Satpam rumah membuka pagar, Agus melambaikan tangannya. Setelah mobil perwakilan stasiun tv pergi, satpam menutup pagar sementara Agus masuk ke dalam rumah dengan riang.
"Ica, kalau Ica terkenal nanti jangan lupa kakek ya," sindir Andre begitu Agus melewati ruang keluarga, pembantu yang membersihkan ruang tamu tersenyum mendengar sindiran Andre.
Agus duduk di sofa dekat ayahnya. "Tadi pihak TV mengundang Agus menjadi host disitu."
"Oh bagus itu, kamu pasti terima tanpa berpikir," ujar Andre tanpa menatap putra kedua yang tengil, kakinya dibuat main ayunan Ica.
"Ayah, Agus 'kan sudah dewasa jadi Agus bisa membuat keputusan sendiri," Agus bingung dengan sikap ayahnya ini.
"Kapan kamu mulai syuting?" tanya Andre menantang Agus
Agus membuka proposal lanjutan yang diberikan produser, "Setiap hari jumat."
"Hmmm," cibir Andre.
"Memangnya Ayah tahu jadwal dari awal?" tanya Agus.
"Kamu pikir siapa pemilik stasiun TV yang mengundang kamu? Teman Ayah! Waktu di pesta sempat bahas dengan Ayah, tapi dia tidak tahu kalau kamu anakku," jawab Andre dengan meninggikan suara. "Untung sih," tambahnya.
Agus bersandar di sofa, tertarik dengan cerita Andre. "Terus?"
"Terus kamu lupa tiap hari jumat itu apa?" tanya Andre yang menatap tidak percaya Agus.
Agus berpikir sejenak, memangnya hari jumat hari ap... "Astagfirullah! Maaf, lupa."
"Ya! Ya! Lupa terus, om kamu ini memang kakek-kakek! Lebih tua dari kakek!" Andre menggelitik perut Ica yang sudah tiduran di atas sofa.
Hari Jumat juga biasanya Andre membuat makanan dan dibagikan ke orang-orang yang tidak beruntung di jalanan ibukota setelah sholat isya sampai malam. Biasanya Andreas dan mom bantu Andre, tapi ini dilimpahkan ke Agus.
"Maaf. lupa." Ulang Agus dengan raut wajah menyesal. "Aku akan coba bertanya untuk jadwal ulang."
"Tidak masalah, Ayah masih punya Ica dan pegawai. Kalau tidak ada pun tidak akan merepotkan kamu," cibir Andre.
Ica tertawa geli. "Om sih kayak kakek-kakek makanya jadi pelupa gitu."
Agus menutup wajah dengan kedua tangan, dosanya ke bapak jadi tambah berat. Kalau mas Bagas tahu ini bisa marah besar apalagi mom. Bodohnya, gimana bisa langsung asal setuju dan tidak cek detail?
"Maaf." Agus melirik sedih Andre tapi tidak ada tanggapan, kali ini ayahnya benar-benar marah.
-----------------
"Syukurlah ya dok, akhirnya impian dokter dan saya untuk edukasi masyarakat Indonesia mengenai hewan dikabulkan." Len buka suara di dalam mobil.
Setelah mbak Nana dan mbak Lilis pergi, Karina dan Len cepat-cepat berangkat ke kos Len sebelum terjebak macet meskipun jamnya sudah bukan pagi lagi.
"Dan untungnya syuting di pagi hari." Karina mengetukan jarinya di setir dengan senang.
Len membaca proposal. "Syuting di pagi hari sementara acaranya jam 8 malam di hari jumat hmmm kenapa gak sabtu aja ya di malam minggu?"
"Nanti coba kita bahas ke mbak Lilis dan mbak Nana, memangnya kenapa Len?"
"Hehehehe itu jam kerja saya, di toko kalau jam segitu nanyangin sinetron dok."
"Kalau maukan kita bisa minta rekamannya," saran Karina.
"Memang bisa dok?" tanya Len.
"Bisa. Pasti mereka mau ngasih."
"Kalau gitu saya mau dok!" Len kembali membaca proposal dan mempelajarinya.
------------------
Suasana makan malam di rumah Tjokro lebih suram dari sebelumnya, biasanya Andre yang tegang kali ini Andre dan anak sulungnya yang tegang, sepertinya ayah mengadu lagi ke masnya ini. Agus melirik ayahnya yang sesekali mengelus kepala Rambo di bawah meja makan sementara mas Bagas makan dengan tenang, Ica disuapi baby sitter di kamarnya.
Agus yakin sebentar lagi masnya akan ceramah membela bapak.
Andre berdehem dan menendang kaki Bagas di bawah meja. Bagas menoleh, ia melihat Andre melotot sambil memberi tanda.
Bagas berdehem, "Gus."
Bagus mengangkat kepalanya, "Ya, mas?"
"Kamu mau syuting untuk acara tv ya?"
"Iya mas." Angguk Agus dengan cemas.
"Kapan?" tanya Bagus sambil menatap sang adik dengan tatapan pengacara.
Agus menghela napas, ia tahu kalau Bagas mengetahui jadwal syutingnya itu tapi Bagas hanya ingin mendengar langsung dari mulut Agus, "Jumat, Mas."
"Jumatnya kapan?"
"Minggu depan, Mas."
"Hmmm..." Bagas melirik Andre, ia berusaha menahan tawanya melihat wajah Andre yang kekanakan karena marah, "Kamu tahu kan setiap hari jumat keluarga kita ada acara?"
"Tahu mas, tapi Agus lupa," jawab Agus dengan nada sedih.
"Agus atau Rangga?" sindir Andre.
"Ayaah," Agus melirik takut-takut ayahnya, ia tidak berani melawan orang tua yang sudah merawat dan membiayai sekolahnya hingga sukses seperti sekarang, "Orang-orang jauh lebih mengenal nama Rangga daripada Agus."
"Kamu ini, tidak ada rasa syukurnya! Mommy kamu itu udah capek-capek kasih nama ke kamu! Kamu malah lebih bangga memakai nama Rangga!" bentak Andre sambil memukul meja makan.
"Rangga itu 'kan pemberian nenek, ibu bapak," kilah Agus, "Itu 'kan jauh lebih dihargai."
"Tidak usah ngeles kamu!" balas Andre.
Agus menunduk, Bagas menghela napas melihat kelakuan adiknya. Ia memijat kening. "Kamu kok bisa berubah gini sih, Gus. Semenjak lulus dokter dan buka praktik kamu lebih banyak sibuk dan keluarga sering dilupakan, yang paling fatal itu kamu malah lupa janji sama ayah. Ini sudah dua kali lho gus."
"Iya, Mas. Nanti coba Agus diskusikan ke produsernya." Agus juga tidak berani membantah perkataan masnya.
"Oh ya, tidak bisa, kamu kira mereka itu bisa kamu atur-atur? Kalau kamu pemilik stasiun TV ya bisa!" ketus Andre sambil menggigit daging semurnya.
Agus memutar otak, mencari jawaban yang pas. "Tapi teman Ayah 'kan pemilik stasiun TV itu."
Andre menggebrak meja makan lagi. "Kamu kira Ayah kamu suka seperti itu? Tanggung sendiri masalah kamu! Jangan bAyah yang kamu pakai!"
Agus terdiam,. "Agus cuma bicara, tidak minta tolong." Hari ini dan beberapa hari ke depan, mungkin dirinya harus mengalah dipanggil nama kampungan itu.
Bagas menghela napas dan bicara ke Andre. "Masalah hari jumat, Bagas usahakan mengosongkan jadwal buat ayah."
"Nggak usah! Ayah bisa sendiri! Kamukan pengacara, kantor kamu juga baru bangkit dan butuh uang banyak buat anak kamu 'kan," Andre menepuk tangan Bagas di atas meja dengan kasih sayang. "Ayah bisa sendiri, masih ada yang mau membantu kok. Tidak usah cemas!"
Bagas menghela napas lega mendengar kalimat menenangkan bapaknya setelah itu melirik adiknya yang salah tingkah, "Makan gus, jangan dimainin makanannya!"
Agus mengangkat kepalanya. "Iya mas. Maaf," setelah itu ia melahap makanannya. Perasaan bersalah masih ada di dalam benaknya, mungkin bisa diperbaiki dengan bertemu orang-orang stasiun TV.
Bagas paham jalan pikiran adiknya dan menegur. "Jangan coba mengubah jadwal seenaknya."
Agus mengangguk cepat.