Makan Siang Bersama June

981 Kata
Pukul 14.00 siang, Hana ke luar dari kamar karena merasa lapar. Ia berjalan menuruni undakan tangga sambil memperhatikan kondisi rumah. Dari tempatnya berdiri, Hana bisa mendengar suara TV yang menyala. Saat mendekati sumber suara, Hana melihat June sedang duduk di sofa. Namun, matanya sedang tertuju pada layar gawainya. Dengan canggung, Hana mendekati June lalu berdehem. "Ehem...." Mendengar deheman di dekatnya, June pun menoleh. Suara asing itu milik penghuni baru di rumah, gadis berusia 17 tahun. "Hai Hana!" June menyapa sebentar lalu kembali melihat gawainya. "Om, Om Marco mana?" tanya Hana sambil celingukan. "Oh, ayah kamu? Ayah kamu pergi tadi, ada urusan dengan orang kantor." June menjauhkan ponselnya dan menatap Hana. "Kamu butuh sesuatu? Bilang saja padaku!" Hana mendesah pelan. Ternyata ayahnya sedang sibuk. Padahal sekarang hari minggu tapi dia tetap memiliki urusan. "Kamu lapar?" tanya June lagi. "Lumayan." June pun tersenyum. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju pantry. Mulailah June menyiapkan bahan masakan setengah jadi yang ada di dalam kulkas. Hana mengikuti June dan memperhatikan laki-laki itu sambil duduk di barstool. "Om mau masak apa?" "Tumis daging asam manis dan telur gulung sosis." Hana memperhatikan June dengan seksama. "Memang Om bisa masak? Mau aku bantu?" Hana akhirnya bangkit berdiri. June tertawa mendengar perkataan Hana yang mempertanyakan apakah ia bisa memasak atau tidak? "Boleh." June menyiapkan wadah stainless untuk mengocok telur dan menaruhnya di meja. "Bisa tolong aku mengocok telur?" Hana pun mengangguk. Ia mengambil telur dan memecahkannya dengan mudah. "Butuh berapa telur, Om?" tanya Hana. Saat ia melihat June, ia takjub dengan keterampilannya menggunakan pisau untuk menyisir sayuran. "Lima telur juga cukup," balas June sambil menoleh sebentar. Ia melihat kaos yang dipakai Hana dan khawatir kaos itu akan kotor. June mencuci tangannya lagi. Lantas mengambil apron di laci dapur. Setelahnya June mendekati Hana kembali untuk memakaikannya apron. Hana menegang di tempatnya saat merasakan posisi tubuhnya dengan laki-laki yang sangat dekat. Hana mendesah saat June akhirnya selesai mengikat tali apron di belakang tubuhnya. "Sudah siap." Hana menatap wajah June dan segera kembali mengocok telur yang berada di dalam wadah. June pun kembali melanjutkan masaknya setelah menyiapkan beberapa bahan. Kompor induksi pun mulai dinyalakan dengan teflon granit yang berada di atasnya. *** Hana memperhatikan June yang sedang memasak dari barstool. Tangannya menumpu dagu dan matanya sibuk melihat kelihaian June yang sedang memasak. Aroma masakan yang hampir matang pun membuat perutnya merasa makin keroncongan. "Hana, kamu biasa masak sendiri saat tinggal sendiri?" tanya June sambil menoleh sejenak. Tangan laki-laki itu masih memegang spatula kayu. "Iya, Om. Kadang aku masak sendiri, kadang juga aku beli. Tergantung." June berdehem. "Aku juga mulai memasak setelah tinggal sendiri. Kurang lebih sejak ... kuliah. Aku kuliah di Jogja, ngontrak dengan tiga teman." Hana mendengarkan. "Kuliah nanti kamu mau mengambil jurusan apa?" "Aku belum kepikiran apapun," balas Hana yang langsung mendapat tatapan serius dari June. "Kalau begitu kamu harus segera memikirkannya. Sebentar lagi kamu lulus SMA." Hana mengangguk. Entah apa yang diinginkannya? June kembali bersuara. "Tapi kalau boleh aku beri saran ... jangan bercita-cita menjadi pengacara, oke?" "Kenapa? Bukannya Om dan Om Marco itu pengacara." "Karena aku sudah tahu bagaimana buruknya seorang pengacara, maka daripada itu aku memberitahumu. Pengacara tidak semulia itu untuk membantu kliennya. Kami memiliki kode etik yang mengikat." Hana tidak mengerti apa yang dikatakan oleh June. Namun, ia memilih untuk mengangguk pendek. Kembali Hana mendengar suara desisisan masakan yang sedang dimasak. "Om kenal dengan Om Marco sudah lama?" June mengangguk sambil terus memasak. Ia samaa sekali tak menatap Hana, lawan bicaranya. "Sudah sangat lama." "Om kenal Mamaku?" tanya Hana lagi. "Aku mengenali Mamamu dari cerita Marco. Beberapa kali kita bertemu juga. Tapi, hanya sekedar kenal." "Oh begitu...." Suara Hana menggantung di udara. "Kenapa? Kamu penasaran tentang pertemuan Mama kamu dan Marco?" Hana menggeleng pelan. Sebenarnya ia lebih pemasaran mengenai alasan kenapa ibunya meninggalkan ayahnya saat sedang hamil. Mengapa ayahnya meninggalkannya? Anehnya saat kembali bertemu ibunya seolah masih mencintai Marco? Mengapa ibunya tidak membenci laki-laki yang sudah meninggalkannya? "Kalau ada hal apapun yang mengganggu pikiranmu, kamu bisa membicarakannya denganku. Setidaknya jika tidak menemukan jawaban, aku akan mendengarkan dengan suka ria." "Om sibuk!" "Ya kadang aku sibuk, kadang sangat santai. Toh kita serumah kan?" Hana tidak mengerti dengan Om June. Mengapa sikap pria tua ini sangat sok akrab? "Sudah siap!" June bersuara sambil mematikan kompor. Ia menaruh semua masakan ke piring keramik yang cukup besar lalu menaruh teflon dan spatula bekas memasak di bak cuci piring. June menyiapkan nasi dari rice cooker dan menaruhnya di wadah nasi. Setelah semuanya siap, June menaruh semua hidangan di depan Hana, di atas meja dapur. Ia pun siap untuk makan bersama gadis SMA itu. *** Memasukkan makanannya perlahan, Hana tidak menyangka jika masakan laki-laki bisa seenak ini. "Enak, Om." "Iya dong. Ini kan hasil keterampilan yang diasah sepanjang waktu." June tersenyum bangga. Ia senang jika ada orang yang memuji masakannya. Setelahnya mereka pun sibuk memakan makanan mereka masing-masing. "Oh ya, habis makan nanti kamu yang nyuci piringnya ya?" "Iya, Om. Biar aku saja," balas Hana sukarela. Ia tentu saja ingin membantu melakukan pekerjaan rumah. Apalagi kan June sudah bersusah payah memasakkan makan siang untuknya. Mereka pun makan dalam diam. Hanya ada suara kecapan mulut yang sibuk mengunyah, serta suara sendok dan piring yang beradu. June tersenyum senang saat melihat Hana makan dengan lahap. Namun, tiba-tiba ia mengingat sesuatu. "Kamu nggak papa makan banyak begini?" "Kenapa emangnya, Om?" "Tadi pagi Marco bilang kamu sedang diet?" "Oh itu...." Hana diam sejenak. Ia tidak bisa mengakui bahwa ia berbohong pada ayahnya. "Aku mulai pindah ke sini berhenti diet kok, Om. Mungkin Om Marco salah paham aja." "Oh begitu...." June pun kembali menyantap makanannya yang belum habis. "Aku tinggal ke kamar dulu ya," kata June setelah makan siangnya habis. Hani yang masih makan pun mengangguk. "Tolong bereskan ya, Hana." Hana pun mengangguk. Ia pun memperhatikan langkah June. Saat pria dewasa itu masuk ke kamarnya, barulah Hana kembali memperhatikan meja makan dan yang berada di sekitarnya.[] *** Bersambung>>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN