Sekar merasa haus, ia memindai ruangan kamar yang ditempatinya. Tidak terlalu besar. Tidak senyaman yang ada di Mansion. Kini rasa rindu pada aroma tubuh Ruis menghadirkan rasa sesak di dalam dadanya. Kepalanya menggeleng, mencoba untuk mengenyahkan apa yang selama ini coba dielaknya. Namun, setelah merasa harus berpisah, hatinya tidak menginginkan demikian. “Apa karena aku saat ini sedang mengandung anaknya?” kata Sekar bicara sendiri. Mengingat bagaimana perlakuan Ruis padanya tidak terbantahkan kalau apa yang disampaikan mengenai cinta bukanlah omong kosong. Pria itu pandai membuatnya bahagia, tersipu malu, dan merasa diinginkan. Ruis begitu memujanya, memperlakukan seperti seorang putri. Segala sentuhan saat bercinta yang tidak egois dengan memprioritaskan kenyamanan dirinya sebagai

