Ruis membelai rambut Sekar yang telah terlelap di sampingnya. Kini tatapannya tertuju pada ponsel yang berbunyi dari dalam saku jaket yang tersampir di punggung sofa. Pria itu bergerak pelan, menyalakan lampu bagiannya lalu bergerak turun dari tempat tidur. Diliriknya sekilas jam tangan tangan yang masih ia kenakan. Sudah pukul dua dini hari. “Mau ke mana?” Suara Sekar setengh mengantuk menghentikan langkah Ruis. Ia menoleh sejenak, tetapi saat mendapati Sekar masih memejamkan mata, Ruis segera melanjutkan berjalan dan meraih ponselnya yang sudah tidak bersuara. Ruis terdiam sejenak, untuk berpikir. Namun, selang tiga detik kemudian, ponsel itu kembali berdering. Nama Alli yang muncul kali ini. “Sudah berani membangunkanku, kau ya?” sindir Ruis begitu mengangkat panggilan. “Maaf, Tu

