Andre pulang dari peternakannya dengan hati kesal, kelakuan Agus masih membekas di hati, ujung-ujungnya ia jadi memarahi semua pegawai di peternakan.
Kesalahan sedikit menjadi besar, Andre yang sadar dirinya emosi memutuskan pulang ke rumah daripada mendzolimi anak buahnya lebih lanjut.
Setelah selesai mandi ia melihat Rambo dan Bunga duduk santai di ruang bermain dekat taman. Ia membuka pintu pembatas kaca dan duduk di samping Rambo yang sedang dijilati Bunga.
"Enak ya Rambo, kamu masih disayang sama Bunga," ujarnya sambil melamun.
"Ayah."
Andre melihat Bagas sedang jongkok di taman sambil memakai topi petani, kaos dan celana tiga perempat yang ia kenakan saat masih mahasiswa, "Kamu kenapa di sana, Gas? Bukannya kamu ke kantor?"
"Hari ini sidangnya cepat dan tidak ada jadwal lanjutan. Jadi, Bagas pulang saja rawat tanaman mommy," Bagas berdiri dan menepuk pantatnya yang kotor, "Ayah kok pulang cepat? Tumben."
Andre menghela napas sambil tetap mengelus bulu Rambo. "Ayah seharian ini marahin karyawan, jadi nggak enak sendiri makanya cepat pulang daripada marah-marah lagi."
Bagas duduk di sebelah Andre. "Agus?"
"Siapa lagi kalau bukan adik kamu!"
"Yah, anak kayak gitu jangan dibawa ke hati. Biar saja dia belajar, yang penting 'kan sudah dinasehati, mau dia dengar atau tidak terserah dia."
"Nggak bisa gitu Gas, biar bagaimanapun dia anak Ayah. Ayah yang rawat dia dari bayi sampai sebesar itu kalau dia sudah berbuat salah, kadang Ayah berpikir letak kesalahan bapak dimana."
Bagas menghela napas. "Orang tua di dunia ini tidak ada yang sempurna, kalaupun Agus salah kita sebagai keluarga tidak boleh meninggalkannya. Ayah selalu bicara begitu."
Andre menepuk pundak anaknya. "Kamu memang anak kebanggaan Ayah. Kalau kamu mau menikah lagi, Ayah punya calon buat kamu."
Bagas menggeleng pelan. "Bagas sekarang fokus ke Ica dulu. Kasihan Ica kalau Bagas menikah lagi."
"Kamu trauma sama mantan-mantan kamu itu?" Andre ingat mantan kekasih Bagas yang rela antri demi mendapatkan hatinya tapi saat Bagas mengenal mereka satu persatu yang ada bikin sakit hati.
"Enggaklah, mana mungkin sakit hati sama orang yang nggak penting," tawa Bagas. "Bagas cuma ingin fokus dulu ke Ica dan karier Bagas."
"Ayah mengerti, setidaknya Ayah punya calon buat jaga-jaga."
Bagas menaikan salah satu alisnya. "Memangnya sama siapa?"
"Ada anak perempuan kenalan bapak, anaknya baiiiiik banget terus suka menolong. Pokoknya tidakl akan rugi kalau menikah sama anak itu."
"Ayah yakin sekali."
"Insting seorang bapak ya begini," Andre menepuk dadanya. "Ica mana?"
"Ke dokter sama baby sitter."
"Agus? Bukannya Agus yang harus nemenin Ica?"
"Mbaknya gak bisa hubungi Agus makanya ijin ke Bagas tadi pas di pengadilan," Bagas meletakan topi petaninya di lantai, "Sibuk mungkin sama kliennya."
"Halah, paling anak itu keluyuran sama salah satu pacarnya. Kayak nggak kenal adik kamu saja."
"Jangan berpikiran buruk dulu siapa tahu Agus beneran sibuk."
Andre berdecak. "Masih saja belain adik kamu itu!"
Bunga berdiri dan meletakan kepalanya ke Bagas. "Bukannya belain, diakan juga meniti karier. Bagas tahu gimana susahnya mencari klien."
"Kamu kira Ayah nggak susah mencari klien? Supaya bisa nyekolahin kalian yang mahal emang gak bapak rasain?"
"Bagas tidak bermaksud begitu."
"Yang Ayah tahu, adik kamu itu sudah keterlaluan, sudah tidak mau peduli dengan keluarga ini lagi. Apa perlu bapak usir dia dari rumah kamu ini?"
"Ayah," tegur Bagas. "Jangan bicara seperti itu."
"Ayah ini sakit hati Gas, kamu lupa apa bapak rela jual tanah dan rumah demi biaya kedokteran adik kamu itu? Sampai Ayah numpang di rumah kamu ini kalau saja Andreas kuliah bukan beasiswa, bapak mana mampu biayain dia kesana! Bapak Cuma bisa kasih tiket keberangkatan sama mommy kamu." Andre mulai cerita. "Bahkan mommy kamu rela pulang ke tanah airnya untuk kerja disana supaya kehidupan adik kamu di Jerman terjamin! Ini malah Agus gak tahu diri."
Bagas mendengarkan cerita bapaknya yang selalu diulang-ulang, saat itu dirinya memang tidak ada di Jakarta.
Saat keberangkatan Andreas dan mommy, Bagas berada di Amerika untuk operasi Ica.
"Mommy kamu di Jerman apa pernah minta duit sepeserpun dari kita? Enggak!" Andre mengibaskan tangannya, "Mommy kamu malah menolaknya, karena dia tahu kalau kita disini serba sulit. Kamu harus biayain kesehatan Ica, bapak harus bayar utang dan agus? Dia sibuk bangun kariernya. Memang dia bantu sedikit kirim uang ke mommy kamu tapi itu masih belum setara dengan perjuangan Andreas di Jerman. Coba suruh Agus bertukar tempat dengan Andreas! Mana mau dia!"
"Tapi Aguskan sudah menyesali semua kesalahannya pak." Bagas tahu dengan sifat Agus tapi dia juga tahu kalau adiknya tidak jahat, adiknya hanya belum belajar saja. Kadang Agus pun membantu Bagas soal uang, Agus juga tidak perhitungan. Yang buruk dari perilakunya hanya lebih mementingkan waktu untuk diri sendiri sementara bapak maunya Agus lebih punya waktu untuk bapak.
"Menyesali kesalahan yang sama!"
"Agus itu sudah dewasa, suatu hari nanti dia akan lebih fokus bersama istri dan anaknya."
"Itu yang Ayah takutkan, menikah memang wajib tapi Ayah itu cuma ingin satu hal saja. Selama dia belum menikah, cobalah lebih banyak meluangkan waktunya bersama keluarga tapi yang dia pikirkan pasti seperti ini, 'kapan lagi bisa meluangkan waktu untuk diri sendiri sebelum menikah.', benar tidak?"
"Iya," Bagas setuju dengan pemikiran Andre, Bagas pun dulu pernah seperti itu tapi tidak separah Agus.
"Lain kali jangan tegur adik kamu, percuma saja tegur dia. Yang ada kitanya sakit hati!"
"Iya."
"Kamu lanjutin saja rawat tanaman mommy kamu." Andre melihat beberapa tanaman istrinya yang tidak rusak, "Ayah heran, Rambo sama Bunga kok nggak ngrusak tanaman mommy kamu."
Bagas kembali memakai topi petaninya dan jongkok di depan tanaman mawar mommy dengan pupuk, "Rambo sudah terlalu tua buat main, kerjaannya cuma duduk, tidur dan makan. Makan sudah disediakan jadi gak terlalu rewel, kalau Bunga memang sudah dididik tidak boleh merusak tanaman mommy. Mommy yang didik."
"Pupuknya sudah kamu minta?"
"Sudah, makasih." Dua hari lalu Bagas minta pupuk kotoran sapi ke bapaknya dan tadi pagi dikirim karyawannya, mumpung siang ini gak ada kerjaan akhirnya Bagas tidak jadi minta tolong tukang kebun mengurus tanaman mommy, dirinya yang akan mengurusnya seharian ini.
"Perkembangan Ica sudah sampai mana?"
"Beberapa hari lagi alatnya sudah tiba di Indonesia jadi Ica akan dijadwalkan untuk mengganti alat sementara di dadanya."
"Habis berapa?"
"Masih belum tahu untuk alatnya, nanti akan diberitahu sekaligus biaya operasinya."
"Ada ratusan juta?"
Bagas menghela napas, "Bisa sampai segitu."
"Agus yang kasih tahu?"
"Dokternya Icakan teman Agus, pak. Selain itu infonya juga dari Agus."
"Operasinya kapan? Tepat kedatangan alat atau beberapa hari setelah kedatangan alatnya?"
Bagas menggeleng pelan dan berusaha menutupi kesedihannya, ia tetap memunggungi bapaknya, "Bagas tidak tahu, semua tergantung dokter, Agus yang nantinya akan mengurus semuanya."
"Kamu tinggal bayar gitu?" tanya Andre.
"Ya..."
"Kasih tahu bapak berapa bapak bisa bantu."
"Tidak perlu."
"Hutang bapak di bank sudah selesai, kamu tidak perlu khawatir. Hanya Agus memang sengaja tidak diberitahu, mulai bulan kemarin bapak sudah bisa transfer mommy kamu meski gak terlalu banyak."
"Bagas tahu pak, tapi tetap ini tanggungan Bagas." Bagas putar badan, dia tidak mau merepotkan Andre.
"Gas, kamu nggak usah malu sama bapak kamu ini! Tagihan rumah dan semuanya kamu yang bayar. Ayah jadi nggak enak sama kamu, iya kalau kamu kaya rayanya keterlaluan lha ini juga bayar biaya kesehatan Ica. Gini aja, mulai bulan depan bapak yang biayain tagihan rumah ini sampai perekonomian kamu stabil seperti dulu." Andre mengangkat tangannya saat Bagas putar badan hendak bicara. "Ayah tidak mau ada bantahan!"
Bagas menghela napas, percuma adu mulut dengan ayahnya ini. "Sementara saja ya, sampai kantor Bagas sudah pulih seperti dulu."
"Ya."
"Mbeeeekkk." tiba-tiba Rambo berteriak dan sudah terbaring di tanah.
Sontak Andre dan Bagas lari menghampiri Rambo, begitu juga Bunga yang tidak jauh dari Rambo. "Rambo!" seru Andre.
"Kita ke klinik hewan dekat rumah ya pak."
"Bawa dompet bapak di kamar, disitu ada kartu nama dokter hewan langganan."
"Ya!" seru Bagas berlarian masuk ke dalam rumah.
"Ya ampun Rambo, kamu itu ngapain sampai terjatuh gini." Andre mengelus badan Rambo, bunga yang di dekatnya juga menggonggong dan menjilat wajah Rambo. "Astagfirullah, BAGAS! cepat bantu!"
Tak lama Bagas kembali ke taman dan membantu Andre menggendong kambing gemuk itu ke dalam mobil.