Ruis dan tiga laki-laki yang ada di sana saling memandang. Keheningan yang mematikan segera menyelimuti. Suara letusan senjata api dari bangunan utama di mana kelompok Hasan dan kelompoknya mulai saling berhadapan kini kembali terdengar. Ruis menatap Sekar yang duduk di kursi itu sedang gemetaran. Penuh kesigapan ia segera memegang tangannya yang teraba dingin. “Sangat berisiko, Tuan. Bisa saja salah dan ....” Laki-laki muda itu meneguk ludah pahit. Ia belum pernah melakukan sebelumnya seorang diri. Keberaniannya tidak boleh membahayakan orang lain. “Ya Tuhan!” keluh Ruis resah. “Sudah kau hubungi mereka? Tim yang kita tunggu?” tanya Ruis mencoba untuk tenang. “Sudah, Tuan. Tapi angin yang berembus kencang sepertinya cukup menimbulkan kesulitan untuk segera tiba di sini,” jelas salah s

