengkan kepalanya dengan heran.
"Saya sudah paham kok, Bi." senyum maklum Len.
_________
Agus mengawasi Andre berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya yang terbuka sedikit sambil menelepon seseorang, kalau itu mommy atau adiknya tidak akan ayahnya seperti itu apalagi dengan klien. Terlihat sang ayah menggumamkan sesuatu sambil menatap ponsel jadulnya, Agus tidak dapat mendengar apa yang digumamkan.
"Om."
Agus terkesiap, ia menoleh ke belakang. Ica.
"Om lagi apa?"
"Om-" Agus memutar otaknya. "Om pengen manggil kakek, kelihatannya kakek sibuk."
Ica ikut mengintip. "Kakek memangnya lagi apa?"
"Gak tahu," Agus sendiri merasa penasaran dengan sikap bapaknya itu.
Agus dan Ica sama-sama mengintip.
"Ngomong-ngomong Ica ada perlu sama kakek?" tanya Agus tiba-tiba.
"Oh, Ica tadi mau ketemu sama om."
"Memangnya ada apa?"
"Tadi ada orang mau ketemu sama om, katanya stasiun TV, masih ada kok di ruang tamu."
Agus menunduk, "Kenapa nggak bilang dari tadi?" serunya sambil lari ke ruang tamu.
Ica berkacak pinggang sambil menggeleng.
Andre yang mendengar seruan Agus, membuka pintu kamarnya yang terbuka, "Ada apa?"
Ica mendongak, "Kakek! Kakek sibuk?"
Andre menunduk, "Ica sayang sejak kapan disini?"
"Dari tadi, kek."
Andre menggendong Ica, "Tadi kayaknya kakek dengar suara om kamu."
"Iya, tadi om mau bicara sama kakek tapi ngliat kakek sibuk gak jadi akhirnya kita berdua ngintip deh."
Andre menaikan alisnya, "Terus?"
"Terus pas Ica bilang ditunggu sama orang TV di ruang tamu, om langsung pergi."
"Hmmm, anak itu memang tidak berubah," Andre menutup pintu kamar di belakangnya dan jalan menuju dapur, "Cucu kakek laper gak?'
Ica mengelus perutnya, "Lapeeeerrr banget"
"Ya sudah, kakek masak sup macaroni kesukaan Ica."
"Yeeeyyy..." sorak Ica sambil mengikuti kakeknya berjalan menuju dapur.