Hana duduk di dalam mobil bersama ayahnya. Mobil SUV di depannya, milik June, ditumpangi oleh June dan pacarnya, Aira. Mereka sedang dalam perjalanan menuju vila di puncak. Mereka berbeda mobil karena Aira kemungkinan pulang mendadak. Sudah hal biasa bagi Aira seperti itu dengan pekerjaannya sebagai dokter.
"Kamu lagi ngapain, Han?" tanya Marco sambil menoleh ke samping. Hana terlihat sibuk melihat dan mengetik di ponsel layar sentuhnya.
"Lagi WA sama Opa, Pa."
"Kamu WAan sama Opa kamu siapa?" tanya Marco berhati-hati. Apa Hana berbalas pesan dengan ayahnya? Karena setahunya sudah lama sekali Ayah Wenny meninggal dunia.
"Sama Opa Rehan, Pa." Hana menjawab. Ia memperlihatkan foto Opa Rehan yang baru dikirimnya. Opa Rehan sedang memakai kaca matanya.
Marco melihatnya sebentar dan tersenyum. "Papa baru tahu kalau kamu berbalas pesan dengan Opa Rehan. Sudah berapa lama?"
"Baru kok, Pa. Sejak Papa pulang dari luar kota. Malamnya Opa w******p aku duluan."
Marco mengangguk. Dalam hati, ia berdoa agar Hana dan kedua orang tuanya bisa akur. Setelahnya ia pun ingin mengajaknya bertemu bersama sebagai keluarga.
Selama satu setengah jam, akhirnya mobil dan June memasuki gerbang hitam vila.
Saat mereka ke luar dari mobil, cuaca cerah dan hawa yang sejuk menerpa mereka.
Hana semangat dengan suasana yang ada. Ia melihat sekelilingnya dan tersenyum.
Sementara itu, June dan Marco mengeluarkan bekal makanan mereka dari bagasi mobil. Mereka membawanya ke dalam lalu memakannya dengan lahap. Mereka lapar setelah menempuh perjalanan.
"Hana, mau ke mana?" tanya Marco saat melihat Hana menjauh.
Hana yang baru saja berjalan menjauh pun menoleh. "Aku mau lihat-lihat ke luar, Pa."
"Kamu nggak mau istirahat dulu?" tanya Papa lagi.
Aira yang baru saja hendak istirahat pun merasa terpanggil. "Iya, Han. Kamu memangnya nggak capek perjalanan tadi?"
Hana menggeleng pelan. "Nanti aku istirahat kok. Aku ke luar dulu ya?"
Marco pun mengangguk. Sementara Hana berlalu ke luar, June mengantarkan Aira ke kamar kosong untuk istirahat.
***
Hana berjalan ke luar rumah sambil membawa ponselnya. Ia melihat ke sekitar dan menemukan gazebo di samping rumah. Ia mendekat ke gazebo dan duduk di sana.
Hawa yang sejuk dan dingin membuat Hana merasa ngantuk. Ia pun memutuskan untuk berbaring sambil melihat ke sekitarnya.
Memejamkan matanya sebentar, Hana merasakan kakinya dipegang oleh seseorang.
Mengerjapkan matanya dengan cepat, Hana pun melihat ke arah June yang kini tertawa di dekatnya. June lah yang baru saja memegang kaki Hana.
"Aku kira kamu tidur," gumam June sambil ikut duduk di pinggir gazebo.
Hana menjauhkan kakinya dari June. "Om nggak istirahat sama Mbak Aira?" tanya Hana.
"Aku mau lihat-lihat dulu," kata June. "Kamu sendiri katanya mau lihat-lihat malah molor di sini?"
"Siapa yang molor?" tanya Hana kesal. Ia tidak jadi tidur karena June mengganggunya. "Gini aku meleknya."
June tertawa mendengar jawaban Hana.
"Papa lagi ngapain, Om?" tanya Hana lagi.
"Nggak tahu tuh," balas June sambil mengedikkan bahunya. "Pas aku ke luar dari kamar Aira, Papa kamu udah nggak ada di ruang tamu. Mungkin ke kamar buat istirahat juga."
Hana pun mendesah. "Aku jadi ngantuk deh. Om jangan berisik ya!"
June tertawa kecil mendengar perkataan Hana. Ia melihat gadis itu memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian, June tetap saja diam. Ia melihat ke sekitarnya yang rimbun dengan tumbuhan berwarna hijau sambil menghirup udara yang sejuk.
***
Hana terbangun dari tidurnya dan melihat dirinya di sebuah kamar sendirian.
Loh kok aku di sini? tanya Hana dalam hati. Seingatnya sebelum tidur, ia terlelap di gazebo bersama ... June. Apa Om June yang membawanya ke kamar?
Hana menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin jika Om June yang bersusah payah mengangkatnya ke kamar. Pasti ayahnya yang membawanya ke kamar.
Saat Hana melihat jam di dinding kamar yang ia tempati, Hana kaget bukan main saat mendapati jarum pendek jam yang sudah menunjuk ke angka setengah lima. "Udah sore banget. Ya ampun!"
Beranjak dari tempat tidurnya, Hana pun mendapati tas ransel miliknya di kamar. Ia mengeluarkan baju ganti dan handuk mandinya.
Tepat saat itu, Hana mendengar pintu kamarnya diketuk beberapa kali.
"Hana, kamu masih tidur?" tanya Aira dari luar kamar.
Hana membuka pintunya setelah menaruh baju ganti yang baru diambilnya di atas ranjang. "Kenapa, Mbak Aira? Aku udah bangun kok."
Aira tersenyum canggung. "Kirain masih tidur," kata Aira. "Kamu bisa bantu aku beres-beres gazebo nggak? Nanti malam kita mau bakar ayam dan ikan."
"Oh iya, Mbak. Nanti aku bantuin, tapi aku mau mandi dulu ya."
"Gimana kalau mandinya habis beres-beres aja? June sama papa kamu lagi belanja buat nanti malam."
"Oh Papa sama Om June lagi pergi?" tanya Hana.
Aira mengangguk. "Ya udah, yuk!"
Hana mendesah. Ia tidak bisa menolak Aira untuk membantunya. Mereka memindahkan beberapa bantal ke gazebo. Tak lupa, mereka bergotong royong membawa alat panggang dan kurke luar.
Setelah selesai, Hana pamit pada Aira untuk mandi.
Saat selesai mandi, June dan Marco pulang membawa bahan makanan mentah yang nanti malam akan mereka masak. Mereka membeli jagung, ikan, dan ayam mentah.
June dan Marco ke luar dari mobil lalu memindahkan bahan makanan yang berada di dalam bagasi mobil ke dalam dapur.
"Marc, tolong bukain kulit
"Loh, Ra, kamu udah beresin sendiri?" tanya June saat melihat kursi dan alat panggangan sudah ada di halaman samping yang menuju gazebo.
"Tadi dibantuin Hana."
"Oh sama Hana. Terus mana Hananya?" tanya June lagi.
"Hmm, dia lagi mandi."
June pun mengangguk. Ia kembali ke dapur dan melihat Marco yang masih sibuk menata barang. June siap-siap untuk membersihkan kulit ikan, tapi malah ingin buang air kecil.
"Marc, aku ke kamar mandi dulu. Tolong bersihin kulit jagungnya ya!"
Marco yang memang mah membuka kulit jagung pun bermuka masam. Tanpa disuruh juga kulakukan.
June berlalu menuju kamar mandi dan tidak sengaja melihat Hana yang baru ke luar dari dalam kamar mandi dengan rambut basah.
"Habis mandi, Han?"
"Iya, Om." Hana tidak memperhatikan June dan berlalu begitu saja menuju kamarnya.
Sementara June segera masuk kamar mandi. Pikirannya entah mengapa jadi ke mana melihat seorang gadis dengan rambut basah. Baginya itu, pemandangan yang eksotik. Karena biasanya rambut basah biasa ia lihat ketika selesai bermalam dengan kekasihnya.
June menggelengkan kepalanya. Astaga, June. Kenapa otakku m***m sekali? Berani-beraninya membayangkan anak Marco! Bisa disate kalau aku tahuan mikirin Hana kayak tadi.
***
Bersambung>>>