DITYA PULANG

1000 Kata
Karina asyik duduk di depan tablet di kamar tercinta sambil skype dengan mas kesayangan. Dia mulai melapor tentang klinik dan cerita mengenai tawaran masuk TV bersama Len. "Bagus itu," kata Ditya sambil mengunyah bakso sampai kedua pipinya menggembung. "Kamu bisa kenalkan ketampanan mas kamu ini." "Idih, bintang utama hewan malah mas yang mengajukan diri," cibir Karina. "Siapa tahu," Ditya terlihat menelan makanannya. "Eh, kamu selama ini cuma ngabarin tentang kerjaan, mana yang lainnya?" "Yang lain apa?" tanya Karina tidak mengerti. "Pacar kamu, pacar!" Ditya tertawa keras. "Masa kamu tidak punya pacar?" "Mas sendiri punya pacar? Enggakkan?!" balas Karina dengan nada ketus. "Eits, jangan salah. Papa malah melarang aku pacaran sampai ambil S2 di luar." Ditya menjawab dengan santai sambil mengangkat ke dua bahu. "Apa? Curang!" Ditya tertawa geli melihat kelakuan adiknya, "Aku kan cowok. Kata papa, cowok itu harus sukses, mau makan apa nanti anak aku kalo bapaknya nggak sukses." "Terus aku?" tanya Karina menunjuk dirinya sendiri. "Ya terima nasib kamu! Suatu saat pasti papa sama mama teriak-teriak minta menantu dan cucu." Kelakar Ditya. "Tidak boleh melewati, Mas," kilah Karina. "Ah, gampang itu. Syaratnya Cuma menuruti permintaan yang tua 'kan? Nah, aku Cuma minta duit sepuluh rebu sama nasi gorengnya bang Midun. Gampang 'kan? Masa susah sih menuhinnya?" "Iiihhhh," Karina cemberut. "Pokoknya mas duluan yang kawin." "Kawin mah gampang." Ditya menaik-turunkan kedua alisnya dengan raut wajah genit. "Maksud Karina menikah!" "Yah kan kamu udah tau papa gimana, masa kamu mau bantah? Hayooo, dosa lho!" goda Ditya. "Nggak tahu ah!" Karina menjadi kesal dengan ulah kakaknya. Ditya menghentikan candaan, kali ini ia bersikap serius, "Karina, kamu beneran gak punya pacar?" "Enggak," tegas Karina, "Aku sibuk sama kerjaan." "Aku bisa liat itu, kulit kamu tambah kucel. Anak professor malah kucel gini." Decak Ditya. "Bodoh!" "Yah, pokoknya kalo kamu punya cowok, kenalin mas dulu baru kenalin ke papa-mama. Mas yang seleksi." "Kok jadi mas yang ngatur?" tanya Karina. "Daripada papa-mama bertindak tegas. Tegasnya mereka lebih kejam dari mas lho, mau ditegasin papa-mama? Gak papa, aku ikhlas kok." "Tidak mau, mendingan sama mas." Geleng Karina sambil bersandar di kepala tempat tidur, "Eh, tapi, nanti kalau sudah mulai syuting, bantuin aku ya. Pengetahuan aku mengenai hewan tidak sebanyak mas sama mama-papa." "Kalau itu, apa sih yang enggak buat adik kesayangan aku ini. Ih gemes deh," balas Ditya dengan nada genit. Karina memutar bola mata. Dia jadi bertanya-tanya, perempuan macam apa yang akan dinikahi kakaknya nanti? Otak saja sengklek seperti ini. Karina berani bertaruh, kakaknya ini tidak akan menikah dengan perempuan macam kekasih si dokter Rangga itu! Amit-amit jabang bayi kalau punya kakak ipar seperti itu hiii... "Karina! Karina!" panggil Ditya sambil melambaikan tangan di depan layar tablet dengan raut wajah panik, "Kamu melamun? Yeee, malah melamun!" Karina sadar dari lamunannya, "Maaf! Tadi Cuma bayangin Karina punya kakak ipar seperti apa." "Pacar saja aku gak punya udah kamu bayangin punya kakak ipar!" decak Ditya, sambil menggelengkan kepala dengan miris. "Ya siapa tahu, hehehehe." -------------- "Karinaaaaaa!!!" Ditya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar di bandara kedatangan, Karina melihat kanan-kiri, ia malu dengan kehebohan masnya, datang-datang sudah jadi tontonan orang. Ditya jalan menghampiri Karina dan memeluk adiknya dengan kebahagiaan yang meluap-luap. "Idiiih adik mas ini jaimnya ampun-ampunan, mirip papa." Karina menepis tangan mas Ditya yang memencet hidungnya. "Mas ini malu-maluin aja, tau gitu Karina nyuruh Len yang jemput mas!" "Kamu ini gak ada syukurnya punya mas seganteng dan segagah ini," Ditya memamerkan ototnya. Sekarang ia hanya memakai kaos abu-abu pas badan dan celana tiga perempat. "Koper mas mana?" Karina tidak memperhatikan aksi pamernya Ditya, dia malah clingukan di belakang Ditya. "Sudah dikirim ke Amerika, tempat papa-mama. Papa yang nyuruh biar gak repot! Jadinya mas Cuma bawa ransel ini." "Oleh-olehnya?" tanya Karina melas. "Aku kirim lewat cargo, nanti sore tinggal ambil," Ditya terkekeh sambil merangkul pundak adiknya. "Bagaimana klinik?" "Ramai seperti biasa terutama untuk vaksin," jawab Karina, "Mas, berapa lama di Jakarta?" "Tidak tahu, masih tunggu kabar dari papa baru langsung berangkat," Ditya mengerutkan dahinya melihat seorang wanita berdiri dengan tidak sabar, kelihatannya sedang menunggu seseorang. "Lihat tuh Karina." Karina melihat punggung seorang perempuan yang ditunjuk kakaknya, "Kenapa memangnya mas? Seksi kok. Naksir?" Iya, perempuan itu memakai dress selutut berwarna biru dengan jaket jeans dan kacamata besar bermerk. Koper mahal terlihat di sampingnya. "Kapan adik aku bisa seperti itu?" "Iiih, kalau pengen yang itu sana gih. Rayu!" Karina melepas rangkulan masnya. Tak lama terdengar suara yang tidak asing di telinganya. Ditya dan Karina melihat kehebohan di depannya. "Kamu kok lama sekali sih sayang?!" seru Tasya. "Maaf, maaf. Akukan ada pasien jadi gak bisa tinggal seenaknya." "Iiihhh" Tasya mencubit lengan kekasihnya, "Tapi kasih tau aku kalau telat, aku udah nungguin kamu lebih dari 1 jam nih, hampir aja aku naik taxi." "Iya, ya maaf," pinta Agus yang berhadapan di Tasya, tanpa sengaja melihat Karina berdiri bengong di belakang Tasya, tak lama seorang pria menghampirinya, merangkul pundak dan mencium pipi Karina. "Beb? Kamu kok melamun gitu?" Tasya mencubit lengan Agus. "Ah, maaf. Aku hanya teringat sesuatu aja. Kamu mau nginep dimana?" tanya Agus. "Di rumah kamu gimana?" tanyanya manja. "Tasya," ketus Agus dingin. Tasya menghela napas, "Bercanda, nginep di hotellah." Agus melirik ke belakang Tasya lagi, dokter hewan dan kekasihnya itu sudah tidak ada. Ia merangkul pinggang Tasya sambil menarik kopernya, "Yuk, pulang!" Tasya ikut merangkul Agus, "Love u sayaaaaanng." Agus mencibir di dalam hati tentang Karina yang dicium seorang pria. Karina mengawasi punggung Agus yang berjalan menjauh, dengan tatapan menusuk. "Ada apa? Kamu mengenal seseorang di sini?" tanya Ditya. "Hanya seorang musuh yang memilik mulut rendahan. Heran, bagaimana bisa mulut itu digunakan untuk merayu wanita?" Ditya menjadi khawatir. "Kamu... sedang menyukai seseorang?" tanyanya dengan perasaan was-was. Karina menggelengkan kepala. "Tidak, bukan apa-apa." "Jawab yang jujur, Karina." Karina mencebik dengan raut wajah kesal. "Tidak." "Yakin?" tanya Ditya untuk memastikan. "Ya, aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama," ucap Karina. Ditya menghela napas lega, lalu merangkul adiknya dengan kasih sayang. "Mas yakin, kamu bisa menjaga diri dengan baik. Kamu itu buta dan bodoh soal cinta." Karina tidak bisa membantah ucapan kakaknya. "Hahaha... terima kasih."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN