Keputusan Marco
Gadis berrambut pendek dengan potongan sebahu itu duduk di kursi kayu setelah melepaskan tas sekolah yang dipakainya.
"Maaf karena sudah meminta bertemu secara mendadak seperti ini," kata laki-laki dewasa bertubuh atletis di depan gadis muda itu. Di atas meja, di depan pria itu sudah terhidang secangkir kopi hitam.
"Ada perlu apa, Om?" tanya gadis itu setelah mengangguk singkat.
Marco Vicenzo mengembuskan napasnya dengan pelan. Ia melihat gadis di depannya dan merasa takjub. Tak pernah ia menyangka bahwa ia memiliki anak perempuan yang sudah SMA. Ia membaca nametag di baju seragam gadis itu dalam hati. HANACA AURELIE.
"Saya yakin, kamu juga canggung dengan pertemuan ini, tapi saya rasa kita harus mengobrol sesuatu yang penting."
"Maksud, Om?"
Marco mendesah pelan. "Bagaimana jika kamu tinggal bersamaku?"
"Apa? Kenapa?" tanya Hana bingung sekaligus kesal dalam hati.
"Bagaimana pun juga saya nggak mau kalau kamu tinggal sendiri. Akan lebih baik jika kamu tinggal bersamaku."
"Aku bisa mengurus hidupku sendiri. Om nggak perlu bersusah payah menyuruhku tinggal bersama Om hanya karena Om ayah kandungku."
Marco menatap putrinya yang memiliki tatapan mata dingin. Melihat Hana menatapnya seperti itu, seolah Marco sedang menatap dirinya sendiri melalui cermin. Hana benar-benar cerminannya dalam versi wanita.
"Saya tahu kamu nggak akan setuju," Marco mendesah pelan sambil tersenyum. Ia pun mengangguk pelan. "Kalau begitu, saya terpaksa akan mengusir kamu dari kost yang kamu tinggali sekarang."
Hana menatap kesal ayah kandungnya. "Om nggak ada hak untuk mengusirku? Siapa memangnya Om...."
"Saya pemilik kost yang sebenarnya," Marco memotong perkataan Hana dengan cepat. "Kamu mungkin baru tahu."
Hana berdecak kesal. "Nggak mungkin. Yang punya kost bukan Om, tapi Tante Tiani."
"Tiani memang orang suruhan saya. Kamu juga pasti baru tahu hal ini kan?"
Hana diam dengan perasaan bergemuruh yang ada di hatinya. Ia tidak mau tinggal bersama orang asing yang tidak lain adalah ayah kandungnya sendiri. Namun, jika ia diusir dari kost, ia harus tinggal di mana? Ia tidak punya uang untuk menyewa kamar kost lain. Apalagi uang jajan yang didapatkannya tidak lain pemberian laki-laki di depannya. Bisa jadi jika ia diusir dari tempat tinggalnya sekarang, ia juga tidak akan mendapat uang jajan.
"Sebenarnya mau Om apa sih? Kenapa Om tiba-tiba nyuruh aku tinggal sama Om?"
Marco pun mendesah. Ia tidak bisa mengatakan perasaan peduli dan khawatirnya pada Hana begitu saja. Rasanya aneh jika ia mengatakan bahwa ia ingin lebih dekat dengan Hana sebagai seorang ayah. Ia ingin mengenal Hana lebih jauh, mengetahui apa kesukaannya atau bagaimana ia ingin menjalani masa depannya nanti.
Hana kembali berdecak lalu bertanya lagi. "Apa Om ngerasa bertanggung jawab karena Om ayah aku?"
Marco terus terdiam.
Hana pun tak melanjutkan perkataannya. Ia tetap diam hingga Marco mengalihkan pembicaraan mereka. "Kamu mau pesan apa?" tanya Marco lalu mengangkat tangannya untuk memanggil pramusaji.
Pramusaji perempuan berseragam merah pun mendekati meja Marco dan Hana.
"Air putih aja, Om."
Marco terdiam dan menatap Hana beberapa saat. "Air putih?"
Hana mengangguk.
Marco mendesah pelan dan kembali bertanya. "Kamu mau makan sesuatu?"
Hana menggeleng sambil menyilangkan tangannya di depan d**a.
Marco tidak habis pikir. Namun, ia tidak bisa memaksa Hana. Ia menatap pramusaji dan berbicara. "Saya pesan air putih dan pancake madu."
"Baik, Pak. Apa ada lagi?"
Marco menggeleng. Setelahnya pramusaji itu pergi dan meninggalkan Hana dan Marco. Keduanya pun terdiam sejenak. Mereka sama-sama canggung.
Hingga akhirnya pramusaji kembali datang sambil membawa pesanan Hana.
"Cobalah pancake madunya!" Marco meletakkan piring berisi pancake madu di dekat Hana.
Hana berdehem sejenak. "Aku lagi diet, Om. Aku minum air putih saja." Hana mengambil gelas tinggi berisi air putih dan meminumnya.
Marco terlihat kebingungan. Akhirnya ia menarik kembali piring pancake madu yang dipesannya. Lagi pula siapa sangka anaknya yang sudah kurus sedang diet? Mau sekurus apalagi memangnya.
"Kamu sudah cukup kurus, untuk apa diet?" tanya Marco tak habis pikir.
Hana berdecak pelan. "Om nggak akan paham meskipun aku jelaskan." Hana sebenarnya tidak diet. Ia hanya sungkan jika harus makan bersama ayah kandungnya.
Marco pun tidak berkomentar lagi.
"Om serius, mau aku tinggal sama Om?" tanya Hana pada Marco.
Marco yang sedang memotong pancakenya pun mengangguk. Ia memakan dan menelannya lalu berbicara. "Saya akan kasih kamu waktu sampai sebelum libur sekolah kamu untuk beres-beres. Kamu libur sekolah mulai tanggal 18 Juni kan?"
Hana menatap Marco tidak percaya. Dari mana laki-laki di depannya ini tahu jadwal libur sekolahnya?
"Pagi minggu saya akan jemput kamu di kost."
"Om, apa Om serius?" tanya Hana masih tak ingin mempercayai ucapan Marco. Bahkan meskipun Marco adalah ayah kandungnya, ia tetap memanggilnya Om. Bagaimana bisa ia diminta untuk tinggal serumah dengan laki-laki asing di depannya?
"Saya sudah menyiapkan kamar untuk kamu tinggali." Marco menjawab dengan mantap.
Hana pun segera menarik gelas di depannya. Ia meminum air putihnya hingga habis. Sepertinya tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali menurut.
***
Gadis itu berdiri di atas kursi belajar lalu mulai mengeluarkan buku-buku novel koleksinya dari rak buku. Ia menyerahkannya pada temannya yang sedang berdiri di sampingnya. Mereka saling bergotong royong memindahkan buku-buku itu.
"Gue bakal sedih nih, habis ini kita nggak bisa berangkat sekolah bareng lagi," gumam gadis berambut panjang itu sambil jongkok berdiri.
"Kita kan tetep bisa ketemu di sekolah," kata Hana berpura-pura tidak masalah. "Lagian kan mulai semester depan kita nggak sekelas lagi, Kay."
"Gue sedih banget," kata Kayla lalu mendesah berat. Setelahnya mereka saling diam. Melakukan beres-beres buku sampai semua buku yang tadinya tinggal di dalam rak berpindah ke lantai kamar kost Hana.
Setelah satu pekerjaan selesai, kini giliran mereka mengikat buku-buku itu menjadi beberapa kelompok.
"Menurut lo, bokap lo itu gimana, Hana?" tanya Kayla sambil menggunting tali sesuai dengan apa yang Hana suruh.
"Gue nggak tahu," katanya cuek.
"Bukannya elo pernah cerita kalau Bokap lo itu belum nikah?"
"Setahu gue sih gitu," balas Hana. Tangannya bergerak dengan terampil.
"Apa jangan-jangan bokap lo mau ngajak tinggal bareng karena merasa bersalah sama lo selama ini?" tanya Kayla pada Hana.
Hana diam dan hanya mendengarkan. Ia masih sibuk mengikat.
"Bokap lo pengen deket sama lo dan nggak mau lo kesepian di sini sendiri."
"Gue nggak tahu, Kay." Hana dengan santai menjawab. "Lagian gue nggak ngarep apapun sama Om Marco."
"Lo masih manggil Om ke bokap lo?"
"Terus gue harus manggil Ayah gitu?" Hana terdengar ketus. "Bagi gue Om Marco cuma orang asing. Dia emang ayah kandung gue, tapi bukan ayah gue yang sebenarnya. Jadi untuk apa gue panggil Om Marco dengan sebutan ayah? Sejak gue kecil, gue benci panggilan Ayah."
Kayla terdiam mendengar perkataan Hana. Ia hanya menepuk punggung sahabatnya dengan pelan. "Sorry, Han. Gue nggak maksud bikin lo marah."
Hana membuat simpul tali lalu berkata. "Gunting, Kay."
Kayla pun menggunting sesuai dengan intruksi dari Hana. Mereka pun terdiam dan lebih banyak bekerja. Bagaimana pun juga Hana harus segera membereskan barang-barangnya. Tiga hari lagi ia akan pindah.
"Kira-kira nilai gue naik nggak ya?" tanya Kayla mengubah topik pembicaraan. Mereka mengingat bahwa sebentar lagi, ia akan menerima rapor sekolah. Sebentar lagi mereka akan menjadi kakak senior di Siliwangi High School.
"Gue nggak peduli. Gue nggak berharap banyak. Apalagi pas kemaren gue banyak absen karena nyokap gue kecelakaan dan meninggal."
"Elo kuat, Han." Kayla bersedih mendengar perkataan Hana. Sahabatnya yang malang. "Kalau gue jadi elu mungkin gue udah nangis terus. Nggak mau sekolah, nggak mau makan. Mogok hidup pokoknya."
Hana menyembunyikan wajahnya dengan rambutnya. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan orang lain.
Tiba-tiba dering telepon berbunyi, Kayla yang menyadari panggilan itu dari ponselnya pun bangkit berdiri. Ia berjalan untuk mengambil ponselnya.
Sementara Kayla menjawab telepon, Hana menghapus air mata yang hampir jatuh melewati pipinya. Ia tersenyum lebar lalu mendesah. Ia harus merasa lebih baik.
"Iya, Ma. Ini juga mau pulang kok. Iya, iya...." Kayla pun menutup panggilan nya. Ia berdecak kesal lalu berjalan mengambil tas selempang yang dibawanya. Ia memakainya lalu pamit pada Hana. "Han, gue udah disuruh pulang sama nyokap gue nih."
Hana pun menoleh sambil tetap duduk di lantai. "Oh oke." Hana sekilas melihat jam dan tidak menyangka bahwa hari sudah semalam ini. Sudah pukul 20.30 malam.
"Ketemu besok lagi ya. Bye!" Kayla pun pamit lalu ke luar dari kamar kost Hana. Hana pun kembali sendiri. Ia melihat kamar kostnya.
Pandangannya mengitari kamar kost dan ia tersenyum lirih. Kamar kost ini ia tempati sejak ia masuk NHS. Sudah terhitung dua tahun dan akhirnya ia harus meninggalkannya.
Hana kembali mengingat fakta yang tidak masuk akal yang dikatakan ayahnya saat mereka bertemu. Kost ini miliknya. Bagaimana bisa? Jika seperti, itu berarti ia sebenarnya sangat dekat dengan ayah kandungnya selama ini kan? Sayang sekali, ia harus bertemu ayah kandungnya setelah ibunya sekarat.
Hana pun mulai membayangkan. Bagaimana jika nanti ayahnya tidak baik? Bagaimana jika nanti ayahnya berbuat yang tidak-tidak padanya? Mereka kan belum saling mengenal.
Menggelengkan kepalanya, Hana pun beranjak dari duduknya. Mungkin lebih baik jika ia beristirahat. Besok ia akan melanjutkan beres-beres lagi.[]
***