Ruis hanya bisa berdoa, menjernihkan pikiran, menyingkirkan bayang-bayang buruk. Setidaknya musim gugur akan segera tiba. Suhu lebih dingin dengan jalanan dipenuhi dedaunan kering yang tersibak kala mobilnya melintasi jalanan. Nama Sekar tidak pernah absen dari kecemasan. Anaknya, darah dagingnya. Ia tidak akan pernah memaafkan diri sendiri kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka. Ruis memandang sekilas bangunan kuno dengan jendela kayu yang kini mulai berada dalam jangkauan. Pikirannya sedang menggantung, bimbang kapan harus bertindak. Apakah nantinya akan menyebabkan percikan masalah baru? Ruis mengusap wajah dengan embusan napas panjang. “Kenapa sangat ramai di luar? s**t!” umpat Alli segera memarkir mobil dan memilih jarak aman. “Apa yang terjadi?” tanya Ruis segera membuka pintu

