Mendengar Desahàn

1252 Kata
Sejak jam 19.00 malam semua orang sudah berkumpul di luar. Marco, June, Hana, dan Aira. Mereka sedang membakar jagung terlebih dahulu. June yang paling jago memasak pun terlihat paling sibuk di antara yang lain. Aira, sang kekasih pun dengan senang hati membantu June membakar jagung. Sementara itu, Hana sedang duduk di atas gazebo. Ia terlihat melihat ke langit malam yang tak terdapat bintang. "Gimana, Sayang?" tanya June sambil menyodorkan jagung yang menurutnya sudah matang sempurna. "Udah matang kan?" "Udah, Jun." "Oke!" June makin terlihat senang. Ia mengangkat jagung yang sudah matang lalu berganti menaruh ikan mentah yang sudah dibumbui ke atas pemanggang. Aira memegang piring berisi jagung bakar itu lalu menaruhnya di atas meja. Ia melihat Marco yang sedang sibuk menata meja dan kursi santai lalu menyapanya. "Hana mana, Mas?" tanyanya. "Tuh lagi di gazebo," balas Marco sambil menatap Hana yang masih duduk santai di gazebo. "Lagi ngelamun." Mendengar perkataan Marco, June pun menoleh. Melihat ke arah Hana sambil mengolesi ikan dengan kecap asin. June tersenyum tipis lalu kembali sibuk memanggang. Ia jadi ingat siang tadi saat memperhatikan Hana terlelap di gazebo. Hana yang cantik dan manis, tapi cuek. Anak gadis sahabatnya sendiri. "Jun, lihat Hana nggak?" tanya Marco sambil berdiri di depan teras. June yang sedang duduk pun menunjuk ke arah dalam gazebo tanpa mengatakan apapun. Ia juga memberi isyarat pada Marco bahwa putrinya saat ini sedang terlelap dengan nyaman di dekatnya. Marco mengangguk lalu kembali ke dalam rumah. Ia membiarkan Hana begitu saja karena melihat June berada di sampingnya. Marco yakin bahwa June akan menjaganya. Setelah Marco pergi, June memperhatikan Hana yang begitu lelap. "Aku yakin kalau di sekolah banyak yang naksir kamu," gumam June sambil tersenyum. Namun, tak ada balasan karena Saat ini Hana sedang tertidur lelap. "Dasar tukang molor! Begini hawa dinginnya malah gampang banget tidur." June pun menjauhi Hana di gazebo lalu berjalan mengitari vila. Ia mencari tempat yang pas untuk memanggang ikan nanti malam. Setelah menemukan tempat yang pas, yang tak lain dekat dengan gazebo, ia pun masuk ke rumah untuk membuat pintu kaca yang berada di ruang tengah. Ia membukanya dan kembali ke gazebo. Hana masih terlelap saat ia kembali setelah berulang kali berputar. "Dingin banget ya...." gumam June setelah beberapa saat. Ia melihat Hana dan dengan susah payah membopongnya ke kamar kosong. Setelah menaruhnya di ranjang, June pun ke luar dari kamar itu. Ia meninggalkan kamar Hana dan pergi menghampiri Aira di kamarnya. Ia akan tidur sebentar bersama Aira untuk mencari kehangatan. "June, sini biar aku gantiin." Marco mendekati June berniat menggantikan tugasnya. June mengangguk dan memberikan kuas masak yang dipegangnya pada Marco. Ia mendekati Aira yang sedang duduk di kursi santai lalu mengecup keningnya. "Enak kan jagungnya?" tanyanya sambil berbisik. Aira tersenyum geli merasakan bisikan di telinganya. "Enak banget." "Mau aku kasih yang lebih enak?" Aira tertawa mendapat godaan dari June. Ia menggoda June dengan tatapannya lalu mengangguk. "Aku nggak sabar untuk itu." June yang gemas pun meraih pinggang Aira dan memberikannya ciuman lembut. Hana tercengang di depannya melihat adegan ciuman yang dilakukan June dan Aira. Ia buru-buru membalik badan lalu memainkan ponselnya. s**l banget mata gue lihat orang kissing. Pikir Hana. *** Akhirnya Marco menyelesaikan memanggang ikan. Kini June kembali menggantikannya sambil dibantu oleh Aira. Mereka mengobrol sambil b******u mesra. Tiba-tiba Marco ke luar dari rumah dan membawa ukulele di tangannya. Ia memetik senarnya hingga semua orang memperhatikan. "Dari mana kamu dapatin?" tanya June saat melihat Marco kembali ke kursi santai. "Nggak tahu nih ada di atas lemari." Jeng jeng! "Papa bisa maininnya?" tanya Hana lalu turun dari gazebo. Ia tertarik pada alat musik itu. "Nggak bisa. Papa kamu minus di nada sama di perempuan! Nanti biar aku yang mainin!" Celetuk June membuat Marco merasa malu bukan main. Marco asal memetik senar dengan kasar lalu menaruhnya di kursi. Ia pun mengambil jagung bakar dan memakannya. Hana mengambil ukulele itu lalu memetik senarnya. Ia mencoba mengingat kunci nada lagu yang pernah dipelajarinya saat pelajaran Seni Kebudayaan saat kelas 10. Marco, June, dan Aira melihat ke arah Hana saat gadis itu terlihat mahir memainkan ukulele. Mereka mendengar nada yang tercipta dari petik-petik senar itu. Sebuah lagu yang sedang hits di aplikasi Tok Tok pun terdengar. Lagu jadul yang disukainya yang mendadak beken kembali melalui aplikasi video singkat itu. "For my first love What I'm dreaming of When I go to bed When I lay my head upon my pillow Don't know what to do My first love Thinks that I'm to young He doesn't even know Wish that I could show him what I'm feeling Cause I'm feeling my first love." Suara Hana yang lembut terdengar begitu sahdu menyanyikan lagu romantis tentang Cinta Pertama. Gadis itu juga mendadak teringat dengan cinta pertamanya. Tepuk tangan dari June terdengar begitu riuh. Laki-laki itu kagum dengan suara dan musik yang dimainkan anak sahabatnya. "Keren kamu, Han." Hana hanya menatap sebentar lalu bangkit berdiri. Ia malu mendengar pujian dari Om June. Ia menaruh kembali ukulele yang tadi sempat dipegangnya lalu berjalan mencari makanan. Mengambil jagung bakar, Hana pun mulai memakannya dengan gigitan besar. Sementara itu, June sudah memegang ukulele dan memainkannya dengan sangat baik. Aira ikut bernyanyi saat sang kekasih memainkan nada lagu milik Bruno Mars. Hana hanya mendengarkan sekaligus memperhatikan sambil memakai jagung bakarnya hingga habis. Setelahnya ia mengambil makanan lain, dan memakannya sampai terasa kenyang. Tepat saat ia selesai makan, Aira dan June selesai memainkan dan menyanyikan lagu bersama. Mereka saling berpandangan dan lantas tersenyum satu sama lain. Melihat kedekatan keduanya membuat Hana tersenyum tipis. Om June dan Mbak Aira memang serasi, pikir Hana. Ia berjalan menuju gazebo lalu bersandar di dinding bambu yang ada di sana. Setelahnya ia hanya fokus memainkan ponselnya. Saat malam makin larut, Marco menghampiri Hana yang masih betah berbaring santai di gazebo. "Han, udah malam. Kamu masuk ke kamar." Hana segera bangkit dari duduknya. "Iya, Pa." Hana melewati Papanya lalu melihat June dan Aira, pacarnya, sedang duduk berdampingan. Mereka terlampau dekat. Saat melihat Hana melewatinya, June duduk agak menjauhi Aira dan berbasa-basi. "Mau ke mana, Han?" "Mau ke kamar, Om." Hana menjawab sambil terus berlalu. Tak suka dengan pemandangan orang pacaran. Akhirnya ia pun masuk ke rumah. Hana membuang hajat terlebih dahulu ke kamar mandi barulah masuk ke dalam kamarnya. Saat ke luar dari kamar mandi, ia melihat June, Aira, dan ayahnya sedang berdiri. Membereskan segala peralatan yang ada di sana. Mengabaikannya, Hana tetap berlalu ke kamar. Ia akan main HP di kamar. [ Kay, lagi apa? ] Hana berbalas pesan dengan teman dekatnya di sekolah. [Gue lagi di kamar nih. Capek, mau tidur. Habis jalan sama Aan nih. ] balas Kayla cepat. [ Oh udah mau istirahat. Oke. ] [ Gue tinggal dulu ya. Bye! ] Setelahnya Hana memutuskan untuk membaca novel online. Ia membaca genre teenlit hingga tak sadar sudah melewati waktu begitu lama. Ia tersadar karena ingin buang air lagi. Ke luar dari kamar mandi, Hana pun berhenti sejenak saat mendengar suara gedubrak di kamar sebelah. Suaranya sangat mengganggu. Setelah suara tabrakan, Hana mendengar suara desahan-desahan terdengar. "June, aaah...." Hana langsung melotot. Astaga apa Mbak Aira lagi berbuat m***m sama Om June? Hana bergidik ngeri lalu berjalan lebih cepat. Ia masuk ke kamarnya dan segera menyetel lagu untuk mengalihkan pikirannya dari desahan itu. [ Gila! Om June sama pacarnya kayaknya lagi ML. Gue kayak denger film p***o langsung nih ] Cerita Hana lewat pesan singkatnya. Tapi tak ada balasan. Hana ingat kalau Kayla memang sudah pamit tidur tadi. Pantas saja tidak ada balasan. Hana pun menaruh ponselnya. Ia mematikan lampu dan memutuskan untuk tidur dengan nyenyak.[] *** bersambung>>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN