"Morniiiiing!" seru Ditya begitu sudah di dalam klinik rekanannya di deretan ruko, klinik miliknya merupakan dua ruko bertingkat tiga yang digabung menjadi satu. "Hallo..."
Lima pegawai lama yang mengenal Ditya langsung berhamburan menghampirinya, "Mas Ditya, gimana kabarnya Kalimantan?"
"Mana oleh-olehnya?"
"Sudah dapat pacar belum?"
"Mas Ditya tambah ganteng aja."
Yang terakhir yang comentar itu cowok, bukan cewek. Karina menghela napas dan menghampiri salah satu pegawai baru yang sedang menyuapi seekor kitten Persia flatnose dengan Spvit.
"Kenapa mbak?" tanya Karina.
"Gak mau makan, diagnosanya demam, ownernya mutusin rawat inap saja, takut nularin saudara-saudaranya," jawab pegawai baru sambil sesekali melirik Ditya, "Pacar mbak Karina?" bisiknya pelan.
"Kakak," jawab Karina singkat.
"Ouw."
"Kenapa? Tertarik?"
"Enggak, saya kan punya pacar. Tumben asja mbak bawa cowok selain asisten mbak itu," katanya sambil menyuapi si kitten yang mengeong keras.
"Ya ampun, anak ini demam dan gak mau makan masih sempatnya bisa mengeong keras," tawa Karina sambil menggendong sebentar si kitten, "Dia yang kerja sama bangun klinik ini."
"Sama dokter Reina?"
"Iya."
"Apanya dokter Reina?" tanyanya kepo.
"Uhmmm... temen kuliah aja sih, tapi neneknya itu bisa dibilang saudaraan sama nenek kami, saudara jauh gitu," cerita Karina, sebenarnya mereka berdua mantan pacar tapi karena sudah terlanjur bangun klinik bersama akhirnya manajemen bersama meskipun Reina sekarang sudah tunangan, "Eh, tapi jangan bilang kalau aku bocorin ini, nanti berabe."
"Iya, Dok." Angguk pegawai itu.
Setelah selesai temu kangen dengan para pegawai lama, Ditya menghampiri Karina, "Oi, ada pasien? Wuaaahhh udah lama nggak lihat kitten flatnose," Ditya mengelus kepalanya.
"Memangnya di Kalimantan nggak ada kucing seperti ini?" tanya Karina.
"Adanya kucing kampung sama kucing hutan yang besar itu," Ditya menaik turunkan alisnya menggoda Karina, "Sakit apa ini?"
"Demam. Ownernya inisiatif rawat inap supaya tidak menulari saudaranya," jawab pegawai baru.
Ditya mengernyi, "Kayaknya aku baru liat? Siapa namamu?"
"Restu, dok," Restu menoleh ke Karina untuk menyakinkan kalau pria di depannya ini seorang dokter.
"Orang ini dokter kok," angguk Karina.
"Demam ya," gumam Ditya sambil menggendong si kitten dan mengarahkan wajah kitten ke wajahnya dengan hati-hati, "Tapi mau makan 'kan?"
"Sekarang sih sudah mau dok, sebelumnya susah makan," jawab Restu takut-takut. "Pas di bawa kesini maunya minum s**u terus."
"Ada giginya kok," Ditya tertawa geli saat si kitten menggigit hidungnya, "Giginya berkembang dengan baik hahahaha."
"Giginya gatal ya, makanya gigit-gigit," Karina mengelus kepala si kitten
Restu tersenyum melihat kelakuan Ditya dan Karina ke si kitten, "Satu keluarga suka hewan ya? Saya jadi iri. Kalau di keluarga saya, yang suka kucing ataupun anjing hanya saya, bapak saya malah lebih suka burung."
"Iya! Orang tua kami peneliti hewan, Karina sudah cerita?" tanya Ditya tertawa renyah.
"Sudah dok. Selalu marah-marah soal pemilik yang tidak terlalu peduli kesehatan hewannya," kata Restu sambil tersenyum kecil.
"Kalau adik saya mah emang garang sama yang suka nyakitin hewan." Ditya mengembalikan kitten ke tempatnya semula. "Reina mana?"
"Keluar makan siang," jawab Restu.
Ditya mengangguk sambil melihat sekeliling ruangan. "Banyak yang sudah dirubah ya."
"Selama dua tahun mas tinggalin banyak memang yang aku rombak demi kenyamanan pasien, aku juga udah koordinasi sama mbak Reina," kata Karina.
"Tidak salah memang kasih kepercayaan sama kamu." Ditya mengacak rambut adiknya. "Aku keliling dulu ya, kamu disini saja sama pasien."
Karina mengangguk senang. "Siap!"
Ditya mengangguk puas, lalu berjalan menuju salah satu ruangan.
"Dia tampan sekali," ucap salah satu staff yang melewati Ditya.
"TOLONG! Apakah ada dokter?" Seru Bagas di pintu masuk klinik.
Sontak orang-orang di dalam klinik menoleh, Karina menghampiri Bagas. "Ada apa, Pak?"
"Kambing ayah saya tiba-tiba tidak bisa bangun, tolong Dok!" kata Bagas ke Karina.
"Bawa kambingnya masuk pak! Saya periksa!" Karina lari masuk ke dalam loker dan mengambil stetoskop cadangannya, setelah itu keluar dari ruang loker dan masuk ke ruang periksa.
Tak lama, Bagas dan Andre masuk ke ruang periksa sambil membopong Rambo dengan dipandu Restu.
Karina terkejut siapa yang datang. "Pak Andre!" gumamnya
Andre dan Bagas meletakan Rambo di atas meja periksa, ke empat kaki Rambo berontak meskipun dalam keadaan terbaring, kambing itu berteriak dengan keras.
"Ini Rambo?" tanya Karina.
"Iya, Dok," jawab Bagas, mewakili bapaknya yang masih shock karena keadaan Rambo. "Rambo kenapa ya, Dok?"
Karina memeriksa kaki Rambo, ketika menyentuh kedua kaki depannya, Rambo berontak dan hendak menyeruduk Karina tapi ditahan Bagas dan Andre.
"Rambo, kamu kenapa nak?" ratap Andre.
Karina melirik Andre sekilas lalu meneliti kedua kaki Rambo, setelah itu ia memeriksa badan Rambo dalam keadaan berbaring dengan stetoskop.
"Dokter?" tanya Bagas setelah Karina melepas stetoskopnya.
"Tidak ada masalah dengan badannya, kondisinya juga sehat tapi kedua kaki depan Rambo terkilir, terakhir dia melakukan apa?"
"Hanya main dengan Bunga dok, anjing Doberman milik mommy saya," jawab Bagas.
Kedua bahu Karina menurun. "Sebaiknya hati-hati. Anjing berbeda dengan kambing, terutama anjing besar seperti Doberman. Apalagi Rambo sudah cukup tua." Karina menghela napas. "Dipijat saja kakinya tiap dua jam sekali setiap hari, kalau sudah enakan baru sehari sekali saja. Kambing berusia tua memang butuh perhatian khusus."
"Tidak dikasih obat, disuntik atau gimana dok?" tanya Bagas yang melihat Andre sudah menangis sambil memeluk Rambo.
"Tidak perlu, kakinya hanya keseleo saja kok. Mungkin tadi pas main, lupa umur si Rambo." Senyum Karina. "Pak Andre juga tidak perlu khawatir ya."
Andre mengangkat kepalanya dan melihat Karina, ia terkejut. "Nak Karina," serunya.
"Selamat siang pak Andre, Rambo hanya terkilir saja." Karina menenangkan Andre.
"Coba dirontgen, Dok. Saya tidak mau terjadi sesuatu dengan anak bungsu saya, ini anak kesayangan saya," kata Andre.
"Ayah saya sudah bilang gitu, apa bisa dok?" tanya Bagas.
Karina menghela napas, sebenarnya hal itu hanya membuang-buang uang tapi untuk menenangkan owner, mau tidak mau harus dituruti. "Restu, tolong rontgen Rambo ya. Hasilnya langsung berikan saya," perintahnya.
"Baik dok." Restu keluar untuk menyiapkan ruang rontgen yang akan dipakai nanti.
"Menunggu dua jam lebih, tidak apa 'kan pak Andre?" tanya Karina pada Andre.
"Berapa jam pun saya tungguin, nak Karina," kata Andre.
"Kalau begitu pak Andre dan pak..." Karina mengernyit ke Bagas.
"Bagas, Dok," jawab Bagas.
"Pak Andre dan Pak Bagas bisa tunggu di ruang tunggu selama staff saya rontgen Rambo. Silahkan." Karina mempersilahkan Andre dan Bagas keluar dari ruangan, sebelum keluar Andre mencium pipi Rambo dan keluar dituntun Bagas.
Karina menutup ruang periksa. "Saya menyusul rekan saya ke dalam dulu ya pak Andre, permisi."
Andre duduk dan mengangguk pelan. "Silahkan, Nak Karina."
Karina mencari keberadaan masnya, ternyata yang dicari berada di lantai tiga ruang obat. "Mas Ditya."
Ditya yang sedari tadi berdiri dan membaca berkas obat menoleh. "Hei."
Karina menghampiri masnya. "Tadi ada pasien masuk, seekor kambing. Di rontgen sekarang."
"Kambingnya kenapa?" tanya Ditya, matanya tetap membaca daftar obat.
"Cuma terkilir, tapi ownernya khawatir makanya dirontgen." Karina memeluk Ditya dari belakang. "Mas, Karina lapeeerrr..."
"Kalau ada maunya aja kayak gini," sindir Ditya sambil menutup buku, "Stock obatnya kenapa sedikit sekali sementara pasien yang datang banyak?"
"Kebanyakan pasien yang datang itu hanya minta di usg, di vaksin rutin atau diperiksa saja. Jadi jarang ada operasi."
"Kalau steril? Tidak mungkin tidak ada kan?"
"Ada kok, kenapa?"
"Tidak, mau dicocokan saja, kalau obat bius, obat vaksin memang sering stock banyak tapi obat-obat lainnya sedikit sekali. Kalau rabies?"
"Jarang ada kasus rabies, makanya dulu yang kita stock banyak jadi kirim ke klinik partnership di Bali, sekarang di Bali vaksin rabiesnya sudah habis."
Ditya mengangkat alisnya, "Oh."
"Kenapa sih mas?" tanya Karina.
"Kaget aja, di Kalimantan biasanya kami punya banyak persediaan obat tapi disini ternyata sedikit sekali obatnya."
"Oh."
"Laper?" Ditya menepuk tangan Karina yang melingkar di perutnya.
"Iyaaaa," kata Karina dengan manja.
"Pesen makanan di warungnya mang Jajan aja, kalau kita yang pesen pasti mau."
"Kok mang Jajan sih."
"Maunya dimana? Kamu taukan uang mas abis bis."
Karina melepas rangkulannya dan bersedekap, "Ya udah mang Jajan tapi mas yang telepon!"
"Nah balik lagikan," tawa Ditya.
"Biarin!"
"Yuk, turun ke bawah. Lihat kambingnya," ajak Ditya sambil menyeret adiknya turun ke lantai satu. Karina pasrah saja diseret kakaknya.