Ruis hampir membanting ponselnya kalau tidak mengingat betapa penting barang itu untuk berkomunikasi dengan Hasan. Sekar sudah berada dalam kuasa pria itu dan Ruis merasa gagal menjaga istri dan bayinya. “Aku tidak akan membiarkan kalian terluka, Sayang. Maafkan ayah Karena bersikap lamban,” gumamnya seraya mengepalkan jemari tangan erat. Ruis menatap kedatangan Hasan. Saat ini ia sedang berada di kamar hotel miliknya. Beberapa saat butuh ketenangan dari banyaknya pekerjaan. Setelah ayahnya mendengar langsung dari mulutnya, pria itu mengerti apa yang sedang dihadapi putranya dan memberikan penawaran untuk menghandle beberapa pekerjaan Ruis. “Tuan,” panggil Hasan begitu memasuki ruangan tamu. “Bagaimana hasilnya?” “Ketua mereka menyetujui apa yang kita tawarkan. Mereka memiliki dendam

