Saat Karina hendak berangkat ke klinik jam 7 pagi, tiba-tiba dua orang mendatangi rumahnya dan memberikan kartu nama.
"Stasiun TV khusus animal?"
"Iya, kami sedang membuka program khusus hewan," terang salah satu tamu, "Nama saya Lilis dan ini teman saya Nana."
Karina menyalami mereka berdua dan mempersilahkan masuk, "Gak papa 'kan agak telat? Nanti saya yang tanggung jawab." Bisiknya pada Len, ia tidak enak karena semalam udah janji mau nganterin pagi-pagi.
"Gak papa, Dok." Len hendak masuk membantu bi Murni tapi ditahan Karina.
"Jangan masuk, temenin saya. Kalau ada apa-apa gimana."
"Mereka 'kan dari stasiun TV."
"Kita 'kan tidak bisa percaya begitu saja!" bisiknya gemas pada Len.
Karina menyeret Len dan duduk di sofa sampingnya. "Ada apa menemui saya?"
"Begini, saya mendapat rekomendasi dari salah seorang dokter hewan di kebun binatang mengenai anda," dehem Nana, "Kalau tidak salah anda putri Profesor Soetjipto yang terkenal itu ya?"
"Iya, dokter Karina memang anak professor Soetjipto!" jawab Len.
"Nah, kami sedang membuat program seperti di Amerika, Australia, Korea dan Inggris mengenai pemeriksaan hewan oleh dokter hewan di Indonesia, disitu sekalian kita edukasi penonton mengenai peliharaan mereka," ujar Nana dengan antusias.
"Sekarangkan sudah banyak masyarakat Indonesia yang memelihara hewan entah itu anjing, kucing ataupun reptil," sahut Lilis.
"Terus setiap saya periksa hewan ada kamera begitu?" tanya Karina.
"Iya. Tapi tenang saja, untuk hewan-hewan buas ataupun yang tidak terbiasa dengan kamera. kami akan sedikit menjauh, kami juga akan koordinasi dengan kebun binatang atau pihak-pihak terkait." Angguk Lilis.
"Terima aja dok," saran Len.
"Tapi, kalau gitu saya tidak bisa ke klinik pet shop dong?" tanya Karina melas. Ia suka dengan suasana pet shop yang ramah.
"Tidak akan berpengaruh dengan jadwal dokter, kami sendiri yang akan menyesuaikannya dengan dokter," ujar Lilis.
Karina melirik Len yang mengangguk.
"Mengenai kompensasi, bisa kita atur belakangan. Kita juga memberikan kontrak supaya sama-sama enak diantara kedua belah pihak," kata Nana.
"Untuk jamnya berarti pagi sesuai dengan jadwal kerja saya?" tanya Karina. Ia tidak mau jadwal syuting mengganggu jam malam, kasihan bi Murni sendirian di rumah. Mau bayar pembantu juga gak mungkin, adanya diajak berantem sama bibi. Bibi orangnya gesit, gak suka ngeliat orang malas. Karina ingat waktu itu semua bersih-bersih sementara dirinya malas-malasan malah dipukul sapu sama bi Murni di kaki, kedua orang tuanya hanya diam.
"Seperti yang kita bicarakan tadi, syuting disesuaikan dengan jadwal periksa dokter itupun juga atas persetujuan pemilik ataupun pihak terkait," Lilis meletakan proposal di map berwarna biru di atas meja, "Dokter baca aja dulu disini, besok kami kembali kesini atau dokter menghubungi kami di kartu nama di dalam proposal."
Karina membuka proposal dan membacanya dengan teliti. Jadwal dan semuanya termasuk safety dicantumkan secara lengkap dan terperinci.
"Kalau ada yang kurang bisa kita diskusikan lebih lanjut atau jika ada tambahan ketika sudah terlanjur teken kontrak, itu juga bisa didiskusikan," ujar Lilis.
Karina mengangguk, "Saya sih tidak masalah, mengingat beberapa pemilik hewan masih nol pengetahuan mengenai peliharaannya tapi saya juga tidak mau hal ini mengganggu jadwal kerja saya mengingat pasien saya adalah hewan yang tidak bisa menunggu sakit, sakit sedikit saja mereka tidak bisa bicara yang ada hanya tidak mau makan kadang ada juga pemilik yang kurang peka."
"Iya mbak-mbak, ada juga lho pemilik yang maunya hanya dokter hewan kepercayaannya saja atau dokter yang terkenal, memang bagus sih mbak tapi kalau hewan sakit menunggu kesibukan dokter hewan yang kasihan hewannya sementara pemilik Cuma bisa menyalahkan dokter!" sambung Len. Ia ingat pada salah satu pemilik kucing Persia medium yang menyalahkan dokter Karina atas kematian kucingnya di sosial media karena kesibukan Karina padahal waktu itu Len sudah bilang kalau Karina sibuk operasi besar, bukannya pergi ke dokter hewan lain malah nunggu Karina datang.
"Saya paham hal itu makanya pihak kami diskusi mengenai jadwal dan pihak internal kami sendiri sepakat untuk mengikuti jadwal dokter," ujar Nana, "Saya sendiri juga punya kucing dan burung di rumah jadi paham kegelisahan dokter Karina."
Karina dan Len menghela napas lega.
"Tapi saya tetap memakai Len sebagai asisten saya," Karina memperkenalkan Len pada Lilis dan Nana.
"Itu jauh lebih baik dok, biar bagaimanapun seorang dokter hewan juga butuh asisten tadinya kami bingung cari asisten untuk dokter, untungnya dokter sudah punya." Angguk Nana.
Karina dan Len tersenyum bahagia, impian mereka berdua mengedukasi masyarakat Indonesia mengenai kesehatan dan kehidupan hewan dikabulkan.
Sementara itu, di rumah Rangga.
"Dokter Rangga, merupakan dokter terkenal diantara seleb bahkan beberapa seleb luar menemui anda, maka dari itu kami membuat program mengenai kecantikan dengan anda sebagai dokternya. Disitu kita juga tanya jawab dengan penonton ataupun penelepon," kata produser yang bernama Gilang, "Tidak hanya dengan penonton atau penelepon tapi kita juga memilah pertanyaan di Twitter maupun f*******: fanspage program kita!"
Agus manggut-manggut, kesempatan besar untuk menaikan kariernya lebih tinggi.
"Bagaimana dokter Rangga?" tanya Gilang dengan khawatir.
Agus meletakan proposal di meja. "Saya tertarik, kapan kita bisa kerja sama?"
"Anda setuju dokter?" tanya Gilang, untuk memastikan.
"Ya," jawab Agus cepat.
"Acara kita jam 8 malam secara live, jadi tidak mengganggu jadwal dokter di pagi hari, tidak keberatankan dok?"
"Tidak. Saya malah setuju banget."
Gilang mengambil proposal lanjutan yang diberikan asistennya ke Agus, "Ini kontrak dan jadwalnya, anda berpikir dulu baru besok saya kembali kesini."
"Tidak usah dipikir dua kali saya setuju!" Agus tertawa. "Wanita Indonesia sekarang banyak yang sadar akan kecantikan diri mereka, mereka rela melakukan apa saja baik itu secara instan maupun tradisional. Saya yakin program ini pasti bisa memberikan manfaat pada mereka." Termasuk menaikan karier dirinya dan mendapat uang banyak.
"Benar, Dokter. Anda memang paham sekali dengan maksud saya," produser dan asistennya berdiri, "Senang sekali kita bisa bekerja sama ke depannya."
Agus menjabat tangan produser, "Saya malah lebih terhormat bisa membantu wanita Indonesia menjadi cantik."
"Ah dokter ini," Produser dan asisten membalas jabat tangan, "Ngomong-ngomong itu tadi anak Dokter, ya?"
"Ica? Ah, itu anak kakak saya," jawab Agus dengan senyum canggung.
"Oh, saya kira anaknya. Habis dokter seganteng anda pasti banyak yang suka," angguk Gilang sambil jalan menuju mobilnya di garasi.
"Hahahahaha doakan saja dapat yang cocok," tawa Agus.
"Amin, mari dok," Gilang duduk di belakang kursi pengemudi sementara asistennya di pengemudi.
"Iya." Agus tersenyum bahagia.