Pindah Rumah

1797 Kata
Seluruh murid kelas 11-3 serentak duduk dengan rapi di bangkunya masing-masing. Hana, salah satu murid 11-3 pun duduk di bangkunya sambil mendengarkan guru wali kelas yang sedang berbicara tentang akhir pembelajaran mereka di kelas 11. "Oke. Bapak ucapkan selamat kepada kalian semua karena semuanya akan naik ke kelas 12." Paduan suara kelas 11-3 pun berkumandang bahagia. Meskipun mereka sebelumnya sudah tahu bahwa mereka akan naik kelas dan kembali kelas mereka akan diacak sesuai dengan nilai yang didapat selama 2 tahun pelajaran. "Pak, nanti Bapak ngajar di kelas 12 nggak?" tanya salah satu murid. Pak Angga, wali kelas sekaligus guru olahraga kelas 11-3 pun tersenyum lebar. "Sepertinya tidak." "Yaaah...." Seluruh siswa kembali bergemuruh tidak suka dengan jawaban sangat guru. "Oke, cukup cukup. Meskipun Bapak tidak mengajar di kelas 12, tapi ingat selalu kalau Bapak masih mengajar di sekolah ini. Kalau kalian rindu dengan Bapak kalian bisa melanggar peraturan saat upacara. Bapak akan dengan senang hati bertemu dengan kalian." "Ah Bapak, kita kan murid teladan. Nggak mungkin kita melanggar aturan. Iya kan gaees?" seru Rendi, salah satu murid yang paling sering dipanggil ruang BK. "Huu.... Bukannya elo yang hobi melanggar aturan?" balas Nisa yang langsung disetujui oleh teman-teman sekelas yang lain. "Sudah sudah. Kita langsung saja ya untuk pembagian rapornya. Untuk peringkat pertama diraih oleh Renoya," ujar Pak Angga sambil mengawali tepuk tangan untuk sang juara kelas. Renoya yang dipanggil pun maju ke depan kelas. Ia menerima rapor miliknya. Hana hanya memperhatikan dari tempatnya duduk. Hingga akhirnya namanya dipanggil oleh Pak Angga, Hana pun maju dengan tenang. "Tingkatkan kembali belajarnya ya, Hana. Untuk selanjutnya harap perhatikan pelajaran Bahasa Inggris dan Sejarahnya." "Baik, Pak." "Oh ya, coba kamu tulis nomer hape wali kamu yang baru." Hana ragu tapi akhirnya ia menyalin nomer hape Marco. "Nomer siapa yang kamu tulis?" tanya Pak Angga setelah melihat tulisan angka yang baru ditulis oleh Hana. Hana diam sejenak karena menimbang, apakah ia harus bilang kalau nomer walinya tak lain adalah nomer ayahnya. Selama ini Pak Angga hanya tahu jika ia anak seorang ibu. "Ini nomer Om Marco, Pak. Kalau begitu saya permisi, makasih." Pak Angga pun menulis nama Marco di buku catatannya. Nantinya buku itu akan ia berikan kepada wali kelas Hana yang baru. "Han, gimana rapor lo?" tanya Kayla setelah Hana kembali ke bangkunya. Ia menoleh ke belakang. Hana membiarkan Kayla mengambil alih rapornya yang hanya selembar kertas itu dan lantas diam. Sejujurnya ia sedang memikirkan apa yang akan terjadi jika ia tinggal bersama ayahnya. Seperti apa Om Marco sebenarnya? Hana sungguh tidak mmengenalinya.[] *** Marco berjalan bolak balik di ruang tengah. Ia sedang memikirkan apa yang sekiranya bisa ia lakukan saat tinggal bersama Hana. "Lagi ngapain, Marc?" tanya seorang laki-laki dewasa berambut hitam yang kini dibungkus dengan handuk kecil. "Besok Hana pindah ke sini," balas Marco tidak sesuai dengan pertanyaan teman serumahnya itu. "Aku nggak tahu apa keputusan ini baik untuk kita berdua atau nggak!" "Santai, Bro! Lama kelamaan Hana pasti luluh. Kamu kan menyukai anak-anak." "Dan masalahnya Hana bukan anak-anak lagi." Marco mendesah lelah. "Entah apa yang harus kulakukan? Kamu ada ide, Jun?" tanya Marco pada June. Laki-laki itu terdiam sejenak. Rambut yang sejak tadi diusapnya karena setengah basah pun terlihat berantakan. "Pelan-pelan Hana pasti luluh. Nggak perlu merisaukan sesuatu yang belum dimulai." Marco pun berlalu meninggalkan ruang tengah. Mendengar June menasihatinya dengan mudah membuatnya muak. Marco sadar ia tidak sepatutnya marah, jadi lebih baik jika ia menenangkan dirinya sendiri. *** June melihat Marco yang meninggalkannya begitu saja dan lantas berlalu. Ia akan kembali ke kamarnya untuk mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. Hari ini ia ada janji dengan kliennya, Pak Harjamukti Adipura. Setelah mengganti pakaiannya dengan kemeja putih dan celana biru dongker, June pun melihat ke arah cermin panjang yang ada di kamarnya. Ia menggunakan pomade di rambut sambil menyisirnya menyamping. June memang harus terlihat rapi dan klimis untuk bertemu orang penting. Setelah wajah dan rambutnya siap, June pun memakai jas berwarna senada dengan celana yang ia pakai. June pun pergi ke luar dari kamar sambil menenteng tas kerjanya. *** Marco melihat ke bawah di mana June baru saja ke luar dari rumah dan berjalan menuju mobil SUV hitam miliknya. "Jun!" seru Marco dari atas balkon. June yang baru membuka pintu mobil pun terdiam sejenak. Ia berdiri di samping mobil sambil menoleh ke atas untuk menatap Marco. "Pagi nanti jangan lupa," kata Marco mengingatkan teman serumahnya itu akan janjinya. "Pagi nanti...." June terlihat berpikir. Ia punya janji apa? Ah.... Ia ingat sekarang! Janji untuk menyambut Hana besok di rumah karena anak itu akan pindah ke rumah mereka. "Oke. Gue ingat kok. Gue jalan ya?" Marco mengangguk sambil terus memperhatikan teman seprofesinya itu. Setelah mobil June meninggalkan rumah, Marco pun kembali masuk ke kamar yang nantinya akan Hana tempati. Kasur single dengan seprei bermotif flamingo berwarna dasar pink itu terasa menusuk mata Marco. Ia juga melihat gorden kamar berwarna senada. "Semoga saja Hana suka dengan kamar ini," gumam Marco pada dirinya sendiri. Sebenarnya Marco tidak yakin dengan dekorasi kamar Hana. Namun, karena June terus mendesaknya dan mengatakan bahwa pilihannya pantas untuk anak perempuan, ia pun dengan pasrah mengikutinya. Marco membuka lemari pakaian yang masih kosong dan berpikir untuk mengisinya. Mungkin setelahnya aku bisa mengajak Hana untuk mencari pakaian di mall. Membayangkannya saja membuat Marco tersenyum senang. Kuharap bisa menjadi ayah untukmu, Hana, meskipun aku terlambat untuk melakukannya.[] *** Pukul 08.00 pagi, Hana mendengar suara mobil di luar kamar kostnya. Saat ia melihat ke luar jendela, Hana melihat mobil pindahan berada di luar. Tak jauh dari mobil pindahan itu, ada mobil sedan putih terparkir juga. Itu mobil Om Marco, batin Hana lalu memperhatikan lebih lanjut. Seorang laki-laki berwajah tampan ke luar dari dalam mobil. Anehnya yang datang bukan Om Marco. 'Siapa ya?' pikir Hana lagi. Saat ia terus memperhatikan, Hana melihat laki-laki yang memakai kaos putih bersablon hitam dengan celana panjangnya itu menyalakan rokok. Hana berhenti memperhatikan saat ia mendengar pintu depan kamar kostnya diketuk. Ia pun berlari pelan menghampiri. Dibukanya dan Hana melihat Tante Tiani berdiri di depannya bersama dua orang laki-laki berseragam. "Hani, orang yang ngurus kepindahan kamu sudah datang. Mana barang-barang kamu?" tanya Tante Tiani bersiap membantu keperluan Hani untuk pindah rumah. Hana menggeser posisi berdirinya dan menunjuk beberapa kardus, box penyimpanan, dan tumpukan buku di lantai. "Itu, Pak. Tolong ya...." Kedua petugas yang membantu pindahan pun segera masuk. Tanpa banyak basa-basi, Hana pun melihat barang-barangnya ke luar dari kamar kostnya yang semakin lapang. "Hani, kamu betah-betah ya tinggal sama Pak Marco," kata Tante Tiani sambil memperhatikan ke luar. "Iya, Tante. Ehm Tante Tiani, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Hana sambil terus berdiri di samping wanita paruh baya yang lebih dikenalnya sebagai pemilik kostnya. "Tanya saja, Hana." "Apa benar kalau kost-kostan di sini punya Om Marco?" tanya Hana akhirnya. Tante Tiana menekan tombol kipas angin portabelnya secara terus menerus. "Iya. Memang sekarang dia yang punya. Sebenarnya sih baru satu tahun yang lalu deh kurang lebih." "Oh, jadi baru setahun," Hana bergumam. "Ya udah, aku permisi dulu ya, Tante. Aku mau ikut bawain barang-barangku ke mobil. Biar cepat selesai!" Tante Tiani pun tidak melarang. Ia hanya tersenyum. Wanita itu sendiri tidak ada niatan untuk membantu membawa berat berat, dan sesuai dengan penglihatannya ... barang-barang milik Hana untuk kepindahannya itu pastilah berat. Sementara itu, Hana membawa dua tumpuk buku di kedua tangannya. Ia memegang tali yang sudah menyimpulkan beberapa tumpuk itu dan membawanya ke mobil pindahan. "Kamu Hana?" tanya seorang dengan suara beratnya. Hana menoleh ke belakangnya dan menemukan laki-laki yang dilihatnya ke luar dari dalam mobil ayahnya. "Om siapa ya? Iya, aku Hana." Senyum laki-laki di depan Hana mendadak kaku. "Om?" Ia merasa shock dengan panggilan yang diberikan gadis di depannya. Tunggu sebentar! June melihat penampilan Hana dan menyadari kecantikan gadis itu? Padahal sampai sebelum berangkat tadi June masih berpikir Hana hanyalah anak perempuan yang manis. Tapi apa yang dilihatnya sekarang? Mengapa gadis ini berpenampilan selayaknya orang dewasa. Tubuhnya juga, seperti kebanyakan wanita dewasa dengan minus dadanya yang sedikit rata. "Iya. Om siapa ya? Ada perlu apa dengan saya?" Hana mengulang pertanyaannya karena laki-laki di depannya terlihat kebingunan. "Saya June, bukan Om." June pun membalas setelah tersadar dari lamunannya. "Oh ya, perkenalkan ... saya teman serumah ayah kamu. Kita juga nanti akan jadi teman serumah." June mengangkat tangannya. Hana melihat tangan laki-laki dewasa di depannya dengan bingung. Namun, akhirnya ia menjabatnya. "Saya Hanaca Aurelie, Om June." June tertawa pelan. "Ayolah! Tidak perlu menambahkan Om. Panggil saja, June! Atau kamu bisa memanggil saya Jun. It's better than uncle!" Hana tidak membalas bahkan berkomentar. Laki-laki di depannya pun mendesah. Jika dilihat sekilas, sikap gadis di depannya begitu mirip dengan seseorang yang sangat dikenalnya. MAR-CO! What? Bagaimana bisa dia mirip? Apa ini karena darah yang ada di tubuh gadis di depannya itu juga? Wah, keren.... pikir June. "Oh ya, aku ke sini karena diutus ayah kamu." "Kenapa?" Hana padahal mengira bahwa yang akan datang adalah Marco. Namun, mengapa ayahnya menyuruh orang lain? Apa Om Marco menyesal. Dengan keputusannya untuk tinggal bersama? "Nggak papa kan?" tanya June balik. Hana pun mengangguk. Ia kembali berjalan menuju kamar kostnya. Mengangkut barang-barang yang masih tertinggal. June mengikuti Hana lalu ikut membantu kepindahan rumah anak teman serumahnya itu. "Kamu sudah kenaikan kelas 12 ya?" tanya June sok akrab. Hana diam saja sambil berjalan di depan June. June kesal karena gadis di depannya tidak menanggapinya. Namun, ia kembali mencoba mengakrabkan diri. "Kamu punya pacar di sekolah?" "Nggak," balas Hana saat melewati June. "Kenapa? Menurutku kamu sangat cantik," tanya June lagi. "Pasti di sekolah banyak laki-laki yang suka ke kamu kan?" Hana tidak membalas. Ia benar-benar cuek dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut dirinya. June berkacak pinggang setelah menyelesaikan bantuannya. "Ini sudah semua?" tanya June saat seorang pengurus kepindahan itu menutup pintu belakang mobil truk di depannya. "Sudah, Om." Hana menjawab pelan lalu berjalan kembali ke kamar kostnya. Ia akan mengambil tas ransel sekolahnya untuk kemudian ikut masuk ke dalam mobil. Setelah mendapat persetujuan, June pun menyuruh mobil truk itu untuk mulai jalan lebih dulu. "Jalan, Pak!" "Tunggu sebentar, Pak!" Hana berteriak tapi mobil truk itu sudah berlalu pergi. "Om, aku kan belum ikut!" ketus Hana pada June. "Kan jadi ketinggalan!" "Ckckckck ... ngapain juga ikut mobil itu. Mending kamu ikut dengan mobilku. Itu!" Tunjuk June pada mobil sedan di depan mereka. Hana mendesah. "Bukannya lebih aman kalau aku ikut dengan mobil pindahan tadi?" "Yang penting kan sama sana. Sampai ke tujuan. Lagian mobil tadi nggak akan muat. Mah duduk di mana kamu nanti?" Hana tidak membalas. Ia sudah kesal dengan ceramah laki-laki dewasa di sebelahnya. Akhirnya setelah berpamitan dengan Tante Tiani, Hana pun meninggalkan kamar kost itu untuk selamanya. Selamat tinggal, kamarku! Terima kasih sudah menjadi tempat ternyaman bagiku selama ini. Semoga kamu segera menemukan penghuni barumu.[] ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN