Rencana Liburan

1321 Kata
Pagi senin terasa berbeda dari biasanya. Hana turun dari lantai atas dan mendapati rumah yang sudah senyap. Hana melihat jam yang sudah menunjuk pukul 08.45 pagi dan berpikir, 'Apa Papa dan Om June udah berangkat kerja ya? Kok sepi banget.' Sesampainya di dapur, Hana melihat pesan yang ditulis Papanya di selembar sticky note berwarna lemon. Papa dan Om June ada urusan penting di kantor. Kita sudah telat dan tidak sempat memasak untuk sarapanmu. Apa kamu nggak papa memasak sendiri? Atau kalau mau, kamu bisa beli bubur ayam di dekat jalan raya. Kamu bisa jalan ke arah kanan jalan lalu menyebrang jalan. Ada spanduk Bubur Ayam Suparman. Ps. Well kalau kamu mau makan bubur ya! Hana selesai membaca pesan papanya dan membuka pintu kulkas di depannya. Ia mengambil botol air mineral lalu meminumnya. Dibawanya ke luar botol yang masih berisi air itu dan menaruhnya di atas meja. "Apa aku coba beli bubur yang Papa kasih tahu ini ya?" tanya Hana pada dirinya sendiri. Hana mulai beranjak setelah beberapa saat menimbang. Sebelumnya ia kembali ke atas untuk memakai cardigan rajut serta membawa dompet dan handphonenya. *** Gadis itu berjalan di trotoar mengikuti petunjuk pesan dari ayahnya. Ia melihat ke sekitarnya dan melihat spanduk yang Papanya maksud. Hana melihat ke arah angkringan dan tidak menyangka akan melihat cowok yang ditemuinya di penjual roti bakar. Sepertinya mereka benar-benar tinggal di lingkungan yang sama hingga sering bertemu secara tidak sengaja. "Bang, pesan bubur ayam satu. Pedes ya, Bang!" ujar Hana pada pedagang bubur ayam. Sang pedagang yang berdiri di depan gerobak dagangannya pun mengangguk. "Dimakan di sini atau dibungkus, Neng?" "Dimakan di sini aja, Bang!" Sang pedagang pun mengangguk. Hana pun melihat ke arah kedai angkringan itu lalu memilih duduk di kursi dan meja yang masih kosong. Ia berpura-pura tidak melihat cowok kemarin sambil memainkan ponselnya. Cowok kemarin pun seolah tidak mengenalinya. Ia sibuk makan bubur ayam. Jantung Hana berdegup kencang. Ia melirik cowok itu beberapa kali. Terlihat cowok itu sedang asyik makan. Seolah tidak menyadari keberadaan Hana sedikit pun. "Ini, Neng. Silakan dimakan!" kata pedagang bubur sambil menaruh mangkok berisi bubur ayam di atas meja di hadapan Hana. "Makasih, Bang." Hana menarik mangkok di depannya mendekat, lalu mengambil sendok makan yang ada di tempat sendok di atas meja. Setelah tangannya sudah memegang sendok, Hana pun mulai menyuap bubur ayam itu ke mulutnya berulang kali. Benar kata ayahnya, bubur ayam ini enak. Saat sedang asyik makan, Hana merasakan cowok itu bangkit berdiri. Ia pun meninggalkan kedai angkringan yang sedang Hana datangi. Hana sedikit kecewa tapi ia tidak melakukan apapun kecuali memakan bubur ayamnya hingga habis. Setelah selesai Hana membayar dan berjalan kembali ke rumah. Apa besok aku ke sini lagi aja? Barangkali aja aku bisa ngelihat cowok itu lagi. Tak Hana pungkiri, ia naksir cowok itu. Mungkin saat ini hanya sekedar naksir. *** Hana bersyukur akhirnya waktu sudah berlalu begitu saja. Ia sudah menunggu malam agar bisa bertemu orang rumah lain. Namun, bukannya pada datang, Ayah malah mengiriminya pesan kalau ia dan Om June akan pulang larut karena harus melakukan makan malam dengan tim. Mendesah pasrah, Hana pun makan malam sendiri. Ia mencari makan di sekitar rumahnya dan menemukan angkringan sate ayam di dekat rumahnya. Memesan satu porsi, Hana pun membawanya pulang untuk disantap di rumah. Setelah perutnya kenyang, Hana pergi ke kamarnya. Ia memutuskan untuk menonton youtube atau sekedar berbalas chat dengan Kayla. Liburan di minggu terakhir, tapi Hana merasa sangat bosan. Kayla sendiri katanya sedang sibuk membantu di warung milik orang tuanya. Ingin bergabung dengan teman-temannya yang lain, Hana merasa kurang cocok jika tidak bersama Kayla. Hana pun pasrah, mungkin liburannya dihabiskan di rumah barunya saja. *** Hari berlalu dan sudah sampai di hari sabtu. Hana senang karena melihat Marco dan June yang baru saja ke luar dari kamar. Setelah beberapa hari yang lalu sangat sibuk hingga berangkat pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. "Papa sama Om June nggak ngantor? Kok tumben masih di rumah jam setengah sembilan?" "Aku berangkat siang!" balas June sambil mengacungkan tangan kirinya. "Papa berangkat jam sepuluh." June mengangguk. "Ayo sini, Han! Sarapan! Aku udah buatin nasi goreng udang." "Udah dari mana, Om?" tanya Hana saat melihat udang yang cukup besar di piring terpisah. "Dikasih klienku. Kemarin aku udah nolak-nolak, tapi dipaksa buat nerima." June bergumam. "Kamu nggak alergi udang kan?" Hana menggeleng pelan. Ia duduk di barstool lalu mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan tiga udang berukuran cukup besar berwarna keorenan. Kelihatannya enak, pikir Hana. Benar saja. Saat nasi dan udah yang kulitnya sudah dibuang itu masuk ke mulutnya, rasanya enaaaaakk sekali. Om June benar-benar pinter masak, pikir Hana. Ia memujinya dalam hati. "Han, kamu bosen nggak di rumah terus?" tanya Om June. Hana menoleh ke samping. Menatap Om June sebentar lalu menggeleng. "Nggak sih, biasa aja." "Oh ya udah," balas June. "Marc, kita nggak usah liburan! Hana betah di rumah kok." Wajah June terlihat jahil. "Emang kita mau liburan?" tanya Hana cepat. Ia menatap June dan ayahnya bergantian. "Iya, itu juga baru niat. Papa mau ngajak kamu ke vila kita di puncak. Kita bermalam di vila, terus pulang pagi minggu." "Bukannya Papa sama Om June ke kantor?" tanya Hana bingung. "Kita kerja sebentar. Paling selesai urusan dah balik lagi sore jam limaan. Kita langsung capcus deh ke puncak." June yang memberi jawaban. "Nanti aku bawa Aira." June melihat pesan singkat di hapenya. "Eh, katanya Aira bisa ikut." "Gimana, Han? Kamu mau ikut ke puncak nggak?" tanya Marco lagi. Pasalnya kalau Hana tidak mau ikut, ia juga tidak ikut. Tidak mungkin kan jika ia ikut ke puncak bersama pasangan June dan Aira. Bisa-bisa dia kesal sendiri karena melihat keduanya sedang bercocok tanam sedangkan ia duduk sendirian seperti orang b**o. "Aku ikut deh, Pa." Bosen juga di rumah, mending ikut liburan ke puncak, pikir Hana. "Papa bawa pacar Papa juga?" tanya Hana berhati-hati. "Hana.... Papa kamu ini bujang lapuk. Dia nggak pernah punya pacar sejak ditinggal ibu kamu." June membalas dengan entengnya. "b******k lo, Jun!" "Loh emang benar kan? Attitude lo ke cewek itu minim! Nggak ada yang betah sama lo lama-lama." "Seterah lah," balas Marco kesal. "Aku mau siap-siap pergi dulu. Han, dihabiskan sarapannya ya?" "Iya, Pa." Hana mengangguk dan menghabiskan sarapannya sambil mengobrol dengan June. "Om, emang benar kalau Papa nggak berhubungan sama perempuan kecuali sama Mamaku?" June menjawab setelah berbalas pesan dengan Aira. "Gimana ya? Kalau dibilang nggak berhubungan ya nggak! Sebenarnya Papa kamu beberapa kali coba berhubungan dengan cewek. Cuma nggak ada yang beres! Selalu putus, atau belum pacaran pun ada yang udah nggak komunikasi lagi. Papa kamu itu selalu mentingin kerjaannya. Jadi banyak cewek yang nggak tahan!" "Om tahu, kenapa Papa sama Mamaku nggak pernah ketemu?" "Setahuku sih Mamamu yang ninggalin Marco. Awal-awal ditinggalin Mamamu, Marco jadi pecandu alkohol. Saat itu aku belum dekat dengan Marco. Kita hanya kenalan, nggak kayak sekarang pokoknya." "Papa bilang sama Om?" "Tentang apa?" tanya June sambil memakan udangnya. "Kenapa Mama ninggalin Papa?" June manatap Hana serius. "Kamu emangnya nggak tahu? Mama kamu nggak pernah ngomong apa-apa?" Hana diam sejenak. Setahunya Mama tidak pernah bicara apapun. Kecuali sebelum meninggal Mama minta maaf karena sudah memisahkannya dengan Marco dan Mama bilang itu sudah jadi keputusannya. June mendesah pelan. "Kalau setahuku dari versi Marco sih, semua ini karena Tante Ambar. Ibunya Marco nggak setuju kalau Marco sama ibu kamu. Intinya terhalang restu orang tua. Sampai akhirnya ibu kamu menghilang dari dunia Marco. Aku nggak tahu bagaimana cerita detailnya. Kita nggak benar tahu apa yang terjadi sebenarnya." "Oh jadi karena Oma aku ya?" Hana sebenarnya sedih, tapi ia sebisa mungkin tidak menunjukkannya. Apa Oma aku juga nggak suka aku seperti nggak suka sama Mama? "Kamu jangan terlalu pikirin ya! Aku kasih tahu ini juga karena kamu berhak tahu yang sebenarnya. Kamu udah gede juga." "Iya, Om. Nggak papa kok. Aku malah senang karena Om udah ngasih tahu aku. Karena belum tentu Papa akan ngasih tahu aku yang sejujurnya." "Ya udah, habiskan sarapannya." Ujar June sambil mengelus rambut Hana dengan lembut.[] *** Bersambung>>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN