Marco pulang ke rumah saat hari sudah petang. Suara azan maghrib dalam perjalanan mengiringinya hingga sampai ke rumah.
Saat baru sampai ke rumah dan memarkirkan mobilnya, Marco melihat mobil SUV milik June tidak berada di tempatnya.
Apa June pergi? Marco bertanya dalam hati. Apa Hana sendirian di rumah?
Marco membawa tas kerjanya sambil ke luar dari dalam mobil sedannya. Ia berjalan menuju pintu rumah yang tertutup dan lantas membukanya setelah membuka segel kunci.
"Om sudah pulang?" tanya Hana saat mereka berpapasan. Hana kelihatannya dari dapur dan akan kembali ke kamarnya.
"Iya. Kamu sudah makan malam?" tanya Marco pada putrinya itu.
Hana terdiam sejenak. "Ehm ... aku masih kenyang, Om. Kalau gitu aku permisi dulu." Setelahnya Hana kembali menaiki undakan tangga.
Marco yang melihat rasa sungkan Hana pun mendesah. Namun, ia tidak mau memikirkan terlalu dalam. Ia akan memberikan waktu untuk Marco.
"Hana!" seru Marco sebelum Hana lebih jauh.
Hana pun berhenti berjalan dan menoleh ke bawah.
"Apa Jun pergi ke luar?" tanya Marco.
"Oh ... iya, Om June tadi pergi. Dia bilang mau bertemu dengan pacarnya, Om."
"Oke," balas Marco. Setelahnya ia melihat Hana kembali berjalan hingga masuk ke dalam kamarnya.
Marco menghubungi June dan lantas bertanya, "Halo, Jun! Kamu mau ketemuan sama Aira?"
"Iya, Marc. Mendadak banget, dia ngajak ketemuan."
"Hmm ... Hana sudah makan belum kira-kira?"
June tertawa di ujung telepon. Ia tidak menyangka di telepon karena Marco ingin bertanya Hana makan atau belum. "Oh tadi siang dia sudah makan bersamaku. Kalau makan malam belum, aku mau makan malam dengan Aira. Kamu coba saja ajak Hana makan malam di luar?"
"Oh ya sudah." Setelahnya Marco mengakhiri panggilan. Bagaimana caranya Marco mengajak Hana makan malam di luar jika saat ditanya saja, Hana bilang masih kenyang.
"Ah sudahlah...." Marco kembali ke kamarnya. Ia akan mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu. Setelahnya barulah ia bertanya pada Hana lagi untuk mengajaknya makan malam bersama.
***
Hana duduk di depan meja belajarnya dengan laptop yang menyala. Ia sedang mengetik sebuah kisah. Tepatnya sejak ibunya meninggal, Hana biasa menulis novel untuk menghilangkan perasaan sedihnya.
Baru beberapa kata, Hana berhenti menarikan jemarinya di papan ketik yang ada di hadapannya. Wajahnya merenung, apa yang harus ia tulis lagi?
Perasaan yang sedang tidak nyaman membuat Hana berhenti mengetik dan melihat ponselnya. Kayla menghubunginya lagi. Bertanya.
Gimana, Han? Udah tanya ke bokap lo. Boleh gak kalo gue nginep di rumah lo?
Hana pun segera membalas.
Sori, Kay. Gue belum nanya. Om Marco baru aja pulang ke rumah. Gue juga ga berani nanya ke dia. Mungkin next time ya, Kay.
Setelahnya Kayla kembali menjawab karena ia sedang online.
Oke. Gue ngerti.
Hana pun mendesah. Ia berharap Kayla tidak marah dengan balasannya.
Saat hendak mencoba mengetik lagi, Hana mendengar pintu kamarnya diketuk beberapa kali. Hana terdiam sejenak dan kembali mendengar suara laki-laki yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri.
"Hanaaa ... boleh saya masuk?" tanya Marco dengan suaranya yang berat.
Hana mendekati pintu kemudian membukakan pintu. "Ada apa, Om?"
Marco melihat Hana bergantian dengan melihat ke dalam kamar. "Kamu sedang belajar?" tanya Marco saat melihat laptop yang sedang menyala di meja belajar.
Hana menggeleng singkat. "Nggak kok, Om. Ada apa?"
"Kamu belum makan malam kan? Gimana kalau kita makan malam di luar?"
Hana bingung. Ia ingin menolak, tapi rasanya segan menolak ajakan ayahnya.
"Tapi kalau kamu sedang sibuk belajar, saya bisa pesan kan makan malam delivery sekarang untuk kita di rumah."
"Nggak usah, Om. Aku nggak lagi belajar kok."
"Jadi kamu mau makan malam di luar dengan saya?"
Hana mengangguk singkat. Marco tersenyum mendapati persetujuan Hana. "Ya sudah, kalau begitu saya tunggu kamu di bawah. Kamu juga mungkin harus siap-siap dulu."
Akhirnya setelah pintu kamar kembali tertutup, Hana pun bersiap. Ia menambahkan vest rajut pada kemeja abu yang dipakainya, dan ia mengganti celana training panjangnya dengan celana panjang bermotif kotak-kotak.
Merias wajahnya sedikit dengan bedak tabur dan liptint, Hana pun siap ke luar. Tak lupa ia membawa totebag berisi dompet dan handphonenya.
***
Marco dan Hana menumpangi mobil sedan dengan kecepatan standar. Jalan raya sedang ramai dan mereka menikmati keramaian kota di dalam mobil. Tanpa ada satu katapun yang mengganggu keduanya. Mereka seolah sibuk dengan pikiran mereka sendiri.
Lokasi rumah makan yang tidak terlalu jauh membuat mereka tidak terlalu lama dalam posisi diam.
Marco mengajak Hana ke rumah makan padang pilihannya. Ia biasa pergi makan di sana. "Nggak masalah kan kalau kita makan di sini?"
Hana mengangguk. "Nggak papa kok, Om. Aku juga suka masakan pandang."
"Baguslah kalau begitu," balas Marco bersuka cita dalam hatinya. Mungkin selera keduanya sama meskipun memiliki wajah yang tidak terlalu sama sebagai ayah dan anak.
***
Setelah perut keduanya kenyang, Marco dan Hana pun ke luar dari rumah makan padang. Mereka kembali masuk ke dalam mobil.
"Kamu mau makan apa lagi, Hana? Mumpung kita masih ada di luar, kita bisa beli sesuatu untuk camilan malam."
"Gimana sama Om June, Om? Apa kita nggak beliin buat Om June?"
"Dia makan malam di luar, kamu nggak perlu khawatir," balas Marco. Hana pun mengangguk paham. "Jadi kamu mau beli apa lagi?"
Hana mengedikkan bahu. Ia masih merasa sungkan jika mengatakan langsung keinginannya. "Kayaknya nggak ada, Om."
Marco mulai menyalakan mesin mobilnya. Karena Hana tidak ingin apapun lagi, ia pun hendak pulang, kembali ke rumah mereka.
"Tunggu sebentar, Om. Kita mampir ke mini market dulu, boleh?" tanya Hana saat dari kejauhan ia melihat plang mini market. Javamart.
Tanpa menjawab, Marco segera membelokkan mobilnya menuju mini market. Setelah mobilnya terparkir sempurna di halaman depan tempat itu, Hana dan Marco pun ke luar dari mobil bersamaan.
Hana baru ingat jika ia belum punya stok pembalut untuk bulan ini. Ia biasa membeli dua bungkus berukuran sedang dan besar.
"Mau beli apa, Hana?" tanya Marco sambil mengikuti putrinya.
Hana mengambil keranjang belanjaan berwarna merah lalu berjalan menelusuri rak yang berada di sana. Marco terus mengikuti hingga akhirnya ia menemukan barang wanita di rak-rak yang ada di depan matanya. "Pembalut?" Marco kehabisan suara.
Tanpa basa basi Hana mengambil dua ukuran yang diinginkannya kemudian memasukkannya ke dalam keranjang. Warna merah muda dan hitam. "Udah, Om."
"Udah?" Marco menatap Hana shock. "Cuma beli pembalut?"
Hana mengangguk. "Aku cuma butuh ini saja, Om."
"Cemilan bagaimana?"
"Hmm ... nanti saja, Om."
Marco tidak setuju. Ia mengambil keranjang belanja yang dibawa Hana lalu berjalan menelusuri rak lagi. Untung saja tidak terlalu banyak orang, Marco tidak perlu merasa malu karena membawa pembalut dalam keranjangnya.
Setelah berada di rak-rak camilan, Marco pun bertanya. "Kamu suka ini?" Marco mengambil wafer dan menunjukkannya pada Hana.
Hana diam saja, dan Marco langsung merasa frustasi.
Oke, lebih baik nggak usah tanya.
Marco mengambil beberapa camilan dan menaruhnya ke dalam keranjang belanjaannya. Saking banyaknya camilan sampai bungkus pembalut yang berada di dalam keranjang sama sekali tak terlihat.
"Sebentar, sepertinya kita butuh keranjang lagi." Marco memberikan keranjang yang sudah penuh pada Hana lalu mengambil keranjang yang lain di depan pintu masuk.
Sebelum memasukkan snack ke dalam keranjang belanjaan, Marco memasukkan berbagai macam minuman kaleng. Ia menguras rak bir yang berada dalam frizer dan memindahkannya ke dalam keranjang yang dipegangnya.
Marco pun selesai. Ia mengambil alih kembali keranjang dipegang Hana lalu berjalan menuju kasir. Sambil menunggu total belanjaannya, Hana hanya diam di dekat Marco.
"Ada lagi yang harus dibeli, Hana? Mumpung kita masih di kasir?" tanya Marco perhatian.
Hana menggeleng pelan. "Nggak ada, Om."
Marco pun kembali memperhatikan kasir dan monitor kalkulator penghitung belanjaannya sekarang.
"Totalnya 760.800, Pak."
What? Nyaris 800.000? Hana ingin berteriak tapi ia tidak melakukannya. Apa ayahnya sangat kaya sampai belanjaan sebanyak ini di mini market? Kenapa tidak sekalian membeli di mall besar saja agar lebih murah sedikit?
"Ayo, Hana! Kita pulang!" ajak Marco setelah selesai melakukan pembayaran menggunakan kartu kreditnya. Marco memegang 4 kantong plastik berukuran besar lalu berjalan menuju pintu depan.
"Tolong bukakan pintunya," pinta Marco pada anaknya.
Hana membukakan pintu untuk ayahnya yang sedang kerepotan dan mereka pun ke luar dari dalam mini market.
***
Bersambung>>>