Hana melihat cermin di kamarnya lalu mencoba mengucapkan kata "Papa". Meskipun berat, tapi Hana memutuskan untuk mencoba. Bagaimana pun juga Marco sudah mau memintanya, mungkin lebih baik ia mencoba melakukannya.
Ponsel Hana yang berada di depannya berbunyi. Ia menoleh dan mendapati Kayla sedang meneleponnya.
Tanpa basa basi segera Hana mengangkat panggilan Kayla.
"Halo, Kay. Kamu udah sampai mana?" tanya Hana. Beberapa waktu lalu sejak Om June dan ... Papa Marco berangkat bekerja, ia mengirim pesan pada Kayla dan menyuruhnya datang.
"Aku udah turun dari ojek, Han. Ini aku di luar rumah kamu deh," balas Kayla yang langsung membuat Hana terkesiap.
Hana membawa ponselnya lalu ke luar dari kamar. "Tunggu sebentar, aku turun."
Beberapa saat kemudian, Hana sampai ke luar rumah. Ia melihat Kayla berdiri di dekat jalan raya sebelum memasuki pekarangan rumah Hana.
"Kaylaaa...." panggil Hana kencang.
Mendengar namanya dipanggil, Kayla pun menoleh ke arah sumber suara. Ia melambaikan tangannya ke udara kemudian mendekati Hana. Mereka pun saling menghampiri.
"Syukurlah nggak nyasar," komentar Hana sambil mengajak Kayla berjalan menuju rumah yang baru ditinggalinya.
"Wah rumahnya bagus ya, Han," kata Kayla saat memasuki rumah. Sesampainya di ruang tamu, Kayla menjatuhkan tubuhnya di sofa. "Panas banget tadi di jalan. Ada es nggak?"
"Ada kok. Bentar kuambilin," balas Hana kemudian berlalu menuju dapur. Ia mengambil dua botol minuman ringan berperisa jeruk di kulkas, lalu mengambil snack dari atas lemari di dapur. Untungnya kemarin ayahnya membeli banyak cemilan di mini market, ia jadi bisa leluasa memberikan suguhan pada Kayla.
Kayla menghampiri Hana dan membantunya membawa camilan. "Gila! Banyak banget cemilannya, Han," kata Kayla sambil menutup lemari kembali.
Mereka berjalan bersama dan Hana berhenti di sofa yang berada di ruang tengah. Mereka menonton TV sambil mengobrol dan memakan cemilan.
Seperti biasanya juga Kayla mempunyai topik gosip tentang sekolahnya. "Gue kemarin dikasih tahu Ari, katanya lo juga bakal sekelas sama Si Kembar Naomi Naoki."
"Oh gitu." Hana tahu sedikit tentang cerita si Kembar. Namun, ia sama sekali tidak tertarik dengan kepamoran mereka. Naomi, seorang siswi cantik. Sementara Naoki, seorang siswa tampan dan punya otak encer. Saat kelas 11, Naoki mewakili sekolah dalam lomba pidato berbahasa Inggris dan essay Bahasa Inggris.
"Awas lo ntar suka sama Naoki. Dia kan ganteng banget," Kayla tersenyum lebar.
Hana hanya tersenyum kecut. Ia sudah insecure karena ia anak haram. Meskipun tidak pernah dikatakannya, tapi Hana mencoba sebaik mungkin menghadapi insecure dalam dirinya.
"Oh ya, bokap lo pulang jam berapa, Han?" tanya Kayla saat mereka sudah terlalu lama duduk dan mengobrol bersama. Mereka bahkan sudah berpindah ke lantai dua, duduk di sofa dan menonton TV.
"Katanya sih malam. Sekitar jam tujuh."
"Yah sepi dong kalau gitu. By the way, lo udah ngomong kan kalau gue mau main dan nginep hari ini?"
Sebenarnya Hana belum meminta izin, tapi mendengar pesan ayahnya sebelum bekerja sepertinya jelas sudah jika Hana bisa mengundang Kayla main dan menginap di rumahnya.
"Han, lo udah ngomong kan?"
"Udah kok," bohong Hana begitu saja. "Btw, udah sore nih. Lo mau mandi duluan atau gue duluan?" tanya Hana mengubah topik pembicaraan.
Kayla melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 16.20 sore lalu menjawab. "Gue dulu aja ya?" pintanya.
Hana pun mengangguk.
"Btw, tas gue masih di ruang tamu. Oh ya gue pinjem baju sama celana lo aja ya. Gue nggak bawa ganti, gue cuma bawa dalaman aja."
"Gue ambilin tas elo dulu deh. Masalah baju mah gampang," kata Hana kemudian berjalan menuruni tangga.
Tepat saat mengambil tas Kayla, Hana mendengar suara mobil di luar. Tak berapa lama, laki-laki dewasa itu masuk ke dalam rumah dengan menenteng tas kerjanya.
"Hai, Hana. Aku pulang." June tersenyum ramah pada Hana. Dilihatnya Hana menenteng tas di pundaknya. "Kamu mau ke mana, Hana?"
Hana menggeleng. "Ehm ini tas temanku, Om. Temanku hari ini mau menginap. Nggak papa kan?"
"Oh nggak papa. Kamu santai saja. Aku juga cuma mau ganti baju sebentar kok."
"Om mau pergi lagi?" tanya Hana penasaran.
June mengangguk singkat. "Aku ada acara makan malam dengan klien. Jadi nanti kamu beli makan saja atau masak sendiri ya?"
Hana mengangguk cuek. "Ya udah, Om. Aku ke atas dulu."
June dan Hana pun berpisah. Hana menuju lantai atas dan June menuju kamarnya.
***
"Tadi siapa, Han?" tanya Kayla saat Hana sudah sampai ke lantai atas dan menemuinya.
"Oh tadi, itu teman Om Marco yang tinggal di sini juga."
"Jadi bokap lo tinggal sama cowok lain? Sama temannya? Bokap lo bukan LGBT kan, Han?"
"Apa? Om Marco LGBT?" tanya Hana balik, bingung. "Ya nggak lah."
"Tapi kan bokap lo sampai sekarang masih lajang. Apa jangan-jangan bokap lo punya rasa ke temen cowoknya sampai mereka tinggal bareng?"
"Ih nggak mungkin banget, Kay. Udah deh nggak usah ngomong yang nggak nggak. Yuk ke kamar." Hana dan Kayla pun masuk ke dalam kamar. Mereka kembali mengobrol sambil memilihkan baju untuk Kayla.
"Pakai ini aja, nggak papa ya?" Hana menyerahkan kaos kebesaran miliknya dan celana pendek selutut bermotif kotak-kotak.
"Oke lah nggak papa." Kayla tidak bisa banyak protes. Meskipun pakaian yang dipilihkan Hana terasa aneh tapi apa boleh buat. Sudah untung Hana mau meminjamkannya baju. "Coba deh lo selidiki bokap sama temennya itu. Apa bener mereka normal, atau mereka punya perasaan satu sama lain?"
"Nggak mungkin, Kay. Gue yakin banget. Om Marco sama Om June kalau lagi bareng biasa aja. Nggak ada yang aneh."
Kayla mengedikkan bahunya. "Ya terserah lo. Gue cuma mau ngewanti-wanti lo aja." Kayla pun membuka pintu kamar mandi dan masuk sambil membawa baju ganti.
"Kay, nih handuknya," ujar Hana sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Kayla menerimanya lalu menutup pintu kamar mandi.
Hana pun duduk di kursi belajarnya. Ia menatap kamarnya sambil berpikir. 'Apa ada kemungkinan kalau ayahnya gay? Bagaimana jika hal itu benar? Jadi ayah dan ibunya tidak pernah bersama karena ayahnya yang tidak menyukai wanita, melainkan menyukai sesama jenisnya? Pantas saja Om June bisa tinggal di rumah Papa....'
***
"Itu mobil siapa, Han?" tanya Kayla sambil melihat mobil yang memasuki pekarangan rumah. "Papa kamu atau Om yang tadi?"
Hana yang sedang bermain ponsel pun berjalan menuju balkon di mana Kayla berdiri. Ia melihat ke bawah dan menemukan mobil ayahnya. Papa.... Apa aku harus belajar memanggilnya seperti itu?
"Itu Papa kamu, Han." Kayla bersuara saat melihat ayah Hana ke luar. Kayla pernah melihat foto Marco dan berpapasan dengannya.
"Iya, Kay." Hana diam sejenak saat melihat Marco menoleh ke atas dan menatap Hana dan Kayla. Ia melambaikan tangan sambil tersenyum.
"Selamat malam, Om." sapa Kayla lugas.
Marco mengangguk lalu masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam, Marco menemui Hana dan Kayla yang buru-buru menghampirinya.
"Selamat malam, Om," Kata Kayla sambil tersenyum.
Marco tersenyum balik. "Selamat malam."
"Ehm, Pa...."
Marco melihat Hana dengan pandangan shock karena sang anak gadis memanggilnya Papa.
"Ini Kayla, teman sekolahku. Dia hari mau nginap. Nggak papa, kan?"
Marco tersadar dari keterkejutannya kemudian mengangguk. "Tentu saja. Rumah ini, rumah kamu, Hana. Kamu bebas melakukan apa saja."
"Makasih, Om." Kayla bersuara.
Marco mengangguk. "Oh ya, kalian sudah makan malam?"
"Belum, Pa...."
Marco kembali tersenyum saat mendengar Hana memanggilnya Pa.... "Ya sudah, habis saya ... ehm, maksud Papa, habis Papa mandi dan berganti baju, Papa akan memasak untuk makan malam. Nggak papa kan kalau kalian menunggu sebentar?"
"Papa mau masak?" tanya Hana tidak percaya.
"Iya, Papa bisa masak. Sedikit."
Hana dan Kayla pun diam. Saat Marco pamit meninggalkan keduanya. Hana dan Kayla saling pandang. "Masakan Papa kamu enak nggak biasanya, Han?" tanya Kayla.
"Nggak tahu. Yang aku tahu masakan Om June enak. Kalau masakan Papa ... aku nggak tahu sama sekali. Papa belum pernah masak sama sekali."
"Kita bikin omlet aja yuk. Aku nggak enakan deh kalau bikin bokap lo masak."
"Oke lah." Hana merangkul Kayla dan mereka berjalan bersama menuju dapur.
Hana menyiapkan telur dan sosis dari dalam kulkas lalu menyerahkannya pada Kayla. Kayla sendiri bertugas untuk menaruh bahan masakan ke atas meja.
***
Marco mencium bau masakan saat ia ke luar dari kamar. "Apa Hana dan temannya sudah masak duluan?" tanya Marco dan langsung mendapat jawaban saat melihat kedua gadis itu sedang duduk di barstool dengan tiga piring di atas meja.
"Kayaknya kurang asin nih," kata Kayla sebelum memakan omlet yang sudah matang.
"Kan udah gue bilang kurang garam. Elo malah ngoreng aja langsung," balas Hana pelan. "Ya udah lah. Daripada keasinan."
"Ehm...." Marco berdehem saat sudah dekat dengan meja makan.
Hana dan Kayla yang sejak tadi mengobrol pun menoleh.
"Kalian buat dadar?" tanya Marco retoris. "Mau saya.... ehm, Papa buatkan yang lain atau...."
"Ini aja, Om. Segini juga bakal kenyang kok," balas Kayla.
Hana melirik Kayla lalu mengangguk pelan. "Iya, Pa. Kita makan omlet aja sama nasi. Ayo, Om ... eh, Pa, kita makan bareng."
Marco tersenyum mendengar Hana yang masih kikuk memanggilnya Papa. Ternyata Hana juga sama seperti dirinya, merasa tidak terbiasa dengan panggilan Papa. "Ayo kita makan."
Mereka pun mulai makan bersama. Meskipun rasa omlet yang dimasak Hana dan Kayla kurang asin, tapi menurut Marco itu sudah cukup.
"Masakan kalian enak," kata Marco memuji masakan putrinya.
Kayla tersenyum malu, sedangkan Hana membalas, "Enakan juga masakan Om June."
"June sudah pasti masakannya enak. Dia beberapa kali ikut kursus masak."
Hana tidak menyangka dengan fakta yang baru diungkap ayahnya tentang Om June. Padahal Om June mengaku hanya belajar sendiri.
Hana minum sebentar lalu bertanya, "Pa?"
"Ya?" Marco menoleh menatap Hana. "Kenapa?"
Hana kembali menggeleng. Ia tidak jadi bertanya. Ia khawatir jika pertanyaannya tidak sopan. Tidak mungkin juga kan ayahnya mengakui ketidaknormalannya sebagai penyuka sesama jenis. Benar, Hana memang ingin bertanya bagaimana kedekatan antara Om June dan papanya.
Alis Marco berkerut. Kenapa putrinya tidak jadi bertanya?
"Oh ya, Om. Om punya kaset film nggak?" tanya Kayla pada Marco.
Marco pun segera menjawab. "Ada. Tuh di sana." Marco menunjuk meja TV yang ada di lantai dasar. Ruang tengah dan dapurnya memang menyatu tanpa batas dinding. "Kamu cari saja mau nonton film apa."
"Yes. Asyik! Ntar malam kita bisa nonton, Han." Kayla menyikut Hana dengan penuh semangat.
Hana sendiri hanya diam dengan senyum tipisnya.
***
Setelah makan malam, Hana dan Kayla sudah siap untuk nonton film di lantai atas. Mereka menyiapkan beberapa snack, minuman ringan, dan tentunya bantal ekstra.
Mereka sudah selesai menonton satu film berjudul Iron Man 3 dan berniat mengganti film dengan kaset baru. Kali ini mereka berniat menonton film horor berjudul Mama.
"Hai, lagi ngapain?" tanya June membuat Hana dan Kayla yang sedang sibuk memilih kaset film menoleh sejenak.
"Om June...." panggil Hana tanpa sadar. "Kita lagi milih film, Om."
"Oh milih film. Mau nonton film apa?" tanya June lagi. Ia duduk di sofa dan memperhatikan dua gadis di depannya. Ia baru selesai mandi dan berganti baju hingga akhirnya mendatangi Hana dan temannya yang akan menginap.
"Udah ini aja." Kayla memberikan case kaset pada Hana lalu berdiri.
Hana pun segera membuka case film berjudul Mama lalu memasukkan pada DVD player.
Kayla duduk di sofa yang berbeda dengan June. Sementara Hana mulai duduk di bawah sofa yang June duduki. Ia mengambil remote dan pembukaan film pun dimulai.
June yang ikut menonton merasa aneh. Sepertinya pembukaan film itu sangat familiar. Film apa ya.... June mencoba mengingatnya baik-baik.
Saat June menyadari blue film yang akan ditonton Hana dan temannya. June pun secepat kilat mengambil remote. Namun, semua terlambat.
Hana, Kayla, dan June sudah melihat sesuatu di layar TV di depan mereka. Adegan laki-laki dan perempuan di atas ranjang tanpa memakai pakaian apapun terlihat.
Kayla dan Hana lantas berteriak keras saat melihat film yang menusuk mata mereka. June pun ikut berteriak sebentar sampai akhirnya mematikan TV.
"Aaaa.... Gila! Tadi film porno." Kayla bersuara lantang.
June sendiri segera mengeluarkan DVD dan memasukkannya kembali ke casenya. Ia melihat daftar kotak kaset yang sebenarnya berisi film p***o (koleksi terpendamnya) lalu berdiri kembali. "Sorry, ya." June pun berjalan meninggalkan Hana dan Kayla yang masih shock dengan tayangan v****r yang baru dilihat mereka.
"Ada apa tadi? Kok pada teriak?" tanya Marco saat melihat June turun dari lantai dua.
June menunjukkan dua kaset yang baru disitanya. "Film w*****k kesetel sebentar."
"Film p***o?"
June mengangguk.
Marco berdecak. "Kamu suka nonton film p***o di ruang tengah?"
"Ya nggak lah, Marc. Gue nonton di atas kadang-kadang. Kan kamar gue di atas."
Marco mendesah pelan. Bukannya Marco menyuruh Hana mengambil kaset film di ruang tengah? Kenapa?
"Kayaknya aku lupa beresin dari atas."
Marco menggelengkan kepalanya. "Mereka pasti kaget liat film porno."
June terkekeh. "Iya lah. Mereka sampai teriak keras banget. Ya udah, gue ke kamar dulu, Marc."
Marco pun mengangguk. Ia yang berniat menuju lantai atas karena mendengar teriak Hana dan temannya pun mengurungkan niatnya. Lebih baik aku ke kamar untuk mempelajari berkas masalah.[]
***
Bersambung>>>