Hana duduk diam di dalam mobil milik ayahnya. Sementara laki-laki di sampingnya yang sedang mengemudi terlihat begitu santai mengobrol sendiri.
"Oh ya, jangan sungkan untuk meminta bantuanku jika berada di rumah, oke?"
Kenapa juga aku harus minta bantuan Om? Benar-benar....
June melihat ke sampingnya. Memperhatikan wajah ayu Hana, rambut sebelah kirinya terselip indah di balik telinga hingga June bisa leluasa melihat wajahnya. "Kamu sudah punya pacar?"
Lagi lagi orang ini nanyain soal pacar?
June melihat ke sampingnya lagi saat gadis berambut pendek sebahu itu tidak membalas perkataannya. Mengapa dia sangat cuek? Apa sulitnya sih untuk menjawab pertanyaannya barang sedikit?
Mendesah pasrah akhirnya June lebih memilih untuk diam beberapa saat. Ia mencoba mengerti gadis di sampingnya. Mungkin gadis ini tidak nyaman berbicara lebih jauh karena mereka baru saling mengenal. Ah kalau begitu aku akan menceritakan tentang diriku saja.
"Karena kita tinggal bersama, biar aku kasih tahu sesuatu ya. Nanti kamu tinggal di lantai dua karena kamar kamu di sana. Kamarku dan kamar Marco sendiri ada di lantai dasar, jadi kamu bisa leluasa di lantai atas tanpa gangguan. Sebenarnya sih aku dulu tinggal di lantai atas, tapi aku khawatir bakal ganggu kamu belajar. Kamu sudah kelas tiga kan?" June melirik sekilas dan Hana mengangguk. June pun tersenyum karena itu tandanya gadis di sampingnya itu mendengarkannya.
"Kalau kamu sudah punya pacar, aku harap, kamu mengurangi waktu berkencan kamu. Tenang saja, kalau sudah dewasa dan sudah waktunya masa berkencan akan kamu rasakan sepuasnya." June memikirkan dirinya beberapa tahun terakhir di mana menjadi masanya untuk berkencan dengan para wanita yang tertarik padanya dan menarik hatinya juga.
Hana mengerucutkan bibirnya kesal. Lagi-lagi membahas pacaran. Apa tidak ada topik spesial yang harus diucapkannya lagi selain masalah pacar?
"Kamu tahu, saat Marco bilang kalau dia punya anak selama ini, kukira kamu masih kecil. Ternyata kamu sudah remaja. Berapa usia kamu?"
"17 tahun," balas Hana.
"Pantas saja," kata June sambil tersenyum lebar. "Sebentar lagi kita sampai ke rumah." June kembali menampilkan senyum lebarnya.
Sementara itu, hati Hana bergemuruh tak tentu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti ketika tinggal di rumah ayahnya. Semoga semua baik-baik saja. Semoga aku hanya mendapati ayahku sebagai orang yang baik.
Hana pun mendesah berat. June yang mendengarnya menoleh dan tersenyum tipis. June teringat pada tingkah Marco beberapa hari ini yang lebih sering mendesah seperti Hana.
***
Sesampainya di rumah bercat putih berlantai dua, Hana melihat mobil truk berukuran sedang yang tadi memindahkan barangnya sudah berada di sana dengan pintu belakang yang sudah terbuka.
Saat Hana ke luar dari mobil yang ditumpanginya, Hana melihat orang-orang yang membawa barangnya ke luar dari mobil. Mereka berhenti di dekat laki-laki bernama June dan mengobrol. "Kami sudah selesai memindahkan barangnya, Pak."
"Makasih ya, Pak!" kata June. Ia kemudian mengeluarkan dompet kulit dari saku celananya. Diberikannya dua lembar uang merah sebagai tip kepada keduanya.
"Makasih, Pak." Setelahnya keduanya pun kembali berjalan menuju mobil truk mereka dengan wajah penuh senyuman.
June menatap Hana yang terdiam beberapa saat di tempatnya. "Ayo, Hana! Kita masuk ke rumah."
Hana pun akhirnya kembali berjalan berdampingan dengan June menuju ambang pintu rumah bercat putih yang sudah terbuka.
Saat Hana memasuki rumah, ia merasa tidak nyaman berada di sana. Apalagi rumah ini terlihat cukup mewah. Ia terbiasa tinggal di rumah yang biasa.
"Kenapa?" tanya June saat melihat Hana yang terlihat melamun. "Aku yakin kamu akan senang tinggal di sini. Aku juga betah tinggal di sini."
Hana kembali mendesah berat lalu bertanya. "Om Marco di mana, Om?"
"Om Marco?" June nyaris tertawa. "Hana, dia ayah kamu. Kenapa memanggilnya Om? Kamu juga ... kan sudah kubilang untuk memanggilku June saja."
Hana tidak membalas dan melihat ke arah tangga. Ia mendongak untuk melihat seseorang di sana. Ayahnya, Marco.
"Marc! Itu ayah kamu di sana," kata June sambil melihat ke arah Marco yang sedang menuruni tangga. "Marc, anakmu memanggilmu Om," beritahu June.
Marco tidak membalas dan hanya memperhatikan Hana. "Kamu sudah datang? Ayo ikut saya sebentar ke pantry," ajak Marco pada anaknya. Ia berjalan lebih dulu.
June dan Hana mengikuti masuk pantry.
"Duduk, Han!" ujar June setelah duduk di barstool yang ada di dekat meja pantry.
Hana duduk di samping June sementara matanya memperhatikan ayahnya yang kini sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam lemari es dua pintu yang terlihat canggih.
Marco membalikkan tubuhnya dan memperlihatkan kue yang kemarin dipesannya khusus untuk hari ini. Hari kepindahan Hana ke rumahnya.
"Wah, ada pesta sambutan!" gumam June dengan senyum sumringahnya. Ia menatap kuenya dengan mata berbinar.
Marco menaruh kue di atas meja pantry lalu mengeluarkan dua kaleng bir dan satu botol air dingin. Dua bir untuknya dan June, dan air dingin untuk Hana karena ia sedang diet.
"Marc, keluarkan jus! Mengapa memberikan air putih untuk Hana?" Protes June saat melihat Marco menuangkan air putih ke gelas. "Hana, kamu mau bir?"
Hana menatap kaleng bir yang disodorkan June dengan tatapan ngeri. "Lebih baik aku minum air putih, Om. Bir haram."
June tertawa kesal mendengar kata terakhir Hana. "Ya, terserahlah."
Marco menggeser gelas air putihnya ke hadapan Hana lalu ikut duduk di samping anaknya. Sekarang, Hana duduk di antara dua laki-laki dewasa di rumah itu. "Cobalah!" kata Marco sambil menyerahkan pisau kue pada anaknya.
Hana menerimanya lalu mulai memotong kue. "Apa tidak ada piring untuk bolunya?"
June pun menyahut. "Tidak perlu! Sini biar kumakan lebih dulu." June pun mengambil potongan pertama yang baru Hana potong.
Hana mendesah pelan lalu memotong lagi. Kali ini ia menatap ayahnya. "Om mau?"
Marco diam sejenak lalu mengambilnya. "Makasih, Hana."
"Padahal bolu ini Om yang punya." Hana tersenyum kecut sambil memotong bolu lagi. Saat ia ingin mengambilnya, tak disangka June mengambilnya lebih dulu.
"Makasih, Marco!" June bersuara dengan riangnya. Sementara Hana terlihat menahan kesalnya pada tingkah June.
Setelah acara makan-makan yang lebih seperti acara diam berjamaah, Marco pun mengantarkan Hana ke kamarnya yang berada di lantai dua.[]
***
Hana menutup pintu kamarnya setelah Marco ke luar dari kamarnya. Gadis itu melihat sekelilingnya dan mendesah. "Kenapa harus berwarna pink?" Hana mendengus sambil berjalan menghampiri tempat tidur. Ia pun segera membaringkan tubuhnya di sana.
"Kasurnya empuk!" kata Hana mengomentari kasur yang baru ditidurinya.
Melihat langit-langit kamarnya, Hana menemukan lampu berwarna putih terang. Ia terdiam dan kembali mengingat wajah ibunya. Ma, Om Marco apa orang baik? Tanyanya lebih kepada dirinya sendiri.
Sedang melamun, tiba-tiba ponsel Hana berbunyi. Ada panggilan masuk.
Hana mengeluarkan benda pipih itu dari saku jaket yang dipakainya lalu melihat layar yang sedang menampilkan nama penelepon.
Kayla.
Tanpa basa basi lagi, Hana menyentuh ikon hijau di layar ponsel. Ditaruhnya benda komunikasi itu di telinganya. "Hmm...."
"Hana, sorry! Gue lupa ke kostan lu! Gue baru bangun sekarang. Elo masih ada di kost atau udah dijemput?"
"Gue udah sampai di rumah Om Marco."
"Serius? Gue mau lihat, gue mau lihat. Kita video call, oke?"
Hana merasakan getar di ponselnya dan Kayla benar-benar mengganti mode panggilannya menjadi video call. Hana menerimanya dan mulai memperlihatkan kamarnya dengan kamera belakangnya.
"Wah keren banget kamer ya, lucu," kata Kayla saat melihat kamar Hana yang lebih didominasi warna pink dan putih.
"Ih gue jadi iri deh sama lo! Gue jadi pengen main dan nginep di sana."
"Nginep?" Hana tiba-tiba punya ide bagus. "Gimana kalau lo nginep di sini?"
"Maaauuu," ujar Kayla bersemangat.
Hana tersenyum misterius. Mungkin dengan keberadaan Kayla, ia tidak akan terlalu canggung berada di rumah ini.
***
June dan Marco masih duduk di pantry sambil meminum bir mereka masing-masing.
"Hana sangat mengingatkanku padamu, Marc!" gumam June.
"Dia mirip seperti ibunya," balas Marco kembali mengingat wajah Hana yang mirip sekali dengan ibunya.
"Sifatnya sepertinya menurunimu," balas June yang langsung membuat Marco terdiam. Tapi, memang seperti itu adanya.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya June karena Marco tidak membalasnya. "Saat liburan begini bagaimana jika kamu mengajaknya liburan ke taman hiburan?"
"Apa dia mau?"
"Kamu coba saja agar tahu jawabannya," tandas June.
"Aku coba nanti tanya dulu ke Hana." Marco kemudian mengingat panggilan dari Ringgo, salah satu rekan kerjanya di firma R&M. "Sebentar lagi aku harus pergi."
"Mau ke mana? Hari minggu gini ada janji?" tanya June.
"Ringgo meminta bertemu. Sepertinya akan membahas calon klien penting."
"Dari PT. Emas Pertama itu?" tanya June lagi.
"Hmm ... sepertinya beritanya sudah menyebar di kantor kalau firma kita akan menangani kasus itu. Gimana kasus perdata yang kamu tangani? Kapan sidang selanjutnya?"
"Masih dua minggu lagi," June menjawab santai. "Tinggal sidang putusan."
"Oke. Good luck," kata Marco lalu menepuk punggung June. Ia pun meninggalkan June yang masih berada di pantry. Kembali ke kamarnya.
June duduk sambil terus menghabiskan birnya.[]
***