Tangan yang Menyelinap

989 Kata
Hana belum juga tidur padahal waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Ia masih betah duduk di atas kursi belajar dengan laptop menyala di depannya. Kamarnya sudah dalam keadaan gelap dan hanya lampu belajar saja yang menerangi seisi kamar. Setelah menyelesaikan hobi menulis novelnya, Hana segera mengupload hasil tulisannya langsung pada web aplikasi menulis. Setelahnya Hana mematikan laptopnya. Ia mendesah lega. Hana ke luar dari kamar karena merasa haus setelah mengetik untuk waktu yang cukup lama. Ia berjalan menuruni tangga pelan-pelan. Suasana yang samar membuat Hana berjalan dengan waspada. Itu terpaksa ia lakukan agar tidak perlu menyalakan lampu utama. Saat sampai di lantai dasar, Hana mendengar suara mobil di luar. Mobil siapa ya? Apa mobil Om June? Tanya Hana dalam hati. Ia pun mengabaikannya dan berjalan menuju pantry. Sampai ke pantry, Hana mengambil botol air putih dingin yang berada di pintu. Saat tangannya hendak menutup kulkas yang sedang dibukanya, Hana merasakan tangan seseorang melewati tubuhnya. Tangan laki-laki itu mengambil kaleng bir begitu saja. Hana terkesiap. Saat ia menutup pintu kulkas, Hana melihat June sudah membelakanginya sambil membuka kaleng minumannya. Mendengar suara ceglukan minuman dari laki-laki dewasa di depannya membuat Hana mematung. "Ah leganya," gumam June. Ia duduk di barstool yang samar lalu memperhatikan Hana yang balas menatapnya. "Kamu belum tidur?" "Aku baru mau tidur," balas Hana dan tersadar dari lamunannya. Ia mengambil gelas lalu menuang air putih yang diambilnya dari dalam kulkas ke gelas. Setelahnya Hana pun minum, menandaskannya dan menaruh kembali botol air putih yang dipegangnya ke dalam kulkas. "Om baru pulang?" "Hmm...." "Habis dari mana, Om?" tanya Hana, tapi sebentar saja gadis itu merutuki dirinya sendiri. Ah seharusnya aku tidak perlu bertanya. "Dari kencan sama pacar, lanjut main billiard dengan teman lama, kemudian lanjut lagi clubbing." Hana hanya mendengarkan. Setelahnya ia pun pamit pada June. "Kalau gitu aku ke kamar dulu, Om." June memperhatikan Hana dari kejauhan. Gadis itu naik kembali ke lantai atas. Setelah Hana tak terlihat lagi bayangannya, June pun meninggalkan pantry. Berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan sempoyongan, June pun akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur miliknya. "Ah legaa...." June tersenyum lebar. Ia senang karena menghabiskan waktu bersama pacar, teman, dan kenalannya. Rasanya hidup ini sudah cukup sempurna untuknya. *** Terdengar suara gaduh saat Hana turun dari lantai dua. Saat ia melihat sekitarnya, terlihat ayah dan teman ayahnya itu sedang bergotong royong memindahkan lemari putih yang berada di ruang tengah. "Om, apa perlu aku bantu?" tanya Hana sambil mendekati dua pria dewasa itu. "Nggak, Hana. Kamu makan saja di sana. June sudah memasakkan sarapan untuk kamu." Marco membalas dengan terburu-buru. Ia sedang sibuk sekaligus merasa keberatan. June pun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Marco. Hana yang tidak ingin mengganggu pun berjalan meninggalkan keduanya. Ia menuju meja dan duduk di atas barstool. Di atas meja terhidang nasi goreng dengan ekstra sayur dan telur. Hana mencicipi sedikit dan merasakan enak di lidah. Segera Hana pun menikmati sarapan paginya. Marco dan June masih menggeser lemari hingga akhirnya menemukan tempat yang pas untuk lemari yang baru dibeli oleh Marco. "Oke cukup...." "Astaga, berat sekali. Kenapa tadi tidak sekalian tukang yang bawa masuk sih?" Sungut June sambil membanting badannya di sofa panjang. Marco mengatur napasnya dan tidak mempedulikan keluhan June. Ia pun meninggalkan ruang tengah dan berjalan menuju dapur. Dari jauh Marco melihat Hana sedang memunggunginya. Gadis itu sedang menyantap sarapannya. "Gimana, Hana? Sarapannya enak? Kamu doyan kan?" Hana melihat ayahnya yang kini berdiri di depannya. Laki-laki itu sedang menuang air putih ke dalam gelas yang tadi sudah dipakainya. "Enak, Om. Ini masakan Om June ya?" Marco menandaskan minumannya lalu membalas. "Iya, June satu-satunya chef di rumah ini. Dia yang masak." "Gimana, gimana? Jadi masakan aku kerasa enak kan?" June tiba-tiba berada di belakang Hana. Tubuh mereka sangat dekat dan hanya berjarak sekitar 10 senti. Hana menegang. Ia tidak biasa apalagi tangan June menyentuh kedua pundaknya. Napasnya yang berat dan beraroma mint mengganggu Hana. Tak berlangsung lama akhirnya June kembali menegakkan tubuhnya. Ia duduk di samping Hana dan menyodorkan gelas kosong bekasnya ke Marco. Marco yang paham pun segera menuangkan air dingin ke dalam gelas June. June menerimanya dan meminumnya beberapa kali tegukan hingga habis. Hana mencoba mengabaikan June dan menyantap sarapannya. Sementara itu, Marco berdiam sambil terus memperhatikan Hana, putrinya. "Hana, hari ini saya berangkat ke kantor seperti biasa. Saya biasa berangkat jam setengah 9 pagi dan pulang jam 7 atau 8 malam. Kamu mengerti kan?" Hana pun mengangguk. "Jam kerjaku juga kurang lebih sama," balas June. "karena kita satu kantor." Marco kembali berbicara. "Jadi kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa cari sendiri. Kalau kamu mau makan sesuatu dan tidak ada di dapur, kamu bisa memesan delivery. Sekarang rumah ini adalah rumah kamu. Kamu harus senyaman mungkin di sini." "Iya, Om!" "Satu lagi!" Hana memperhatikan Marco lebih serius. "Tolong panggil saya Ayah atau Papa. Terserah kamu nyamannya seperti apa? Apa bisa?" Wajah Hana yang semula santai berubah menegang. "Kamu bisa memanggil Marco dengan panggilan Papa, Hana." June menyarankan. "Itu lebih baik! Oke?" June menepuk punggung Hana dengan pelan. Hana menoleh menatap June dan tidak mengatakan apapun. Ia tidak berkomentar dan menutup mulutnya rapat-rapat. Marco yang melihat wajah Hana yang datar pun hanya bisa mendesah. Ia sebenarnya tidak ingin memaksa Hana memanggilnya Ayah atau Papa. Ini semua karena ide dari June! s**l! Gerutu Marco. "Ehm kalau kamu jenuh sendirian, kamu juga bisa mengundang teman kamu ke mari. Iya kan, Marc?" tanya June pada sang pemilik rumah. "Oh iya.... Kamu bisa mengundang siapapun ke mari." Marco menambahkan. Hana pun mulai mendongak. "Aku boleh mengajak temanku ke sini?" Marco mengangguk singkat. Hana pun tersenyum cerah. Jadi, ia bisa mengajak Kayla ke rumahnya. "Apa aku juga boleh mengajak temanku menginap?" tanya Hana lebih detail. "Asal bukan teman laki-laki. Iya kan, Marc?" Lagi, June yang menyahut. "Iya, Hana. Benar apa kata June." Hana pun mengangguk. Rencananya mengundang Kayla menginap akan segera terealisasikan. "Ya sudah, kalau begitu saya masuk kamar dulu." Pamit Marco untuk kembali ke kamarnya sendiri. *** Bersambung>>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN