Di dalam mobil, Ditya menyetir mobil. "Jadi, mulai minggu ini kamu sudah mulai syuting? Wow, komisi berapa tuh?"
"Komisinya belakangan, nanti mas juga tahu."
"Boleh tuh mas ditraktir."
"Mimpi!"
"Ye, gak apa. Sesekali traktir mas kesayangannya ini."
"Iyaaa."
Ditya mengetuk setir mobil. "Eh, untuk sementara klinik mas ambil alih ya, mas lagi butuh duit."
"Iya, kan dari awal itu emang klinik mas!" jawab Karina, "terus cemilan?"
"Ya elah, cemilan saja yang dipikirin. Iya ya besok mas ambil!"
"Beneran ya, aku ngidam soalnya." Karina menepis tangan Ditya yang hendak menyentuh perutnya. "Apa sih!"
"Katanya ngidaaammm." Kekeh Ditya.
"Ya ngidam buat makanan bukan karena hamil," sahut Karina kesal.
"Ya kamu kan bicara gitu di depan dokter jadinya nangkep kesitu," sahut Ditya dengan cepat.
"Emang aku hewan? Iiiihhh mas Ditya sukanya itu lho." Karina kesal dengan keisengan Ditya. "Gak sopan tahu!"
Ditya tertawa keras sambil mengacak rambut adik kesayangannya. "Tadinya aku berharap kamu ikut ke Amerika sama bibi, aku kadang gak tega ninggalin kamu berdua doang sama bibi."
"Kan ada Len." Karina menyebut nama asistennya.
"Itukan baru-baru ini aja, aku suka Len dari cerita kamu, aku percaya sama pendapat kamu."
Karina tersenyum manis, sudah lama tidak dipuji meskipun dari kakaknya sendiri. "Ngomong-ngomong beneran nggak ada cewek di sana?"
"Adanya betina bukan cewek!" ujar Ditya. "Tidak adalah, mana mau cewek naik turun gunung, masuk hutan demi seekor hewan. Kalaupun ada, dia gak bakalan mikir tentang relationship!"
Karina mengangguk paham. "Ouw."
"Terus kamu sendiri beneran tidak ada cowok yang ditaksir?"
"Tidak ada." Karina meregangkan badannya. "Mana ada cowok ganteng mau sama cewek buluk seperti aku."
"Makanya perawatan, mumpung mas ada di Jakarta. Kamu perawatan sama teman yang kamu anter ke klinik kecantikan itu siapa namanya?"
"Ririn!"
"Ya, Ririn."
"Enggak ah, mahal!"
"Ye, ni anak ya kalo gak mau mahal kamu kudu rajin ala tradisional kayak mama. Tiap hari pake masker cucian beras terus pake masker putih telur... berapa hari sekali tuh putih telurnya? Hehehehe kuningnya lumayan bisa buat kucing-kucing aku."
"Seminggu sekali!"
"Ya itu! Seminggu sekali, kalo kamu bisa berpenampilan seperti cewek di bandara tadi, aku traktir kamu makan siang di warung mang Jajan deket shelter."
"Iiihhh, nggak modal banget sih traktir adeknya!"
"Ya mau gimana? Duit abis di Kalimantan terus mas harus nabung buat lanjut kuliah nanti."
"Papa nggak mau biayain?"
"Malu keles dikit-dikit pake duit orang tua."
Karina bersandar di kursinya. "Alah, ujung-ujungnya papa yang biayain lagi." Karina melirik masnya yang nyengir.
"Taulah sifat papa. Eh, kita ke klinik dulu ya, baru pulang ke rumah." Ditya membelokan mobilnya ke arah klinik.
"Gak papa sih tapi mas nggak capek?"
"Enggak!" Tiba-tiba raut wajah Ditya berubah muram.
Karina tidak berani bertanya lebih jauh, dia memutuskan nonton TV di handphonenya. Tak lama muncul iklan program TV mengenai kecantikan yang akan segera tayang. Karina mengikuti sampai selesai hingga ia melihat nama dokter yang akan menjadi host disana. "dr. A. Rangga, T," gumamnya.
"Bukannya itu dokter terkenal, ya?" sahut Ditya.
"Mas tahu?"
"Tahu. Cewek-cewek disana pada ribut, terutama yang kaya raya, mereka rela ke Jakarta demi menemui dokter tampan dan terkenal itu."
Karina mendengus kasar. "Cewek-cewek itu, nggak tau saja kelakuan si dokter."
"Cowok kalau sudah ganteng dan tenar pasti jadi playboy, nggak heran."
"Memangnya mas sendiri nggak ganteng?"
Ditya nyengir sambil colek dagu Karina. "Akhirnya adek mas yang manis dan imut ini mau mengakui."
"Apaan sih!" Karina kembali focus ke handphonenya, ia googling mengenai dokter itu tapi tidak ada data detail mengenai keluarga ataupun lainnya yang ada hanya prestasinya, wajar sih kalau orang melindungi keluarganya dari public. Lalu ia tersadar buat apa mencari info mengenai dokter plastik ini. Karina mematikan handphonenya dan menyalakan lagu Taylor Swift di mobil.
---------
Di mobil hummer milik Agus, dia berusaha menabahkan diri saat Tasya, kekasihnya yang sekian bercerita mengenai perjalanannya ke luar negeri. Tasya ini anak pengusaha batu bara di Kalimantan, rumahnya di Banjarmasin tapi lebih sering jalan-jalan ke luar negeri atau menemui dirinya di Jakarta.
"Jadi ya sayang, temen aku tuh ngeliat foto-foto perjalanan aku di i********: mereka semua pada heboh dan minta oleh-oleh, ya aku belikan sih..."
Selain cantik dan kaya sifatnya juga baik pada orang kalau memuji dirinya, awal perkenalan dia kelihatan manis dan baik tapi begitu pacaran dan mengenal sifatnya yang berbeda Agus hanya bisa diam dan mengelus d**a selama perempuan ini tidak minta dinikahi. Agus juga sering membuang uangnya buat pacar-pacarnya termasuk Tasya yang bapaknya kaya-raya.
"Sayang, kamu kok diem aja daritadi sih?" cemberut Tasya.
"Terus aku mesti nanggepin gimana? Kamu liatkan kalo aku lagi nyetir."
"Ya tapi jawab kek, jangan diem aja!"
"Iya, ya."
"Hummm... sayang, turunin aku di minimart sebentar ya. Aku haus." Tasya menyentuh tenggorokannya.
Kebanyakan bicara sih. Batih Agus. "Ok."
Tak lama Agus menemukan minimart di pinggir jalan, ia segera menepikan mobilnya. "Udah nih."
Tasya mencium pipi Agus dan turun dari mobil. Selagi menunggu Tasya belanja, Agus iseng nonton TV di handphonenya, siapa tahu dia bisa menawarkan jasanya ke salah satu artis baru di ibu kota. Saat ia mengganti channel, ia tertarik dengan iklan program TV baru mengenai dunia hewan.
"Boleh juga, bapak nonton ginian. Siapa tahu ada pengetahuan mengenai Rambo dan Bunga," gumamnya tertarik, "siapa tahu, marahnya bapak reda kalau nonton ginian." Saat hampir habis, iklan itu menayangkan foto dokter yang akan memeriksa. "Dokter Karina, gak mungkin dokter yang waktu itu." Gelengnya sambil tertawa kecil.
Saat iklan habis, cepat-cepat ia membuka browser mengenai program TV itu dan menemukan nama salah satu dokter hewan yang akan membintanginya. "Dokter hewan Karina," gumamnya, "Jadi dia juga akan masuk TV."
Tasya masuk ke dalam mobil dan meletakan kresek putih berukuran besar di belakang. "Sayang, kamu serius banget melihat handphonenya."
Agus menoleh. "Cuma lihat jadwal saja."
Tasya memasang seatbeltnya. "Jadwal operasi kamu atau jadwal siaran kamu?"
"Keduanya." Agus meletakan handphone di depan setir. "Kita mau kemana sekarang?"
"Aku nggak mau ke hotel dulu, kita makan saja ya." Rayu Tasya. "Aku masih ingin sama kamu dulu, tidak apa kan?"
Agus mengangguk pelan dan menjalankan mobilnya ke restoran favorit Tasya. Mengalah demi seorang wanita, merupakan tindakan gentleman. "Apapun yang si cantik inginkan."
Tasya tersipu malu mendengar pujian kekasihnya. "Terima kasih, sayang."